Sebuah senyuman kini terpatri jelas di wajah Jihoon.
Pemuda manis itu tampak menyunggingkan senyuman nya dan beberapa kali menatap wajah Daniel yang berada diatas nya, sebab Jihoon di bawa oleh Daniel dengan menggunakan kursi roda nya.
"Segitu senang nya kah Love menemui Woojin?"
Dengan cepat Jihoon menganggukan kepalanya polos.
'Astaga dia imut sekali menganggukan kepalanya seperti itu,' benak Daniel dalam hati.
"Seperti nya aku sekarang seperti memiliki pesaing," lirih Daniel berpura pura kesal mendengar jawaban Jihoon.
"Ah ... bukan begitu hyung, Woojin sudah seperti saudara ku sendiri, sedangkan kau suamiku dan calon ayah dari anak anakku," lirih Jihoon sambil mencoba mengusap tangan Daniel yang memegang pegangan kursi roda nya itu.
Hening tak ada jawaban dari Daniel.
Jihoon menjadi merasa tak enak dengan Daniel. Sungguh ia tak bermaksud demikian sedikit pun. Baginya Daniel dan juga Woojin memiliki arti masing masing untuknya.
Melihat wajah istrinya yang mulai sedikit merasa bersalah dan panik tentu saja Daniel tak akan membiarkan hal tersebut.
Sebuah kekehan kecil semakin lama semakin terdengar di telinga Jihoon.
"Sorry Love, i am just kidding, aku tahu pastinya aku memiliki space tersendiri di dalam hatimu," kekeh Daniel cukup keras.
Seketika Jihoon terdiam sesaat, berusaha mencerna apa yang sebenarnya terjadi.
Jadi Daniel mengerjai dirinya?
"Yak hyung! Mengapa kau membuatku panik saja!" pekik Jihoon keras sambil melipatkan tangannya di dada dan mengerucutkan bibirnya.
"Karena aku hanya ingin tahu bagaimana responmu," ujar Daniel sambil mengecup rambut Jihoon.
Baru saja Daniel hendak melangkahkan kaki nya lebih jauh, lebih tepatnya dua pintu kamar Woojin, manik Jihoon mendapati Jinyoung, dan juga Guanlin yang baru saja keluar dari kamar tersebut.
Dengan cepat Jihoon berusaha memalingkan wajah nya kearah Daniel, agar Jinyoung maupun Guanlin tak melihatnya.
Sungguh ia merasa malu di hadapan kedua pemuda itu jika ia berlaku lemah seperti itu, terlebih mereka menyadari Jihoon adalah pemuda yang kuat, suka berkelahi, dan suka balapan liar.
"Ada apa?" tanya Daniel bingung dengan tingkah Jihoon yang tiba tiba saja berubah.
Bukankah tadi ia enggan melihat wajah nya? Lalu mengapa kini malah menatapnya.
'Ah... apakah ini salah satu efek dari kehamilan Jihoon?' benak Daniel, tetapi berusaha menyesuaikan dan tidak memojokkan hal yang membuat nya tersinggung sedikit pun.
Jihoon hanya menggeleng kan kepalanya dan tersenyum tipis pada Daniel.
"Aku ingin tahu reaksimu," ujar Jihoon pada Daniel.
"Dasar, jadi kau ingin membalas ku tadi?" kekeh Daniel sambil mengusap rambut Jihoon.
Jihoon menganggukan kepalanya, dan ikut terkekeh pada Daniel.
Sesaat Jinyoung dan Guanlin yang melangkahkan kaki nya berlawanan dari posisi Jihoon, sejenak menghentikan langkah nya saat mendengar suara yang samar samar mereka dengar tampak familiar.
"Guanlin-ah, bukankah tawa pemuda itu mirip Jihoon," bisik Jinyoung di telinga Guanlin.
"Tak mungkin itu Jihoon, lihat saja buktinya ia menggunakan kursi roda bersama seorang lelaki," ujar Guanlin mengelak.
"Ah ... benar juga, mungkin aku salah dengar," balas Jinyoung di sertai anggukan kepalanya.
Berbeda dengan Jinyoung yang langsung percaya bahwa itu bukanlah Jihoon dan langsung mengalihkan pandangannya kembali ke depan, Guanlin justru masih menatap pemuda itu.
Jujur saja sama hal nya dengan Jinyoung, ia mencurigai pemuda manis itu, terlebih ia tahu bahwa Jihoon sempat dikatakan masuk rumah sakit, dan juga memiliki suami.
Jadi bukankah bisa jadi pemuda yang dilihatnya itu adalah Jihoon?
"Yak! Guanlin-ah, let's go!" pekik Jinyoung.
Jihoon yang sedari tadi berusaha menajamkan telinganya mendengar langkah Guanlin dan Jinyoung menjauh, ia sebisa mungkin masih menghadap kan wajah nya ke arah Daniel tanpa dicurigai suaminya tentunya.
Setelah merasa bahwa langkah kaki temannya semakin menjauh, barulah Jihoon menghadapkan wajahnya kembali ke depan.
"Ini kamarnya," lirih Daniel pada Jihoon.
Jihoon menganggukan kepalanya, dan masuk ke dalam ruang rawat inap Woojin.
Ceklek
"Woojin-ah!" pekik Jihoon pada Woojin yang tengah menatap dirinya.
Woojin tampak tersenyum mendapati sahabat nya itu.
"Kemari," lirih Woojin menyuruhnya mendekat pada nya.
"Ayo hyung dorong lebih cepat kesana," ujar Jihoon terlampau excited.
Daniel hanya menggelengkan kepalanya dan terkekeh pelan. Ia tak tahu jika hanya bertemu dengan Woojin, Jihoon dapat se-excited itu.
"Woojin-ah, mengapa aku seperti harus berlapang dada setiap kali istri ku seperti ini," lirih Daniel pada Woojin.
Seolah tak mendengar ucapan suaminya, ia justru mengalihkan pandangannya pada Woojin dengan tatapan bersinar.
"Woojin-ah kau sudah baik baik saja, apa kau masih sakit? atau ada kah yang perlu ku—"
"Yak! Bisakah kau menjeda kalimatmu?" ujar Woojin sambil memegang bibir Jihoon dengan tangannya.
Dengan cepat Daniel memukul pelan tangan Woojin yang memegangi bibir istrinya itu.
"Ah, maaf hyung, habis salah istrimu sih hyung," ujar Woojin berusaha membela diri, sedangkan Jihoon tentu saja langsung mengelak dan ikut membela dirinya sendiri.
Melihat tingkah keduanya tentu saja membuat Daniel tertawa di buat nya. Sungguh ia baru pertama kali melihat sisi Jihoon yang seperti ini saat bersama sahabatnya.
"Baiklah, kurasa kalian akan memiliki obrolan sendiri, lebih baik aku keluar menunggu mu diluar, ingat waktu dari ku ini bukan waktu agar kau dapat berpaling dariku ya love," ujar Daniel disertai candaannya.
Seketika wajah Jihoon bersemu merah.
"Terimakasih hyung, kau tenang saja hyung, aku tak mungkin beralih darimu, sebab kau jauh lebih tampan darinya di mataku, dan juga kau memiliki dua penjaga disini," ujar Jihoon menatap Daniel, sembari mengusap perutnya yang belum membuncit.
Daniel tersenyum puas dan mencium kening Jihoon penuh kasih sayang.
"Jaga istriku," ujar Daniel berpamitan keluar pada Woojin, yang di balas dengan anggukan kepala pelan.
Jihoon dengan seksama menatap punggung Daniel yang akan keluar dari ruangan itu, sedangkan Woojin justru menatap Jihoon dengan diakhiri menatap perut pemuda manis itu.
'Ah ... jadi Daniel hyung tak berbohong atas kehamilan Jihoon, dan itu berarti hyung juga dengan secara khusus memberitahu padaku kondisi kandungan Jihoon yang sebenarnya lemah, Jihoon-ah kau jangan terlalu memikirkanku, tapi pikirkanlah kondisimu sendiri,' benak Woojin dalam hati.
........
TBC
See you next chapter
Leave a comment, and vote
.
.
Seya
