Mala menenteng tasnya dengan santai memasuki aula sekolah, ia tersenyum miring melangkah ke ruang kepala sekolah yang sudah ia hafal letaknya walau ia baru pertama kali kesini.
Tokk
Tokk
"Selamat pagi Pak, saya Mala. Orang tua saya sudah menghubungi bapak sebelumnya betul?"
Si kepsek kepala botak itu menoleh dan tersenyum ramah yang Mala tahu betul itu senyuman palsu.
"Oh iya, Mala murid baru pindahan dari Toronto ya? Orang tua kamu sudah menghubungi kemarin. Saya Teddy Kepala sekolah SMA Angkasa Bakti ini, silahkan ikuti saya ke ruang guru ya nanti saya perkenalkan dengan wali kelas kamu"
"Baik pak"
Pak Teddy melangkah mendahului Mala, yang pria itu tidak tahu, Mala meninggalkan sesuatu penting disana dengan sengaja.
"Bu Lily, ini siswi baru yang akan masuk ke kelas ibu"
Wanita muda dengan polesan make up tebal itu menghampiri Mala dan Pak Kepsek.
"Mala ya? Sudah dilengkapi data dirinya?"
Mala menyerahkan dokumen yang ia pegang sedari tadi.
"Oke, ayo ikut ibu ke kelas baru mu. Saya Bu Lily wali kelas kamu"
"Baik bu"
Mala melihat jelas wali kelas barunya melayangkan tatapan menggoda pada kepala sekolah. Menjijikan.
Mala kembali melakukannya. Dengan dalih membuang sampah ia kembali meninggalkan sebuah benda dekat tempat sampah yang ada didalam ruang guru itu. Pergerakannya sangat cepat hingga tak ada yang menyadari.
"Kamu sedikit mencurigakan, udah kelas 12 baru pindah"
Selama perjalanan Mala merasa di interogasi, untungnya ia tidak gugup sama sekali. Hal seperti ini, bukan apa-apa. Beberapa tahun belakangan hidupnya seperti roller coaster.
"Ini kelas kamu, ayo masuk"
Suara riuh kelas itu mereda, Mala bisa melihat orang-orang yang akan menjadi teman sekelasnya ini bukan orang biasa. Kelas ini Mala ketahui adalah kelas favorite, yang masuk kesini adalah anak-anak "berduit" dan berprestasi.
"Anak-anak minta perhatiannya, kalian kedatangan teman baru"
Bisa Mala lihat semua anak menatapnya tajam menelisik dirinya seperti mengulitinya.
"Anak beasiswa atau branded nih?"
Terdengar bisikan-bisikan yang kurang lebih sama.
"Kayaknya kelas atas, Prada tuh gue liat-liat"
Mala tersenyum samar.
"Hello everyone, gue Mala pindahan dari Toronto. Nice to meet you all"
Mala diterima dengan baik dalam kelas tersebut. Semudah ini hanya dengan membawa barang branded.
"Berapa digit gaji ortu lo?"
Mala mengalihkan perhatiannya dari iPhone nya. Dia Rebecca, ketua geng ciwi-ciwi biasalah tiap sekolah keknya ada yang gitu.
Mata Rebecca berkilat kagum menatap iPhone 6 Pink Diamond yang digenggam Mala.
"Ga banyak kok, my privacy sorry"
Rebecca terlihat kesal dan tidak puas dengan jawaban Mala tapi yasudahlah mungkin dia bisa mengoreknya nanti.
"Mau join kita? Penawaran berlaku hanya satu kali"
Mala menatap lama Rebecca beserta antek-anteknya dibelakang, pakaian seragam yang dimodifikasi terbuka, rambut warna-warni, dan make up tebal. Uhh geng si cantik dan kaya ini boleh juga.
KAMU SEDANG MEMBACA
LOVERITY (Short Story)
Romance✨✨ROMANCE✨✨ Cuma kumpulan short story, sometimes Oneshoot. Hope you like it Jangan lupa tinggalin jejak 👍 DILARANG PLAGIAT CERITA MILIK SAYA! CAPEK MIKIR DAN WAKTU! TOLONG HARGAI! TERIMAKASIH
