Senyum lebar terlukis di wajah setiap peserta kala mereka melangkah keluar dari restoran. Sesekali angin semilir bertiup lembut menyapa mereka. Hujan lebat yang tadinya sempat menguyur mereka meninggalkan jejak genangan air di beberapa sudut jalanan.
"Bapak, Ibu, semua sudah kenyang?" tanya Arslan yang disambut anggukkan dan senyum sumringah dari para perserta.
"Sekarang kita akan melanjutkan tur kita hari ini. Tempat berikutnya yang akan kita kunjungi adalah Sultanahmet Meydanı. Ayok semua, silakan ikuti saya," seru Arslan sambil mengibarkan bendera Tur.
Kebetulan si kembar hari ini dapat kesempatan untuk mengikuti Arslan dalam jarak dekat. Biasanya posisi itu selalu di monopoli Pak Adrian. Keduanya beberapa kali berbisik dan cekikikan sambil melirik ke arahnya, membuat Arslan jadi salah paham. Ia mengira dirinya telah salah mengucapkan sesuatu.
Ketika Arslan harus berhenti untuk menunggu beberapa peserta yang jalannya lebih lambat, ia memanggil Ayla untuk mendekat.
"Apa dari tadi aku ada salah mengucapkan sesuatu?" tanya Arslan dengan suara rendah agar tidak di dengar yang lain.
Kedua alis Ayla terangkat, "Gak ada. Kenapa?"
"Ku pikir ada yang salah dengan ucapanku karna...." Arslan tidak meneruskan kalimatnya, Ia memberi kode dengan sedikit memiringkan kepalanya ke arah si kembar yang masih cekikikan.
"Oh!" Ayla tertawa kecil. Lalu ia memanggil si kembar, "Thania, Thalia, sini bentar."
"Kenapa, Ci?" tanya Thania.
"Kalian udah buat Arslan penasaran nih, pada lagi ketawain apa?"
Arslan tersenyum salah tingkah, "Apa ada kata-kata yang saya salah sebutkan?"
"Oh, gak kok, hanya saja..." ada jeda sejenak karna Thania sedikit sungkan menyampaikannya, "kami merasa kamu lucu," lanjutnya.
Dahi Arslan tambah berkerut. Baru kali ini dia dianggap lucu ketika memimpin tur.
"Ngg.. kamu jangan marah ya, sebenarnya kami cuma ngerasa, cara kamu ngucapkan 'silakan ikuti saya' itu lucu. Gak salah sih, cuma... ya lucu aja," jelas Thalia.
"Dan mereka suka niruin kamu," sambung Ayla yang di sambut cengiran dari si kembar.
Arslan menggeleng-gelengkan kepalanya melihat ulah si kembar yang mulai iseng dan terang-terangan meniru gaya bicaranya.
Kemudian Arslan lanjut memimpin semua peserta untuk mengikutinya ke Sultanahmet Meydanı.
"Ayok, Bapak-bapak, Ibu-ibu, saya akan menjelaskan sedikit tentang Sultanahmet Meydanı atau yang dulu di kenal sebagai Hippodrome Square pada masa kekaisaran Bizantium. Dulunya tempat ini menjadi arena balap kuda dan di depan anda saat ini adalah Walled Obelisk. Anda dapat mengambil foto jika mau."
Setelah itu, dia mengajak mereka ke titik berikutnya, yaitu Serpent Column atau yang dikenal dengan sebutan Tiang Ular.
"Sebentar, saya akan tunjukan foto Tiang Ular ketika masih utuh." Arslan membuka salah satu foto dari galeri İstanbul di hapenya dan menunjukkan foto tersebut kepada semua peserta.
"Awalnya monumen ini dibangun di Kuil Apollo di Delphi, untuk memperingati kemenangan Bangsa Yunani atas Bangsa Persia. Kemudian atas perintah Kaisar Constantine, monumen ini pun dipindahkan ke sini untuk menghiasi Hippodrome."
"Kenapa sekarang kepala ularnya hilang?" tanya Pak Adrian.
"Karna masyarakat menganggap kepala ular sebagai simbol setan. Jadi kepala ular tersebut dipotong dan sekarang dipajang di Museum Arkeologi İstanbul," jawab Arslan.
KAMU SEDANG MEMBACA
TOURITHJOU
RomanceAyla Astrella, seorang tour guide dengan satu mimpi, mengunjungi Türkiye. Dan dalam satu petang, mimpi itu menjadi kenyataan. Ia mendapat kesempatan untuk membawa tour ke negeri impiannya. Tak pernah terlintas dalam benak Ayla bahwa ketakutan dan t...
