Namanya Brinata. Gadis yang dikenal sempurna. Tapi itu dulu, sebelum orang tuanya dilanda kebangkrutan, bisnis orang tuanya ditipu habis-habisan. Ia sekarang jauh dari kata sempurna. Untungnya sejak masuk ke sekolah ini Brinata sudah membayar uang sekolahnya sampai lulus jadi ia masih bisa bersekolah.
Dia masih orang yang sama. Namun, hidupnya tak sama lagi. Awalnya ia percaya, bagaimana pun sahabat-sahabatnya tak akan peduli dengan statusnya karena mereka bersahabat. Sahabat akan selalu ada ketika suka maupun duka kan? Tapi nyatanya tak begitu. Sahabatnya sekarang justru ikut mencemoohnya.
Brinata sadar keluarganya memang tengah bermasalah ekonomi. Tapi apa harus mereka semua membandingkan seseorang lewat hartanya?
Oh.. dan Brinata baru sadar ini semua adalah karmanya.
Ya... ia sangat sadar sepenuhnya sekarang betapa ia sangat sombong dahulu, menganggap semua temannya lebih rendah dibandingkan dirinya, menganggap dirinya seorang putri yang harus dihormati.
Brinata rasanya ingin tertawa sinis saat melihat bayangan dirinya dahulu, Tuhan saja menganggap semua manusia sama kodratnya. Bisa-bisanya dia dulu begitu, memangnya dia siapa?
Tanpa Brinata sadari, sebuah bola kasti terlempar kearahnya. Menghantam tepat di lengan kanannya, membuatnya sedikit terhempas ke belakang.
"Akh!" ringisnya
"Ups maaf, Bri. Aku sengaja. Heheh..." cengir Jason. Tak lama temannya juga menghampirinya.
"keren.. tepat sasaran" puji Fernan bertepuk tangan. Brinata sudah tahu, ini salah satu taruhan mereka.
Pria-pria itu kemudian pergi meninggalkannya menuju kantin untuk mentraktir Jason karena berhasil menang taruhan. Salah satu pria yang juga teman Jason itu pun ikut pergi. Pria yang sedari tadi membuat Brinata memandangnya, namun pria itu tak sekalinya menengok kearahnya.
Namanya Kenzie, pria baik hati yang juga baru disadarinya. Dulu, Kenzie pernah menyatakan cinta padanya namun ia tolak mentah-mentah. Karena pada saat itu ia pernah melihat Kenzie bermain dengan anak penjual bubur. Brinata langsung ilfeel saat itu juga.
Tapi sekarang ia sadar, betapa dewasa dan sederhananya seorang Kenzie. Sekarang, mungkin Kenzie sudah membencinya dan Brinata bisa memakluminya.
Byurrr
"menu guyuran hari ini, Brinata.... kuah bakso campur air kolam plus ikan-ikannya, tenang kok kuah basonya gak panas. Hahaha..."
Dan neraka dimulai kembali hari ini.
Brinata mengelap sisa-sisa guyuran tadi di taman belakang sekolah yang sepi. Brinata kembali terisak. Tetapi tiba-tiba Kenzie muncul dihadapannya, tanpa sepatah kata pun dia menyodorkan sebuah sarung tangan.
Brinata tak mengambilnya membuat tangan Kenzie menggantung. Kenzie tersenyum kecil.
"kamu selalu menolakku. Dulu ataupun sekarang" Kenzie hendak menarik kembali tangannya sebelum Brinata menahannya.
"ini bukan salah satu taruhan kalian kan?" cicit Brinata ketakutan. Kenzie menghela nafas.
"aku tak pernah sekali pun terlibat taruhan walaupun mereka memaksaku. Aku bersumpah" ujarnya.
Brinata segera mengusap air matanya menggunakan sapu tangan Kenzie tadi setelah mengucapkan kata terima kasih.
"kenapa menangis disini? Harusnya kamu menangis didepan mereka supaya mereka merasa bersalah"
"apa mereka punya rasa bersalah?" tanya Brinata
"tidak. Sama sepertimu dulu" ucapan Kenzie membuat Brinata menunduk dalam.
KAMU SEDANG MEMBACA
LOVERITY (Short Story)
Romance✨✨ROMANCE✨✨ Cuma kumpulan short story, sometimes Oneshoot. Hope you like it Jangan lupa tinggalin jejak 👍 DILARANG PLAGIAT CERITA MILIK SAYA! CAPEK MIKIR DAN WAKTU! TOLONG HARGAI! TERIMAKASIH
