"sering-sering main kesini lagi ya"
Nadine tersenyum sopan "iya bu terimakasih"
Saat hendak keluar dari rumah itu tepat sekali pintu terbuka menampilkan wajah lelah Devino sehabis pulang sekolah. Wajahnya mengeras kala melihat Mala berada di rumahnya. Wanita ini tak ada kapok-kapoknya usai ia ancam hingga tampar. Kini ia mendatangi keluarganya?! Gila pikirnya.
Langsung saja Devino mencengkeram lengan Mala kuat dan menyeretnya keluar menimbulkan pekikan protes dari sang ibu dan adik pria itu.
"Mau lo apa sih? Harus pake cara apa lagi biar lo menjauh dari kehidupan gue! Ga cukup tamparan tadi pagi?!"
"Abang!!" Karlina berteriak kaget
"Abang tampar kak Mala? Jadi pipinya bengkak dan bibirnya robek karena abang?" Karlina menatap abangnya itu tak percaya.
Ibu Devino menarik lengan anaknya itu paksa membuat Devino melepaskan cengkramannya pada lengan Mala memberikan rasa nyeri menjalar ke lengan tersebut setelahnya. Sudah dipastikan akan membiru nanti.
"Ajaran siapa kamu mukul anak perempuan! Adik kamu, ibu juga perempuan, kalo ada yang tampar kamu marah ga!" Ujar sang ibu murka
"Dia pantes dapetin itu, ibu gak tau kan cewek ini bully Lina di sekolah, Lina sakit tuh gara-gara dia!"
"Abang! Emang abang pernah liat langsung kak Mala bully aku? Abang tuh gak tau apa-apa jadi gausah sok jagoan!" Karlina menjerit frustasi.
"Mala gak begitu ibu yakin. Dia dateng kesini bikin adekmu mau keluar kamar, bantu ibu masak, dia baik"
Devino tersenyum sinis "kali ini apa lagi rencana lo? Hancurin aja, main sepuas lo, gue ga peduli" ia kemudian masuk kedalam rumah dan ke kamarnya, menutup pintunya dengan keras.
Mala hanya terdiam. Di mobil sebelum kemari ia sempat berteleponan dengan Sarah meminta saran wanita itu. Biarlah orang salah paham, ini cuma sebentar setelah terungkap orang itu akan menyesal. Tetap tenang.
-------
Nadine berjalan tegap memegang sebuah map menghampiri Denis yang tengah menyeduh kopi hitamnya. Hari ini ia tak sekolah lagi dengan alasan sakit. Nadine tau sakit tak boleh jadi alasan bohong, tapi apa boleh buat ia sudah dua kali alpa, ketiga kali mungkin wali kelasnya akan menghubungi orang tuanya. Tentu bukan orang tua sungguhan. Ia mencantumkan nomor telepon Denis di biodata Mala.
"Lapor ketua" Mala menyapa Denis sambil memberi map yang dibawanya.
Denis mengernyit membuka kertas-kertas yang ada di map tersebut.
"Pertemuan rutin kepala sekolah dengan orang tua siswa pada Sabtu pagi, dilanjut kepala sekolah menemui pemilik yayasan yang merupakan pejabat kota X secara rahasia"
Nadine dengan santai menyeruput kopi buatan Denis yang belum sempat pria itu minum.
"Dapat dari mana lo sumber petunjuk-petunjuk ini?" Tanya Denis pada Nadine
"Ada murid yang juga ngerasa janggal sama sistem sekolahnya yang dirasa terlalu dibebaskan kegiatannya disekolah dan tidak sesuai SOP menjalankan sekolah seperti umumnya. Terus dia cari tahu sendiri dan dapat ini" jelas Nadine mengingat ucapan Karlina
"Aku nemu ini dikamar bang Devino udah lumayan lama, tapi aku gak berani tanya. Mungkin kak Mala butuh"
"Tapi kita gak tau ini bener atau engga. Kalau cuma dugaan anak itu gimana?"
"Makanya kita buktiin. Gue kesini minta bantuan tim buat kerjasama. Karena sekarang hari Jumat seharusnya kepala sekolah bakal menelpon mengingatkan pertemuan besok pagi"
KAMU SEDANG MEMBACA
LOVERITY (Short Story)
Romance✨✨ROMANCE✨✨ Cuma kumpulan short story, sometimes Oneshoot. Hope you like it Jangan lupa tinggalin jejak 👍 DILARANG PLAGIAT CERITA MILIK SAYA! CAPEK MIKIR DAN WAKTU! TOLONG HARGAI! TERIMAKASIH
