Chapter 16| Kembali ke Rumah

219 36 8
                                        

Jihoon kini sudah bersiap siap untuk pulang dari rumah sakit. Daniel dengan hati hati membantu istrinya itu.

Pemuda manis itu telah duduk di kursi roda dengan manis.

Awalnya Jihoon menolak menggunakan kursi roda itu, mengatakan bahwa ia sudah jauh lebih baik dari sebelumnya, hanya saja Daniel dengan cepat menolak hal itu. Jika Jihoon tak mau menggunakan kursi roda, maka ia akan mengatakan pada dokter untuk merawat istrinya kembali di rumah sakit, dan tak jadi pulang.

Mendengar hal tersebut, tentu saja Jihoon mengurungkan niat nya itu, dan menurunkan ego nya mengikuti alur Daniel.

Ia sadar Daniel melakukan hal itu pastinya demi kebaikan dirinya, dan juga kedua bayinya.

Jihoon dapat melihat bahwa suaminya bisa di bilang suami siaga untuknya.

"Kau tak lelah merawat ku setiap hari, dan meninggalkan pekerjaan mu di kantor? Aku tahu kau sebenarnya sibuk," lirih Jihoon menatap Daniel.

Daniel sedikit berjongkok menyamankan posisi nya dengan Jihoon yang berada di kursi roda.

"Mengapa aku harus lelah merawatmu? Kau adalah tanggung jawabku, kau seperti sekarang juga ulahku, aku tak akan sibuk jika mengenai dirimu dan calon bayi kembar kita," ujar Daniel lembut sambil mengusap tangan.

Jihoon hanya menganggukan kepalanya, dan memantapkan hatinya untuk memberi tahu Daniel bahwa ia harus mengatakan semuanya pada Daniel, sebelum terlambat. 

"Hyung, terimakasih, karena kau selalu berada di sampingku, walaupun awal pernikahan kita, aku dingin padamu, tetapi kau justru tetap sama dan tak berubah sama sekali padaku," ujar Jihoon sekilas mengenang masa lalu nya.

Daniel hanya tersenyum dan mengusap rambut Jihoon pelan.

"Untungnya aku memang sudah jatuh cinta padamu pada pandangan pertama, jadi aku sudah yakin kau akan berubah, dan membalas cintaku," ujar Daniel penuh percaya diri.

Dengan cepat Daniel meraup bibir merah Jihoon saat sang istri terdian menatap dirinya lekat.

Jihoon tak mengelak, melainkan membalas lumatan kecil Daniel itu.

Setelah beberapa menit baru lah Daniel melepaskan ciuman singkat itu.

Nafas keduanya sedikit tersengal, dan pipi Jihoon memerah sempurna.

Suara kekehan kecil terdengar di telinga Jihoon.

Wajah Daniel yang ada di hadapannya terlihat tampan seperti biasanya.

"Kau menggemaskan," lirih Daniel sambil mengusap pipi Jihoon yang bersemu merah.

Jihoon mengerjapkan maniknya lucu menanggapi perkataan suaminya itu.

Setelah nya Daniel beranjak dari posisinya dan melangkahkan kaki nya ke belakang Jihoon untuk mendorong kursi roda Jihoon.

Hati Jihoon di penuhi rasa suka cita.

***

"Bagaimana? Apa kalian sudah berhasil menemui pemuda itu? Kalian telah membalas dendamku, karena telah membuatku seperti ini?" tanya pemuda itu dengan dirinya yang masih berbaring di ranjang rumah sakit,"

"Maafkan kami bos, saya sudah mencarinya, tetapi terakhir dia berhasil menyerang kami, dan setelah itu ia seakan menghilang, tak ada jejak yang berhasil kami dapatkan," ujar pemuda yang sedang memberikan informasi pada atasannya itu.

Pemuda yang di panggil bos itu tampak menghela nafasnya kasar.

Ia tak pernah menduga, justru perangkap yang ia buat nyatanya malah mencelakakan dirinya sendiri.

Bisa di bilang senjata makan tuan, hal itu lah yang terjadi!

"Lalu bocah yang bersaing denganku, apakah dia sudah keluar dari rumah sakit?"

Pemuda itu menggelengkan kepalanya, dan mengatakan bahwa terakhir ia masih melihat nya di salah satu rawat inap yang ada.

"Berarti dua pemuda lainnya selalu ada disini?"

Kali ini pemuda itu menganggukan kepalanya menjawab pertanyaan bos nya itu.

"Bagus, kalau begitu kalian pengaruhi salah satu mereka agar beralih pada kita, dan kita bisa menjebak bocah itu,"

Sebuah anggukan kepala ia berikan pada pemuda yang memberikan perintah padanya.

'Kau seharusnya tak menjauh dariku Jihoon!' benak pemuda itu dalam benak.

***

Daniel dan Jihoon, kini baru saja sampai di rumah nya.

Dengan telaten Daniel memapah Jihoon, dan menyuruh istrinya itu beristirahat lebih dahulu.

"Hyung, aku bisa sendiri, aku bukan sakit, aku hanya sedang hamil, jadi jangan manjakan aku," ujar Jihoon menolak Daniel yang mengantarnya ke kamar.

Jujur saja ia memang senang di perhatikan seratus persen oleh Daniel, hanya saja mengingat dirinya yang lama di bandingkan saat ini, membuat nya merasa sangat manja dan tak mandiri.

Daniel tak mempermasalahkan keinginan Jihoon. Walaupun mendapatkan penolakan, Daniel tetap setia berdiri di belakang Jihoon guna memastikan apakah Jihoon benar benar aman sampai kamarnya.

Mau tak mau Jihoon tak dapat berkata apa apa, toh apa yang Daniel lakukan memang keinginannya sendiri.

Setelah Jihoon telah sampai di kamarnya, barulah Daniel meninggalkan pemuda manis itu di kamarnya menuju ruang kerjanya, dimana pekerjaannya memang kian menumpuk, dan Daniel telah menyuruh sekretarisnya untuk menaruh berkas nya di rumahnya, lebih tepatnya di ruang kerjanya.

.
.

"Banyak juga ternyata," lirih Daniel pelan saat melihat tumpukan berkas dengan beberapa note ataupun tempelan kecil yang telah di atur oleh sekretarisnya itu.

Perlahan Daniel mulai membaca satu persatu berkas berkas yang ada disana. Ia mulai larut dengan kesibukannya sendiri.

Hingga ...

"Hyung!"

Teriakan Jihoon tiba tiba saja membuyarkan konsentrasi Daniel.

"Astaga! Ada apa dengannya?" Panik Daniel yang langsung berlari menuju kamar Jihoon.

'Seharusnya aku tak meninggalkannya sendiri!' lirih Daniel yang justru menyalahkan dirinya sendiri.

Ada sedikit ketakutan yang Daniel rasakan sebelum langkah kaki nya berada di kamar nya itu.

.........

TBC

See you next chapter

Leave a comment, vote, and gift

.
.

Seya

A Lie ? Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang