"Ma, yah, Gadis berangkat ya"
Saat Gadis baru keluar rumah ia melihat mobil yang tak asing di depan rumahnya, tapi bukan mobil itu yang ia harapkan.
Gadis mengetuk kaca mobil tempat pengemudi berada, saat kaca diturunkan ia langsung menatap aneh.
"Ada perlu apa mas?"
Reza menatap Gadis lama "saya antar ya kerjanya"
"Gak perlu mas, terimakasih. Lagipula kayaknya mama saya udah kasih tau kalau saya menolak untuk melanjutkan perjodohan ini"
Reza tersenyum miring "saya duluan yang bilang untuk lanjut"
Gadis mengernyit "ini bukan game dulu-duluan ya mas. Saya harap mas berhenti menemui saya"
"Woy dis"
Gadis menoleh, begitupun Reza yang melirik kaca spionnya dan melihat mobil putih dibelakangnya.
"saya pergi" pamit Gadis pada Reza dan menuju mobil Chandra.
Reza mencengkeram stirnya keras dan langsung keluar dari mobilnya mengikuti Gadis.
"Kamu pergi sama saya!"
Chandra ikut keluar dari mobilnya.
"Lo siapa bro? Gadis sama gue udah janjian berangkat bareng dari kemaren. Harap mengikuti nomor antrian"
Sialan
Sebagai sesama lelaki Chandra tahu betul bahwa Reza sedang mengumpatinya dalam diam. Namun ia tak peduli.
"Gadis calon istri saya, jadi sebaiknya kamu tidak usah ikut campur"
Gadis hendak menyangkal. Sinting. Apanya yang calon istri. Siapa? Dia?
"Gadis, lo yang pilih ikut gue atau cowok ini" Chandra tak mau ribut-ribut apalagi di depan rumah orang tua Gadis, dan Demi Tuhan mereka masih di komplek perumahan. Ah jangan lupakan mereka harus pergi bekerja yang jaraknya jauh.
Gadis tentu saja memilih Chandra.
"Let her, be a man. Gadis pilih gue, jadi sebaiknya lo biarin kami pergi sebelum Gadis terlambat kerja dan masalah semakin rumit"
Reza akhirnya hanya diam menyaksikan mobil Chandra yang perlahan menghilang.
.
.
.
.
Tak disangka Reza menjemput Gadis pulang, tidak tau saja jam pulang kerja Gadis tak tentu tergantung kesibukan. Termasuk hari ini dimana dia sedang sangat sangat sibuk namun terusik dengan pesan Reza yang menunggunya di lobby.
Reza menunggu sejak pukul 17.00 namun Gadis tak menjawab pesannya dan baru keluar pukul 22.00, sebenarnya pekerjaan eksploitasi macam apa yang dikerjakan wanita itu. Dengar-dengar gajinya memang besar tapi siapa juga yang senang bekerja 14 jam lamanya.
Gadis hanya melewatinya seolah tak kenal membuat Reza kelabakan dan mengejar Gadis. Bisik-bisik dibelakangnya terdengar oleh Reza.
"Eh siapa tuh katanya nungguin bu Gadis dari sore ya"
"Iya ih gila bu Gadis pacarnya hot banget ternyata"
"Bu Gadis idaman para pria bentar lagi nyusul married nih keknya"
Reza hanya tersenyum terus mengejar Gadis sampai mobil wanita itu.
"Gadis, pulang sama saya"
"Saya punya mobil sendiri"
"Lalu kenapa kamu mau ikut sama pria tadi pagi sedangkan sama saya gak"
Gadis sudah pusing sekali, tubuh dan otaknya lelah dan pria ini terus mendebatnya. Ia mencabut kunci mobilnya kesal dan menuju mobil Reza menerima ajakan pria itu yang membuat Reza tersenyum puas.
KAMU SEDANG MEMBACA
LOVERITY (Short Story)
Romans✨✨ROMANCE✨✨ Cuma kumpulan short story, sometimes Oneshoot. Hope you like it Jangan lupa tinggalin jejak 👍 DILARANG PLAGIAT CERITA MILIK SAYA! CAPEK MIKIR DAN WAKTU! TOLONG HARGAI! TERIMAKASIH
