Chapter 2| Pagi yang Manis

463 66 11
                                        

Keesokan paginya, Jihoon telah bangun lebih dulu dari Daniel.

Kepalanya masih sedikit berdenyut, lantaran sebelumnya memang ia tengah mabuk dengan teman temannya, hanya saja Daniel tidak mengetahui hal itu, yang Daniel tahu bahwa Jihoon tengah mabuk, namun tidak keluar dari rumah nya sama sekali.

Jihoon melangkahkan kaki nya menuju dapur dimana pagi ini ia ingin menyiapkan sarapan pagi untuk dirinya dan juga suami nya tentunya.

Dibukanya kulkas guna mengambil beberapa bahan makanan yang ia butuhkan.

Ia ingin membuat sup pereda mabuk terlebih dahulu, setelah itu barulah ia menyiapkan sarapan untuk suami tercintanya, yang dimana belakangan ini ia baru menyadarinya.

"Morning ... Love, mengapa kau sudah bangun dan meninggalkanku sendirian di kamar ?" tanya Daniel yang baru saja bangun sambil memeluk pinggang Jihoon dari belakang dengan kepalanya yang ia rebahkan di pundak Jihoon.

Seulas senyum Jihoon kembangkan begitu saja.

Ia rasa hari ini akan menjadi hari yang menyenangkan, terlebih di mulai pagi ini dengan Daniel yang sibuk bermanja dengan dirinya.

"Hyung ~~ duduklah aku akan menyiapkan sarapan untukmu," ujar Jihoon sedikit membujuk suami nya agar mau duduk menunggu dirinya menyelesaikan masakannya.

Daniel menghela nafasnya pelan. Ia selalu menyukai aroma tubuh Jihoon, namun sayang nya waktu kerja nya belakangan ini membuat dirinya menjadi menghabiskan waktu dengan Jihoon menjadi lebih sedikit.

Kalau saja ia bukan pemimpin perusahaan yang baru saja menggantikan ayahnya, mungkin Daniel akan menolak pekerjaan nya yang terasa bertubi tubi, terlebih bukankah keduanya masih dapat di kategorikan pengantin baru ?

Oh ayolah keduanya baru menikah 2 bulan lalu, dan Jihoon sendiri baru mulai terbuka, bahkan dapat selayak nya seperti suami istri bulan lalu.

Butuh waktu sebulan untuk Jihoon benar benar mau terbuka dengan dirinya, dan tak merasa bahwa keberadaan Daniel bukanlah orang luar untuk Jihoon.

"Baiklah hyung akan duduk ... buat kan makanan yang enak love," ujar Daniel sambil mengecup pucuk rambut Jihoon yang berantakan.

Dengan langkah malas Daniel melangkah kan kaki nya menuju meja makan yang berada di dekat dapur itu, dan mendudukkan tubuhnya dibangku.

Manik Daniel tak lepas dari Jihoon yang sedikit mondar mandir menyiapkan sarapan untuk Daniel.

"Mau aku bantu ?" tanya Daniel yang melihat Jihoon sangat sibuk.

Jihoon tersenyum tipis menatap Daniel, sambil menggelengkan kepalanya pelan seolah mengatakan pada Daniel bahwa ia tak perlu melakukan apapun, hanya perlu duduk untuk menunggunya selesai memasak.

Mau tak mau Daniel menuruti perkataan Jihoon, karena ia tak ingin membuat keributan kecil di awal ia membuka harinya.

Tak butuh waktu lama Jihoon telah selesai merapihkan seluruh masakan yang ia buat dihidangkan di meja makan.

"Sepertinya kau membuat banyak makanan pagi ini Love..," ujar Daniel dengan maniknya berbinar menatap Jihoon.

Jihoon menganggukan kepalanya, dan mulutnya sedikit setengah terbuka mengatakan maaf pada Daniel.

Daniel yang bingung dengan maksud Jihoon, spontan menanyakan pada Jihoon mengenai maksud ucapan maaf nya itu.

Seingat Daniel istrinya itu tak memiliki salah apapun padanya, lalu mengapa istrinya itu membuat pesta makanan untuk nya di pagi hari sebagai ucapan maaf ?

"Maaf karena aku mabuk kemarin hyung ... Mmm ... a..-ak—"

Ucapan Jihoon terpotong karena Daniel langsung menarik Jihoon kedalam pelukannya.

"Gwaenchana ... aku yang salah ... aku tahu kau meminum alkohol itu karena kau lelah menungguku yang tak kunjung pulang, maafkan aku," ujar Daniel sambil mengusap punggung Jihoon.

Jihoon sedikit terisak pelan mendengar jawaban dari suaminya itu.

Memang ucapan Daniel tak sepenuh nya salah, hanya saja Daniel juga tak mengetahui bahwa Jihoon sebenarnya belakangan ini ia kembali bertemu dengan teman temannya, yang belum tentu Daniel sukai, terlebih ia memanfaatkan waktu itu saat ia tahu bahwa Daniel tak akan pulang cepat malam itu.

"Oh ... Love ... maafkan aku ... berhentilah menangis, jangan seperti ini sayang, aku janji setelah proyek ini selesai aku akan pulang lebih cepat, dan dapat memiliki waktu lebih banyak denganmu," ujar Daniel.

Jihoon hanya menganggukan kepalanya.

Jauh dilubuk hatinya ia ingin mengungkapkan pada Daniel apa yang sebenarnya ia lakukan di kala Daniel pulang terlambat, namun entah mengapa setiap ia ingin jujur pada Daniel, ia terlampau merasa bersalah dan Jihoon belum siap jika nantinya Daniel akan marah padanya, atau mungkin yang terparah ia akan ditinggalkan.

Setelah dirasa Jihoon telah tenang, barulah Daniel melonggarkan pelukannya, dan mengecup kedua pipi Jihoon yang memerah setelah menangis sebelumnya.

"Ayo kita makan," ujar Daniel, yang di balas anggukan oleh Jihoon.

Keduanya tampak tenang menikmati sarapan pagi yang di hidangkan oleh Jihoon.

Seluruh masakan yang di hidangkan oleh Jihoon tampak sangat menarik di mata Daniel, untuk itu Daniel menyicipi satu persatu makanan yang dihidangkan di meja makan itu.

"Semua makananmu sangat enak love, beruntung aku memiliki istri sepertimu," ujar Daniel sambil tersenyum manis dan mengacungkan jempol pada Jihoon.

Jihoon yang mendapatkan pujian langsung merasa bangga pada dirinya sendiri, ia selalu menyukai Daniel yang seperti ini, ia akan selalu mengatakan kejujuran dari apa yang ia lakukan baik pendapat yang ia dengar nantinya baik ataupun buruk.

"Hyung jam berapa hari ini kau akan berangkat bekerja ?" tanya Jihoon tiba tiba.

Sejenak Daniel melirik jam di dinding, dan mengatakan pada Jihoon bahwa ia hari ini dapat berangkat lebih siang dari hari hari biasanya.

Kerutan di dahi Jihoon tercetak jelas disana.

"Dahi mu jelek jika seperti ini," ujar Daniel sambil menyentil pelan dahi pelan.

Jihoon terkekeh pelan, dan setelah nya menanyakan pada Daniel alasan ia berangkat sedikit siang.

Dengan cepat Daniel menjelaskan alasan ia akan berangkat siang karena ia ingin menghabiskan waktu dulu dengan Jihoon, toh rapat nya kali ini akan dimulai pada pukul 10.00 AM.

'Ah hyung sweet sekali ternyata, seandainya aku memiliki bayi ... eh ... apa yang kau katakan Jihoon,' Monolog Jihoon dalam benak sambil memukul bibirnya pelan yang hampir membuat Daniel bingung padanya.

...........

TBC

See you next chapter

Leave comment, and vote ..

.
.

Seya

A Lie ? Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang