TIDAK CUKUP!
Ayla betul-betul merasa waktu tidurnya yang kurang dari dua jam itu tidak cukup! Tapi ia tidak punya banyak pilihan. Ia harus mengorbankan waktu tidurnya demi acara balon udara.
"Hoammm," Ayla menguap untuk kesekian kali.
Ia kembali mengecek jam di hapenya. Waktu menunjukkan baru lima menit berlalu. Ayla menoleh lagi ke arah lift, tidak ada tanda-tanda peserta akan bergabung dengannya.
Terlintas dalam benaknya mungkin ia dapat tidur sebentar. Ayla mulai mengatur alarm hapenya untuk berbunyi lima belas menit lagi karna dulu ia pernah diajar - jika dalam keadaan yang sangat mengantuk, ambil waktu lima belas menit untuk tidur sebentar dan nantinya tubuh akan jauh lebih segar - itu yang akan ia praktekkan sekarang.
Setelah mengatur alarm, Ayla terus menyadarkan kepalanya pada sandaran sofa dan dalam hitungan detik, ia telah tertidur pulas.
Saat itu lah Arslan keluar dari lift. Matanya langsung tertuju pada Ayla yang sedang tidur di sofa lobi. Dia tersenyum senang melihat pemandangan yang sangat jarang ia jumpai itu. Perlahan ia mendekati Ayla, lalu berdiri disampingnya dalam diam, menikmati wajah damai Ayla yang sedang tidur.
How I wish I could see your face every morning! harap Arslan.
Ayla yang terbiasa tidur dengan bantal sebagai alas kepala, mulai mencarinya di bawah alam sadar. Kepalanya mulai terayun ke sisi kanan. Melihat itu, tangan Arslan refleks terulur untuk menahannya.
Ketika Ayla merasakan sentuhan jemari pada pipinya, kepalanya mulai menggeliat dalam telapak tangan Arslan. Perlahan matanya terbuka, ia mengerjap beberapa kali, mengira dirinya masih berada di alam mimpi dengan wajah Arslan yang berjarak kurang dari lima senti dari wajahnya. Anehnya, ia dapat mencium wangi bergamot bercampur sandalwood-nya Arslan dengan sangat jelas. As if all these things are real and not just a dream.
"Maaf, aku membangunkanmu," kata Arslan, tangannya masih memegang pipi kanan Ayla.
Ayla tersentak! Jika suara, wangi bahkan sentuhan di pipinya itu semua terasa begitu nyata.... berarti pria yang berada di hadapannya saat ini bukan mimpi! Secepat kesadarannya menghantam, secepat itu juga Ayla menjauhkan wajahnya dari tangan Arslan. Tepat saat itu alarm hape di tangannya berbunyi. Segera Ayla menekan 'Dismiss'.
"Ti.. tidak... memang sudah waktunya bangun," balas Ayla gugup, sambil menunjuk pada alarm yang baru saja ia matikan.
Kemudian keduanya kembali terdiam cukup lama hingga Arslan mengambil inisiatif memecah keheningan di antara mereka. "Belum ada yang turun."
Ayla yang telah berhasil menenangkan detak jantungnya, kembali mengantuk. Dia menguap sambil celingak-celinguk mencari apa ada peserta mereka yang telah turun ke lobi.
"Hemm.. sepertinya belum ada," sahutnya, lalu ia menguap lagi.
Arslan tertawa, "Pengorbanan kamu bangun pagi bakal worth it."
"I know dan untungnya acara ini di Kapadokya. Kalau tempat lain, aku bakal milih tidur aja," balas Ayla sebelum kembali menguap.
"Sepertinya ada alasan khusus. Kenapa harus Kapadokya. Mind to share?"
Ayla menggeleng, "I don't think you wanna know. It's kinda embarrassing."
"Well... I have embarrassed myself last night. So... just share it," pinta Arslan dengan senyum lebarnya yang setelah beberapa hari ini, Ayla sangat yakin, siapa pun yang melihat senyuman Arslan pasti akan tertular dan ikut tersenyum. Juga, apapun yang Arslan minta jika di barengin dengan senyuman itu, pasti akan dikabulkan - dialah korban hidup dari senyuman Arslan.
"Emmm... alright. Jadi aku tahu Kapadokya itu pas baca the book of Acts. Waktu itu aku lumayan tertarik dengan tempat-tempat yang dikunjungi Paul terus aku mulai research... dan pas sampai Kapadokya, aku justru nemuin banyak foto-foto couple dengan background yang cantik banget. From that moment, I feel like Kapadokya is the most romantic place in the world. More than Paris."
KAMU SEDANG MEMBACA
TOURITHJOU
RomantikAyla Astrella, seorang tour guide dengan satu mimpi, mengunjungi Türkiye. Dan dalam satu petang, mimpi itu menjadi kenyataan. Ia mendapat kesempatan untuk membawa tour ke negeri impiannya. Tak pernah terlintas dalam benak Ayla bahwa ketakutan dan t...
