Chapter 23| Romantis di Saat Genting

210 20 2
                                        

Peluh keringat seketika membasahi kening Jihoon. Rasa sakit seketika menyerang Jihoon, lantaran ia berusaha menahan beban tubuhnya dengan sebelah tangannya.

Tunggu dulu ...

Apa yang sebenarnya terjadi?

Mengapa Jihoon merintih kesakitan dan ia menahan beban tubuhnya?

Tentu saja tak lain tak bukan karena Jihoon yang ceroboh!

"Hyu...-hyung," lirih Jihoon yang kini telah bersandar pada dada bidang Daniel yang telah duduk di lantai menahan tubuh Jihoon yang bersender pada dirinya, agar pemuda manis itu tak lebih melukai tangannya dan juga membuat kembali resiko pada kedua bayi nya yang belum lahir ke dunia.

Daniel menghela nafasnya panjang, dan sedikit mengomentari Jihoon yang berlari sebelumnya, sebab sudah berulang kali Daniel mengingatkan Jihoon untuk tak berlari seperti hari ini.

"Woojin bisakah kau memanggilkan dokter yang biasanya merawat Jihoon? Ah, dan katakan padanya sepertinya butuh dokter orthopedi untuk memeriksanya, sebab sepertinya tangan istriku terkilir," ujar Daniel ketika mendengar rintihan Jihoon yang sedari tadi memegangi tangannya yang sebelumnya menahan beban tubuhnya ketika ia hendak tergelincir.

Bersyukurlah Jihoon masih memiliki tenaga untuk berkelahinya itu, sehingga otot tangannya masih kuat menahan tubuhnya, yang seharusnya bisa saja perutnya membentur lantai rumah nya, dan tentu nya akan berakibat fatal jika itu terjadi!

"Maaf hyung ... hiks ... aku khawatir, mengapa tanganmu terluka? ... hiks," tanya Jihoon di sela sela isakannya yang kini mengingat alasan dirinya berlari  tak lain karena maniknya melihat tangan Daniel terluka.

Kali ini ia tak dapat berkomentar ataupun memarahi Jihoon semata, ia tahu bahwa istrinya tak jauh berbeda darinya.

Keduanya saling mengkhawatirkan satu sama lain.

"Maafkan aku, aku yang salah padamu," ujar Daniel menurunkan egonya sembari mencium kening Jihoon.

Guanlin dan Jinyoung menghela nafasnya bersamaan ketika menurut mereka kondisi nya sudah mulai terkendali.

Sungguh mereka seperti lupa bernafas ketika secara tak terduga Jihoon yang hampir saja tersandung langsung menahan tubuhnya dengan hanya sebelah tangannya, dan detik itu juga Daniel yang tak memedulikan luka di tangannya segera memeluk Jihoon, serta langsung mendudukkan pemuda itu.

"Aku tak menyangka mereka seromantis itu di saat genting," ujar Jinyoung setengah berbisik pada Guanlin.

"Hng, kau benar, aku sudah banyak melihat adegan romantis mereka, dan sepertinya Jihoon membuat ku tersudut agar cepat mencari kekasih," ujar Guanlin membalas Jinyoung berbisik.

Mendengar ucapan Guanlin tersebut lantas Jinyoung seketika terkekeh dibuat nya, hanya Woojin yang baru saja selesai menghubungi dokter keluarga Daniel tak mengerti apa yang keduanya bicarakan tanpa dirinya.

"Apa yang membuat kalian tertawa? Apakah ada yang lucu di saat Jihoon sedang sakit?"

Seketika Jinyoung, dan Guanlin hening tak mengeluarkan suara sedikit pun. Sungguh perkataan Woojin seakan menampar keduanya.

Woojin memutarkan manik malas, dan setelah nya kembali mendekat pada Daniel dan Jihoon.

Lebih tepat nya Woojin berniat membantu Daniel untuk memindahkan pemuda manis itu menuju sofa yang tak jauh dari sana.

"Biar aku membantu kalian," ujar Woojin yang berancang ancang hendak menggendong Jihoon dari pangkuan Daniel."

"Tidak u—"

Baru saja Daniel hendak menolaknya, lantaran ia merasa Woojin tak perlu melakukannya karena menurutnya Jihoon adalah tanggung jawabnya, hanya saja Woojin dengan cepat membantah semuanya.

"Tangan mu terluka, mana mungkin kau akan menggendongnya, kau tak lihat tangan mu masih ada serpihan beling? Lebih baik kau obati tangan mu, biar Jihoon aku yang mengurusnya," ujar Woojin layaknya ksatria hitam yang tiba tiba saja datang.

Jihoon yang sedari tadi merintih terdiam sedikit terpana dengan ucapan Woojin.

"Apakah telinga ku masih berfungsi sempurna?"

Hanya kata kata itu yang justru terucap dari belah bibir Jihoon.

"Absolutely yes," ujar Woojin pada Jihoon yang menatap ke arah nya.

Tanpa berkata panjang lebar, Woojin segera mengangkat Jihoon dengan sekuat tenaga.

"Woah, ternyata timbangan mu sangat jauh tak seperti dulu," ujar Woojin pada Jihoon.

Pemuda manis itu refleks mengerucutkan bibirnya merajuk pada Woojin yang sama saja memberitahu padanya secara halus bahwa ia gendut dan berat.

"Kau menyebalkan, jika kau merasa berat yasudah turun kan aku, dan biarkan aku jalan sendiri, atau suami ku saja yang menggendongku," ujar Jihoon kesal pada sahabatnya itu.

Woojin tak membalas perkataan Jihoon, melainkan ia tetap fokus pada titik tujuan nya, yang tak lain adalah sofa yang berada tak jauh dari hadapannya.

Kali ini Daniel mengikuti perkataan Woojin yang menurutnya ada benar nya, untuk itu pemuda itu memeriksa tangannya sejenak dan langsung membersihkan tangannya itu.

"Yak, kalian berdua bisakah tak hanya menontonku saja, melainkan membereskan sofa itu?" Keluh Woojin yang tak habis fikir dengan Jinyoung dan Guanlin.

"Ck, kau sih Guan, jadi saja Woojin mengamuk pada kita," ujar Jinyoung dengan seenak jidat nya melimpahkan kesalahannya pada Guanlin.

Guanlin memutarkan maniknya malas. Sungguh jika saja ia tak ingat bahwa Jinyoung adalah sahabatnya, maka sudah di pastikan kepalan tangan Guanlin mendarat pada bibir Jinyoung yang sedari tadi sering kali mengatakan hal hal yang menyudutkan posisi nya.

Setelahnya keduanya bergegas menolong Woojin seperti yang di minta oleh pemuda itu sebelumnya.

"Hah ~~ kalian ini lambat sekali."

———

Hallo everyone !! Hai masih ingat cerita ini kan? Maaf yaa seya sering banget ngga update wattpad sekarang, karena banyak work di luar pf ini yang harus update sekarang, jadi seya harus bener bener sengaja nulis ini sebentar baru bisa lanjutin lagi ...

Gini aja deh, kalau kalian banyak vote dan komen nya seya usahain cepet update deh ✌🏼

Oh iya makasih juga untuk yang kemarin kemarin ini masih comment disini, maaf ngga bisa balas karena entah kenapa komenan kalian kemarin sempat ngga bisa seya klik, makanya ngga bisa di balas 😊🙏🏻

Love,

Seya

A Lie ? Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang