Ch. 14 - His Story

23 4 3
                                        

Rombongan mereka tiba di hotel hampir pukul setengah sembilan. Ayla segera mengarahkan semua peserta ke restoran hotel untuk makan malam terlebih dulu.

Setelah semua peserta telah berada dalam restoran, ia kembali ke kaunter resepsionis untuk mengurus proses check-in.

Arslan sendiri juga tak kalah sibuk. Dia harus membantu Pak Hasan menurunkan semua koper peserta, ditambah dengan kesibukan koordinasi dengan pihak agensi untuk acara balon udara keesokan hari.

Satu kesibukan demi kesibukan terus berdatangan hingga tanpa terasa waktu telah menunjukkan pukul sembilan. Semua peserta juga telah kembali berkumpul di lobi untuk mengambil kartu kamar mereka, serta meminta password WIFI hotel.

"Oke, Bapak-bapak, Ibu-ibu yang sudah dapat kartu kamar dan jika besok tidak mengikuti acara balon udara, sudah boleh langsung menuju ke kamar istirahat. Untuk yang mengikuti acara balon udara, harap tetap kumpul di sini dulu. Nanti ada pengumuman lanjutan dari Pak Arslan," umum Ayla.

Beberapa pasangan yang tidak ikut dalam acara balon udara meninggalkan kumpulan tur dan langsung menuju ke kamar mereka masing-masing. Hanya sekitar sembilan orang yang tinggal untuk menunggu pengumuman lanjutan.

"Ci, besok jadi terbang gak sih?" tanya Thania cemas karna tadi pagi Arslan sempat mengumumkan bahwa cuaca tidak mendukung sehingga penerbangan telah dihentikan sejak seminggu yang lalu.

"Moga aja jadi ya. Itu Arslan kayaknya udah selesai telpon," tunjuk Ayla dengan dagunya saat ia melihat Arslan berjalan ke arah mereka.

"Bapak-bapak, Ibu-ibu, maaf sudah membuat kalian menunggu. Jadi setelah saya cek dengan pihak balon udara, mereka bilang besok kita...." Arslan sengaja menggantung kalimatnya utnuk membuat para peserta tambah deg-degan.

"TERBANG!" lanjutnya yang disambut tepuk tangan riuh dari para peserta saking senangnya dengan kabar ini. Arslan kembali melambaikan tangannya, meminta perhatian mereka.

"Besok kita akan berkumpul di lobi jam 3 pagi."

"Habis balon udara langsung lanjut tur?" tanya Thalia.

"Tidak, kita akan kembali ke hotel dulu. Kalian bisa sarapan sambil menunggu peserta yang lain, setelah itu kita akan memulai acara tur seperti biasa."

Beberapa peserta tampak mengangguk-anggukan kepala mereka tanda mengerti.

"Ada lagi pertanyaan? Kalau sudah tidak ada, Bapak-bapak, Ibu-ibu sudah boleh kembali ke kamar beristirahat. Oh ya satu lagi, jangan lupa membawa jaket kalian sebab suhu di pagi hari sangat dingin," kata Arslan.

Seusai pengumuman, para peserta langsung bubar dan berlomba-lomba menuju lift.

"Hey, barengan? Gue antarin lu ke kamar ya," Teddy memberanikan diri mendekati Ayla lagi walau ia tahu gadis itu masih marah dengannya.

Sebenarnya sampai saat ini ia masih tidak mengerti apa yang membuat Ayla marah. Dan ia akan mencari tahu nanti. Tidak sekarang. Yang perlu ia lakukan sekarang ialah mengejar waktu yang telah terbuang sia-sia sepanjang hari ini. Dia harus pastikan Ayla tidak mendiamkannya lagi.

"Lu duluan aja. Gue masih ada kerjaan," elak Ayla.

"Gue temani."

"Gak perlu, gue bisa sen..." Ayla tak menyelesaikan ucapannya.

"Ci, Ted, naik barengan?" tawar Thalia.

"Gue mau cari makan dulu, laper," balas Ayla, "Kalau si Teddy emang mau ke kamar sekarang. Kalian barengan aja, mumpung selantai." Ayla kembali menoleh pada Teddy, "Gue titip mereka ya, Ted," katanya tanpa peduli tatapan tak setuju Teddy.

TOURITHJOUTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang