Chandra terkejut melihat kedatangan kedua orang tuanya yang secara tiba-tiba.
"Bunda sama ayah kok gak ngabarin Bintang dulu kalo mua pulang?" ucap Bintang yang mendekati Tiffany dan Faro, lalu menyalimi tangannya.
"Hehehe maaf ya sayang, bunda sama ayah cuman mau kasih surprise buat kamu sama Alam" ucap Tiffany sambil mengelus kepala Bintang dengan lembut.
Faro berjalan ke arah Alam, "Gimana kabar kamu?" tanya Faro kepada Alam.
"Alhamdullilah baik yah" ucap Alam, "Alhamdullilah" setelah mengucapkan itu Faro merangkul Alam yang lebih tinggi darinya.
'Chan juga ada disni loh, Chan sebenarnya benar dari keluarga ini bukan sih?' Batin Chandra.
Apakah mereka tidak sadar telah melukai salah satu hati disana? Chandra masih diam menunduk rasanya ia ingin segera ke kamarnya, namun jika ia pergi tiba-tiba itu tidak sopan bukan? lebih baik Chandra diam menunggu walaupun rasanya sakit.
"Permisi..." ucap bi Inah.
semuanya menoleh kepada bi Inah, "kenapa bi?" tanya Tiffany.
"Ini nyonya makan malam telah siap" ucap bi Inah.
"Oh baiklah terima kasih bi, ayo kita makan malam" ajak Tiffany kepada yang lain.
Saat ini mereka sudah ada di meja makan, bi Inah melanjutkan pekerjaan rumahnya sedangkan keluarga Faro sedang makan malam.
Tidak ada yang memulai bicara hanya ada hening yang menyapa.
"Oh iya Bintang, bagaimana keadaan perusahaan mu?" ucap Faro yang selalu membuka pembicaraan.
"Alhamdullilah baik yah, lancar semua selama ini gak ada masalah yang serius" ucap Bintang.
"Alhamdullilah, berarti ayah gak salah ngasih saham ayah ke kamu" ucap Faro dengan bangga.
Chandra yang sedaritadi mendengar ucapan sang ayah kepada abangnya membuatnya membatin, "Chandra juga pengen ngeliat ayah bangga sama Chan, tapi bisa gak ya?' batin Chandra.
"Kalo kamu Chandra?" tanya Faro.
Chandra yang sedang melamun tersentak mendengar namanya dipanggil oleh Faro.
"Alhamdullilah yah, lancar-lancar aja kuliah Chandra" ucap Chandra dengan menunduk.
"Kalo ada yang ngajak kamu bicara tuh liat orangnya, jangan nunduk dasar anak tidak ada sopan santunnya" ucap Faro.
Chandra yang mendengar bentakan sang ayah langsung mendongak, dan terpampanglah wajah marah saang ayah.
"M-maaf yah" ucap Chandra sambil menahan air matanya untuk jatuh.
"Kenapa kamu gak pernah berubah sih Chan? Ayah tuh capek ngurusin kamu yang kayam gini! Bisa gak sih gak buat ayah marah sekali aja!" Bentak Faro.
Chandra kembali menunduk, sungguh rasanya sakit di hatinya kian melebar setelah sang ayah ucapkan kepadanya.
"Ayah capek ngurusin kamu, kamu terlalu beban buat ayah sama mamah, kamu udh mulai ngelawan, kamu juga udah mulai jadi anak berandal!" Ucap Faro dengan kejam.
"Ayah udah cukup kasian Chandra" ucap Alam yang tak tega melihat adiknya yang menahan tangis.
"Kenapa kamu malah belain anak sialan ini?! Anak ini memang pantas untuk diberi hukuman sudah tidak ada sopan santun! Kalau begini mending saya buang kamu saja waktu bayi!" Ucap Faro dengan santainya.
Mereka semuanya yang di meja makan terkejut dari penuturan sang kepala keluarga.
"Mas udah mas jangan dilanjutin" ucap Tiffany menenangkan suaminya.
"Gak bisa sayang, anak ini memang pantas diperlakukan seperti ini, anak yang tidak ada etika, tidak sadar diri aku sungguh menyesal mempunyai anak seperti dia!" Ucap Faro.
Chandra yang mendengar itu langsung menatap sang ayah, air mata yang ia usahakan untuk tidak keluar dengan lancangnya mengalir dengan deras.
"Maaf ayah, kalo Chandra gak bisa jadi anak yang sopan buat ayah, maaf jika Chandra selalu membuat ayah marah, maaf jika Chandra selalu membuat ayah kecewa dan maaf sudah membuat ayah menyesal mempunyai anak sperti Chan. Tapi Chan gak pernah bisa benci ayah, karena ayah tetep ayah terbaik bagi Chandra....maaf jika belum masih yang terbaik" ucap Chandra dengan senyuman khasnya dan di hadiri oleh air matanya.
Faro hanya bisa terdiam begitu pula dengan Tiffany, Tiffany merasakan sakit saat anaknya berbicara seperti itu.
"Chandra udah selesai, Chandra pamit ke kamar duluan ya" ucap Chandra dengan senyuman di akhir.
Chandra segera bangkit dari tempat duduknya dan segera beranjak menuju kamarnya.
Mereka yang berada di meja makan hanya terdiam, menyaksikan punggung sosok tersebut makin menghilang.
'Maafkan bunda Chandra, bunda gak bisa ngapa-ngapain buat kamu' batin Tiffany yang melihat punggunbg anaknya itu semakin menjauh.
***
Chandra telah sampai pada kamarnya, segera ia kunci kamarnya dan berjalan gontai menuju kasurnya, langsung merebahkan dirinya disana.
"Ya allah kenapa engkau memberiku ujian yang sangat berat" ucap Chandra sambil menangis.
Jujur saja, jika ditanya apakah Chandra sudah lelah? Tantu jawabannya adalah iya.
Tetapi ia tidak ingin menyerah sebelum kedua orang tuanya memberikan senyuman bangga kepadanya.
Saat asik-asik sedang menangis, tiba-tiba kepalanya sangat sakit.
"Ya allah jangan sekarang, Chandra mohon" ucap Chandra.
Chandra bangkit dan mencari obatnya, namun beberapa langkah saja ia sudah lemas.
Tes tes tes cairan kental merah pekat itu keluar dari hidungnya.