Daniel kini tampak resah, bajunya yang terkena darah Jihoon sebelumnya tampak ia abaikan.
Yang terpenting untuknya adalah kondisi istrinya saat ini.
Hanya itu!
Berkali kali ia mondar mandir di tempat nya dan memijat dahinya itu, hingga ....
Seseorang dengan kemeja yang di lapisi dengan jas putihnya tampak keluar dari IGD dimana Jihoon sebelumnya di tangani.
"Apakah anda wali-nya?" tanya dokter itu pada Daniel.
Dengan cepat Daniel menganggukan kepalanya, dan mengiyakan ucapan dokter tersebut.
"Bagaimana keadaan istriku?" tanya Daniel dengan tatapannya lekat mengarah pada dokter tersebut.
"Ada berita baik, dan buruk yang harus saya katakan pada anda," ujar dokter tersebut dengan tenang.
Daniel meneguk saliva nya kasar, dan dengan di penuhi rasa sesak, Daniel meminta sang dokter untuk memberitahu kabar baik nya terlebih dahulu.
Jujur saja ia belum siap mendengar kabar buruk menyangkut sang istri.
"Ketiga nya sekarang dalam kondisi stabil,"
Tunggu ...
Tiga ?!
Seketika manik Daniel membulat sempurna.
Apa maksudnya tiga?
Bukankah Jihoon hanya sendiri, Atau ...
"Apa istriku hamil?" tanya Daniel pada akhirnya, karena tak ingin menebak, tetapi menginginkan kepastian.
Dokter tersebut menganggukan kepalanya, di timpali dengan menyebutkan bahwa Jihoon sedang mengandung anak kembar.
Cairan bening tiba tiba saja membasahi pipinya.
Ia tak tahu bahwa Jihoon tengah mengandung anaknya. Ia tak pernah menyangka, sebab selama dua bulan pernikahan, hanya satu bulan setelah pernikahan mereka resmi lah Jihoon baru mau membuka diri dan menjadi sepasang suami istri sungguhan.
"Lalu, bagaimana maksud perkataan mu mengenai berita buruk?" tanya Daniel kembali, tak dapat senang begitu saja.
"Salah satu janin istrimu sempat dalam keadaan kritis walaupun saat ini telah kembali membaik, tetapi saya tak dapat memprediksi nya apakah janin tersebut benar benar akan stabil seperti saat ini dan dapat di pertahankan atau sebaliknya, kami masih perlu memantau selama tiga hari ke depan, jika seandainya janin tersebut tak dapat berkembang karena situasi hari ini, maka saya mohon maaf harus mengangkat salah satu janin yang di kandungnya."
Seketika Daniel terdiam, dan tak dapat berkata apa apa.
Oh ayolah, bukankah dia baru saja mendapatkan hal yang paling membahagiakan untuknya? Lalu mengapa ia harus mendengar hal ini?
"Bisakah kau merahasiakan hal ini padanya? Aku tak ingin ia sedih jika salah satu bayi yang sedang ia kandung sedang kritis?" ucap Daniel tiba tiba menatap lekat sang dokter.
"Baik Tuan, kurasa kondisi saat ini lebih baik ia tak mendengar hal hal buruk, adakah hal yang membuat nya terpukul seperti ini?" tanya sang dokter kemudian pada Daniel.
Daniel menganggukan kepalanya. Ia sadar pasti berita mengenai Woojin lah yang telah membuat nya seperti ini, belum lagi dengan orang orang yang Daniel temui sebelumnya, bukankah terlihat jelas mereka tengah menyudutkan Jihoon dan semacam nya?
Tanpa sadar dalam hati Daniel berjanji pada dirinya sendiri untuk mencari orang orang yang mengusik istrinya hingga menjadi seperti ini.
Tangan Daniel langsung merogoh handphone nya yang berada di sakunya, dan menelfon seseorang yang ia yakini dapat membantunya.
"Cari tahu seluruh nya, dan kabari saya secepatnya," ujar Daniel memerintah.
Dokter yang ada di hadapan Daniel masih setia berdiri di hadapan Daniel, sambil setelah nya ia mempersilahkan Daniel agar dapat menjenguk Jihoon.
***
"Yak! Kemana Jihoon ? mengapa ia lama sekali berada di luar? Apakah ia tak ingin menjenguk Woojin?" lirih Jinyoung dengan dengusan kesal nya itu.
Guanlin menghela nafasnya pelan. Jujur saja ia juga sedikit kecewa dengan Jihoon yang seolah olah menelantarkan Woojin begitu saja, hanya saja ia tahu jika ia menyetujui perkataan Jinyoung sama saja ia menyudutkan Jihoon semata.
"Sudah lah, kau jangan berfikir aneh aneh, mungkin saja Jihoon perlu waktu menenangkan diri, lagi pula diantara kita Jihoon lah yang paling dekat dengan Woojin," lirih Guanlin mencoba bijaksana.
Jinyoung hanya memutarkan maniknya malas dan menatap ke arah Woojin yang sudah di pindahkan ke ruang rawat inap dengan manik terpejam.
Guanlin yang sebenarnya membenarkan ucapan Jinyoung, akhirnya memilih untuk meminta izin pada Jinyoung terlebih dahulu untuk keluar sebentar. Ia tak memberitahu pada Jinyoung bahwa sebenarnya ia hendak mencoba menghubungi Jihoon.
.
.
Butuh beberapa waktu telefon yang Guanlin panggil di angkat oleh Jihoon.
"Hallo, Jihoon-ah kau kemana? Bukankah kau bilang hanya keluar sebentar?" tanya Guanlin langsung tanpa basa basi.
Tak ada jawaban langsung.
"Ji..."
"Maaf, saya suaminya."
Deg
"Ah ... bisa aku bicara dengan Jihoon?"
"Tidak bisa, Jihoon masih belum sadar."
Seketika manik Guanlin membulat sempurna, dan suaranya tercekat tak dapat mengeluarkan sepatah katapun.
"Sampaikan salam Jihoon dan aku sebagai suaminya pada Woojin, Jihoon saat ini dalam kondisi yang tidak baik, masih dalam perawatan, dan sementara waktu ia tidak dapat mendengar kabar buruk yang nantinya dapat memperburuk keadaan."
Guanlin masih tak dapat membuka mulutnya, untuk mengutarakan pendapatnya.
Bibirnya hanya dapat terkatup sempurna.
"Jika sudah mengerti, akan saya tutup kembali." ujar Daniel dingin diseberang telefon
Tak lama kemudian, telefon tersebut benar benar di putus oleh Daniel.
Guanlin tak mengerti!
Apa maksudnya? dan mengapa Jihoon justru jatuh sakit? Apakah ia benar benar terpukul saat mendengar keadaan Woojin?
Baru saja Guanlin hendak melangkah kan kaki nya kembali ke dalam ruangan Woojin. Manik Guanlin tampak melirik beberapa pemuda yang ia kenal tampak terluka.
'Mengapa mereka terluka? Astaga! Apa mungkin mereka berkelahi dengan Jihoon? dan Jihoon hanya sendiri?!'
Seketika Guanlin tampak emosi dan melabrak pemuda yang berada tak jauh darinya itu.
"Apa yang kalian lakukan?!" geram Guanlin sedikit meninggikan suaranya.
"Cih, kau tak lihat, kami lah yang habis di keroyok olehnya!, Mana bocah itu? dia masih ada urusan denganku!" balas pemuda itu tak kalah keras dari Guanlin.
Kali ini Guanlin tak dapat membayangkan apa yang sebenarnya terjadi.
Jika dikatakan oleh pemuda yang ada di hadapannya itu bahwa mereka lah yang dalam posisi kalah, lalu mengapa Daniel bilang Jihoon tak sadarkan diri?
Guanlin yang bingung hanya dapat memijit keningnya pelan, sambil meninggalkan begitu saja pemuda yang berada di hadapannya.
'Aneh, apa yang terjadi?'
...........
TBC
Seya lagi baik nih mau lanjutin chap nya a lie? cepet 🤭🤭🤭
Semoga suka ya 😊😊
See you next chapter
Leave a comment and vote ...
.
.
Seya
