7. To Me (3)

1.7K 146 12
                                        

"gimana?"

Baru juga menempelkan bokongnya ke kursi, Gavin sudah dicecar pertanyaan dari Fariz.

"Yah gitu deh, udah selesai semua. Ortu resmi pisah, gue resmi merdeka" ujar Gavin malas-malasan membahas mantan orangtuanya.

Fariz menghela nafas "lo tau kan, lo ga sendiri"

Gavin tersenyum kecil tulus "I know, thanks bro. Kafe gimana maaf ya gua ga bisa bantu hari ini"

Fariz mengernyit "lo ga baca chat gue? Hari ini kafe ga gua buka. Cuaca ga bagus tadi juga hujan gede kan, pegawai pada minta libur aja yaudah gw tutup"

Gavin mengangguk "oke deh gapapa, kafe kita kan terkenal. Libur sehari ga akan bangkrut"

Fariz tertawa "Amiin.. semoga buka cabangnya lancar ya bro"

"harus dong, by the way mana yang lain?"

"Masih pada di jalan"

Gavin mengangguk "mumpung cuma lo gue mau ngasih tau, jangan di cepuin ke anak-anak dulu takut ga jadi"

"Apaan?" Tanya Fariz penasaran

"Gue lagi deketin cewek, kali ini serius. Gue belum terlalu lama kenal sih tapi gue rasa I love her"

Fariz tertegun "are you sure? Orangnya gimana?"

"She is kind.. cantik wajah dan hatinya. Kok lo resah si gue suka sama cewek? Lo gak gay kan naksir gue?"

Fariz menggeplak kepala belakang Gavin.

"Amit-amit! Gue tuh khawatir, gue lebih suka lu main-main daripada serius. Gue.. ga mau kejadian itu terulang"

Gavin menghela nafas beratnya "dia cewek yang baik banget Riz, sampe gue sering ngerasa minder. Apa boleh orang kayak gue deket sama orang sebaik dia? Justru gue yang takut bawa pengaruh buruk ke dia"

"Ngeliat tingkah lo beberapa minggu terakhir ini membaik gue jadi yakin tu cewek beneran baik. Gue nawarin lo balapan dan gak pernah lo gubris. Lo semakin membaik setiap harinya"

Ah ya, malam Gavin adalah malam memacu adrenalin dengan mengendarai motor gedenya membelah jalanan demi segepok uang taruhannya. Tapi perlahan-lahan ia kehilangan minat untuk melakukan itu. Ia berusaha sampai kosan sebelum jam 7 malam. Mendengar suara dosen Imunologi dari aplikasi zoom.

Dirinya teknik mesin kenapa belajar Imuno? Tak sengaja belajar tepatnya, si cantik pemilik kamar depan kosnya selalu memutar record zoom pada malam hari untuk belajar. Suaranya kencang sampai Gavin mengira wanita itu meminjam speaker organ tunggal. Hehe ga sekencang itu juga sih, Gavin saja yang berlebihan.

"Woy bro sorry ngaret, biasalah" Roby teman Gavin lainnya datang menyapa seadanya tanpa rasa bersalah karena telat.

"Gimana Vin? Lancar?"

"Iya, mulai hari ini siap-siap hidup gue bergantung sama kalian yaa gue kan sekarang sebatang kara" ujar Gavin dengan nada sedih yang dibuat-buat.

"Tenang ajee lu gue kuliahin ampe S3 gua sanggup kok Vin, don't rich people difficult deh selama ada gue masalah duit aman" balas Roby sombong

"Inggris mu cok cok.. punya duit banyak tidak dipergunakan semestinya. Les bahasa Inggris sana"

*****

Tookk

Tokkk

Pintu terbuka menampilkan wajah manis Skyla dengan piyama lucu bergambar pororo dan pulpen di tangannya.

Gavin gemas tapi sedetik kemudian menampilkan wajah lesu nya.

"Really? Malming loh ini masa tugas muluu" ujarnya sambil manyun. Itu kalo ada Fariz liat mungkin dia bakal muntah dan melongo gak percaya.

LOVERITY (Short Story)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang