Ternyata tempat wisata berikutnya tak jauh dari Cumalıkızık sehingga Arslan dan Ayla sepakat untuk singgah terlebih dahulu sebelum membawa peserta makan siang.
Ketika mereka tiba di kawasan Yesil, panas terik matahari mulai menyusup ke dalam bus melalui jendela. Beberapa peserta yang duduk tepat di sebelah jendela mulai menarik gorden yang ada, berharap dengan begitu dapat menghalangi terik matahari.
"Musim semi kok masih bisa panas ya, Arslan. Padahal tadi udaranya masih dingin banget loh," celutuk Pak Adrian yang duduk tepat di belakang bangku Arslan.
"Iya, Pak. Memang di tempat-tempat tertentu akan tetap panas waktu siang hari." Arslan sendiri juga merasakan hawa panas dari luar padahal dia tidak duduk di sisi jendela.
Tiba-tiba Ayla memanggil Arslan dari seberang bangku, memberikan tanda agar Arslan mengecek pesan di hapenya.
Ayla Astrella
Kembar ijin gak ikut turun
Takut panas
Mungkin di umumkan aja
Mereka bisa pilih ikut turun atau tinggal di bus
Arslan menengadah kembali, menoleh pada Ayla yang menunggu balasannya. Dia mengangguk sekilas tanda setuju. Lalu ia bangkit berdiri dengan microphone ditangannya.
"Bapak-bapak, Ibu-ibu, sebentar lagi kita akan sampai Masjid Hijau dan Makam Hijau. Pak Hasan sekarang sedang mencari tempat untuk menurunkan kita. Bagi yang mau ikut berkunjung, silakan ikuti saya. Bagi yang tidak, boleh memilih untuk menunggu di dalam bus," baru saja ia selesai berkata, bus telah berhenti dan mengharuskan mereka segera turun. Arslan kembali memberi aba-aba pada peserta yang mau mengikutinya turun.
Begitu sampai bawah, Ayla menghitung jumlah peserta yang turun, hanya ada sembilan orang termasuk dirinya, sisanya memilih untuk tetap tinggal di dalam bus. Arslan mulai menjelaskan sedikit tentang latar belakang Masjid dan Makam Hijau secara singkat lalu memberikan waktu bebas bagi mereka untuk eksplorasi sendiri. Ada yang memilih untuk terlebih dahulu mengunjungi Makam Hijau. Ada juga yang memilih Masjid Hijau.
"Kamu nggak ikut mereka pergi keliling?" tanya Arslan, melihat Ayla yang beringsut ke bawah atap sebuah toko untuk berteduh dari panasnya terik matahari.
"Aku tunggu disini aja. Biar mereka gak nyasar pas balik."
"Kalau gitu kamu tunggu aku disini sebentar," pinta Arslan. Sebelum Ayla sempat menjawab, ia telah meninggalkan Ayla, menyeberang ke arah Masjid Hijau.
Ayla mengerdikkan bahu melihat tingkah Arslan yang mendadak misterius. Dia mulai mengedarkan pandangannya ke sekeliling, tampak banyak orang lalu lalang di area itu, sekilas ia melirik waktu yang tertera pada layar hapenya - sudah pukul dua belas. Pantesan tempat itu semakin ramai.
Biip.. Biip..
Hapenya berdenting. Sebuah pesan baru muncul di layar hapenya yang masih menyala.
Tata Prasetyo
Ay, jangan lupa baklava gue
Lokum juga
Habis beli jangan ketinggalan
Daser Tata. Ini sudah kali ke sepuluh Tata mengingatkan hal yang sama. Mungkin efek dikerjain itu masih tersisa sehingga ia jadi parnoan. Ngomong-ngomong soal isengin, Ayla jadi tergoda untuk isengin Tata lagi.
Ayla Astrella
Chat lu telat
Kali ini beneran ketinggalan
Baru saja tanda dua centang berubah menjadi biru, Whatsapp call dari Tata sudah masuk. Ayla menekan pada bulatan hijau untuk menjawab.
"Serius, Ay? Lu lagi bercanda, kan?" tanya Tata begitu tersambung.
Tawa Ayla hampir pecah mendengar kepanikan Tata. "Beneran. Waktu itu gue udah beli, terus tiba-tiba ada peserta yang kopernya hilang, gue bantu nyari. Nah titipan lu itu gak sengaja ketinggalan di TKP."
KAMU SEDANG MEMBACA
TOURITHJOU
RomansaAyla Astrella, seorang tour guide dengan satu mimpi, mengunjungi Türkiye. Dan dalam satu petang, mimpi itu menjadi kenyataan. Ia mendapat kesempatan untuk membawa tour ke negeri impiannya. Tak pernah terlintas dalam benak Ayla bahwa ketakutan dan t...
