Dua tahun kemudian.
"Happy Anniversary, Sevgilim [17]!" seru Arslan melepaskan ikatan kain pada mata Ayla.
"Wow!" Ayla menutup mulutnya tak percaya dengan kejutan yang Arslan berikan padanya.
"Do you like this surprise?"
"Kejutan kamu makin gila ya," Ayla tertawa sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, "Tiba-tiba muncul di Jakarta, terus bawa aku ke Kapadokya dan semalam bilang apa? Mau hiking?" tunjuk Ayla pada balon udara yang sedang dalam proses dinyalakan, "bentar, ini nanti aku naik sendiri?"
"Kali ini aku akan menemanimu," balas Arslan.
Kedua alis Ayla terangkat tinggi-tingi, "Kamu udah gak takut tinggi? Sejak kapan?"
Arslan mengambil pose seperti orang berpikir selama beberapa detik, lalu menjawab dengan raut wajah serius, "Sejak aku menemukan obat termanjur untuk traumaku dan obat itu bernama..." dia berhenti sejenak, "Cinta," lanjutnya penuh khidmat.
Ayla mengerjap beberapa kali sebelum akhirnya tawanya pecah. "Serius?"
Arslan mengangguk, tampak tidak tersinggung sama sekali, "Let me ask you. Gimana cara kamu atasi ketakutan kamu soal LDR?"
"Karna cintamu memberiku keberanian."
"Sama, karna aku mencintaimu, aku beranikan diri untuk menghadapi ketakutanku. Lagian, aku mau mewujudkan impianmu. Ride the hot air balloon with your love one."
"Kamu masih ingat?" tanya Ayla tak percaya.
Arslan mengejapkan kedua matanya sekali sebagai balasan.
"So, are you ready for the ride?" tanyanya sambil mengulurkan tangan kanannya.
Tanpa keraguan Ayla meraih uluran itu dan keduanya memanjat masuk kedalam keranjang balon udara yang siap diterbangkan.
Sang pilot pun mulai membawa mereka mulai terbang naik menuju cakrawala biru keemesan yang telah menanti mereka. Pemandangan indah Kapadokya telah siap memukau setiap mata yang memandangnya.
Sekalipun ini bukan pengalaman pertama Ayla, tapi ia tetap terpesona melihat pemandangan lembah-lembah Kapadokya. Ditambah saat ini ada Arslan yang bersamanya, membuat pemandangan kali ini terasa jauh lebih indah.
"Sevgilim, soal pertanyaan kamu, 'Apa aku siap pindah ke Turki?', aku si...ap," suara Ayla tercekat ketika ia membalikkan badannya.
Didepannya Arslan telah berlutut dengan satu kaki dan tangan yang mengangkat sebuah kotak putih yang telah terbuka. Di dalamnya bertakhta sebuah cincin dengan permata berbentuk bintang. "Since you have said so, will you marry me?"
Ayla terperangah, mendengar lamaran Arslan. Apa yang sedang terjadi terasa seperti mimpi baginya. Arslan telah mewujudkan mimpinya melampaui apa yang dapat ia impikan. Saat ini semuanya terasa benar, semua terasa tepat dan... semua terasa sempurna.
Bersama pria ini, dia tak akan ragu lagi.
Bersama pria ini, dia siap melangkah.
Bersama pria ini, dia percaya.
Oleh karnanya, Ayla mengulurkan jemarinya pada Arslan tanpa keraguan, diiringi ucapan selamat dari sang pilot dan co-pilot ketika Arslan menyematkan cincin itu di jari manis Ayla.
Setelah itu, Arslan berdiri dan merengkuh pinggang Ayla, membawanya mendekat. Tatapannya menjadi sendu kala ia melihat ke dalam kedua mata belo Ayla.
Tangan Ayla pun terulur menyentuh wajah pria yang sangat ia cintai, katanya, "Seni seviyorum. [18]"
Arslan mendekatkan keningnya hingga menempel pada kening Ayla, "Ben seni daha çok seviyorum! [19]"
_________________________________________
[17] Sevgilim - cintaku
[18] Seni seviyorum - Aku mencintaimu
[19] Ben seni daha çok seviyorum - Aku lebih mencintaimu
KAMU SEDANG MEMBACA
TOURITHJOU
Storie d'amoreAyla Astrella, seorang tour guide dengan satu mimpi, mengunjungi Türkiye. Dan dalam satu petang, mimpi itu menjadi kenyataan. Ia mendapat kesempatan untuk membawa tour ke negeri impiannya. Tak pernah terlintas dalam benak Ayla bahwa ketakutan dan t...
