Chapter 11| Kabar Mengejutkan

292 49 7
                                        

Daniel tampak menatap sang istri yang masih setia memejam kan maniknya.

Ia belum bangun semenjak dipindahkan ke ruang rawat inap VVIP itu.

"Love, kau tak ingin bangun menatap ku?" tanya Daniel lemah sambil mengusap kening Jihoon lembut.

Sedari tadi Daniel telah menunggu dengan setia di samping ranjang Jihoon. Hati nya seakan berkecamuk, belum lagi orang yang ia suruh untuk mencari dalang yang mencelakai Jihoon pun belum memberi kabar padanya.

"Eungh," sebuah lenguhan pelan terdengar di telinga Daniel.

Daniel dengan cepat menatap kearah istrinya itu.

"Hyu..-hyung," lirih Jihoon terbata bata.

Seulas senyum dari wajah Daniel ia berikan pada Jihoon.

Baru saja Jihoon hendak mendudukkan dirinya, Daniel dengan buru buru menahannya.

"Jangan banyak gerak dulu," ujar Daniel menyuruh Jihoon agar kembali berbaring di ranjang nya. Mau tak mau dengan sedikit terpaksa Jihoon menuruti perkataan suaminya.

"Hyung, bajumu," lirih Jihoon saat mendapati baju Daniel yang belum di ganti, dan masih ada bekas darah yang merupakan darah Jihoon sebelumnya.

"Ah... aku belum sempat mengganti pakaian ku," ujar Daniel.

Untuk beberapa saat Jihoon terdiam. Ia mengeryitkan dahinya. Jujur saja ia tak ingat apa yang terjadi sebelumnya.

Dalam ingatannya hanya sebatas Daniel datang kepadanya kala itu sambil mengusir musuh nya yang sebelumnya mengusik dirinya, dan setelah itu ia tak mengingat nya sama sekali.

Lalu mengapa ada darah?

Apa yang terjadi sebenarnya?

"Apa yang sebenarnya terjadi padaku hyung? Mengapa ada noda darah di pakaian mu, terakhir aku hanya merasakan sakit pada perutku, dan seingatku mereka tak berhasil memukulku atau mer—"

Seketika Jihoon terdiam menghentikan kalimatnya. Ia baru saja tanpa sengaja membicarakan perkataan yang seharusnya tak ia jelaskan kepada Daniel.

"Apa?! Mereka memang menyerangmu ? Maafkan aku datang terlambat, seharusnya aku tak membiarkan mu sendiri," ujar Daniel sedikit emosional dan meninggikan suaranya, hanya saja diakhir pembicaraan justru nada suara Daniel berubah menjadi sendu.

Tunggu ...

Apakah ini benar benar suaminya yang ia kenal?

Mengapa hari ini seperti berbeda?

Hal itulah yang terbesit di pemikiran Jihoon.

"Hyung, jangan menyalahkan dirimu, aku lah yang memintanya seperti itu padamu, bahkan kau datang tepat waktu saat aku membutuhkanmu," ujar Jihoon.

Daniel tak dapat berkata apa apa pada Jihoon.

"Hyung, lalu apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Jihoon yang sangat penasaran dengan hal tersebut.

Daniel mengambil nafasnya dalam dalam, dan menghela nafasnya pelan.

"Jadi, memang benar noda darah ini adalah darahmu sebelumnya," ujar Daniel seakan menjeda kalimat nya.

Pemuda manis itu tampak mengerutkan keningnya bingung.

Apa maksudnya?

"Aku terluka? Benarkah? Bukankah aku hanya sempat sakit perut, dan aneh nya itu terasa sangat sakit."

Sang suami menganggukan kepalanya mendengar pernyataan Jihoon.

"Untung nya mereka di selamatkan tepat waktu, jadi tidak ada yang harus kau fikirkan lagi Love," lirih Daniel sambil mengusap tangan Jihoon lembut.

"Mereka? maksud hyung siapa?" tanya Jihoon dengan bingung.

Ia tak tahu sama sekali mengenai kehadiran calon buah hati yang kini telah berada di dalam kandungannya.

Seulas senyum Daniel berikan pada Jihoon. Tangan Daniel yang bebas tak menggenggam tangan Jihoon langsung mengusap perut Jihoon pelan.

"Mereka Love, anak anak kita, mereka berada disini saat ini," ujar Daniel.

Sontak Jihoon terdiam, butuh waktu ia mencerna seluruh perkataan Daniel yang menurutnya sangat mengejutkan dirinya.

"Mak...-maksudmu aku ha..-hamil?" tanya Jihoon demi memastikan apa yang telah dikatakan oleh Daniel sebelumnya.

Dengan cepat Daniel menganggukan kepalanya.

Astaga!

Jihoon membulatkan maniknya sempurna. Disatu sisi ia senang, tetapi di sisi lainnya justru ia belum mengharapkan hal seperti ini.

Ia butuh waktu untuk benar benar menjadi istri Daniel seutuhnya.

Lalu bagaimana dengan aktivitas nya yang selama ini disembunyikan dari Daniel? Sudah pasti bukan Daniel tak akan memperbolehkannya balapan motor dan hal hal yang selama ini ia lakukan dengan anggota nya?

Jihoon menegukkan salivanya kasar.

"Lalu maksudmu mereka? Maksudmu aku dan anak ini?" tanya Jihoon yang masih terus mencerna, sambil mencari jalan keluar hal yang sedari tadi mulai bermunculan di kepalanya layaknya sebuah tanda tanya besar.

"Kita akan memiliki bayi kembar, untuk itu kau harus lebih berhati hati, agar kondisimu tidak seperti hari ini Love," ujar Daniel sambil mengusap rambut Jihoon penuh kasih sayang.

Lagi dan lagi Jihoon di kejutkan dengan seluruh perkataan suaminya itu.

Bagaimana bisa?

'Apa yang harus kulakukan? Aku tak mungkin diam saja saat Woojin saja sudah seperti ini, jika aku melepaskan nya begitu saja, maka aku tak pantas menjadi sebuah pemimpin,' Monolog Jihoon berkecamuk dalam hatinya.

Daniel mengerutkan dahinya bingung mendapati sang istri yang justru tak tampak terlihat senang, dan justru cenderung panik, dan terkesan bingung.

"Kau tak mengharapkan kehadiran bayi kita?" tanya Daniel tiba tiba.

Jihoon terdiam. Lagi lagi ia tak dapat berkata apa apa, karena bagaiamanapun ia tak dapat menyanggah sepenuhnya perkataan Daniel.

Ada terselip rasa kekecawaan yang Daniel rasakan saat mendapati Jihoon yang tak terlalu senang akan kehadiran kedua buah hatinya itu.

"Love, kau benar benar tak menginginkan mereka?" tanya Daniel kembali pada Jihoon.

Jihoon tak menjawab, hanya saja setelah nya manik Jihoon tampak berkaca kaca.

"A..-aku belum siap hyung, kita baru dua bulan menikah, aku belum sanggup menjadi orang tua, bagaimana jika sikap ku belum sepantasnya menjadi orang tua?" lirih Jihoon pada akhirnya.

Mendengar pernyataan Jihoon yang terdengar masuk akal untuk Daniel. Akhirnya Daniel hanya dapat menghela nafasnya pelan, dan menatap lekat Jihoon.

"Aku yakin kau bisa, dan seandainya tak bisa pun tak masalah, aku akan membantumu love, jadi hal itu tak usah kau cemaskan," ujar Daniel lembut penuh pengertian.

'Ah ... kufikir kau tak menginginkan mereka,'

'Maafkan aku hyung, aku harus bagaimana?'

.......

TBC

Berhubung voting yang kemarin seya tanyakan di conv sebelumnya banyak yang memilih "A Lie?", maka cerita ini akan seya lanjutkan sampai tamat lebih dahulu di banding lima cerita yang sebelumnya seya sempat list 😊.

Jangan lupa tinggalkan jejak yaa ...

See you next chapter

Leave a comment and vote

.
.

Seya

A Lie ? Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang