bagian 1

158 12 0
                                    

"Serius Iori?" Kejut teman semasa kuliah nya dulu.

"Iya, aku harus bagaimana. Acara nya pasti mewah, aku ngga punya baju"

"Aku pinjamkan" tawar Ieri Shoko sahabatnya, "kamu tahu dress merah punyaku. Nanti aku pinjamkan, sekalian Mei pinjamkan Uta hells punya mu"

"Baik, aku bawakan nanti sore".

"Boleh Mei" ucap Utahime semangat.

Acara di kartu undangan akan di adakan malam ini, secara mendadak juga sahabatnya ingin berjumpa. Sekalian Utahime memberitahu teman-temannya kalau dirinya di undang, dan bersyukur mereka mau membantunya berdandan sedikit.

Tidak ada kendala ketika dia datang ke hotel mewah tersebut, aneh nya orang-orang akan di tahan jika tidak memperlihatkan kartu undangan--kenapa dia tidak di tahan? Malah di biarkan masuk oleh petugas bahkan menuntun diri nya masuk ke ruangan vip.

"Nyonya Gojo, dia sudah datang" bisik petugas itu.

"Bawa gadis itu masuk" katanya.

Pintu terbuka lebar memperlihatkan cahaya silau memancar di wajah cantik Utahime, dia seakan linglung melihat semua kemewahan di depannya. Seakan hatinya berbisik 'apa ini nyata' karena selama ini Utahime tidak pernah sama sekali melihat hal mewah, hidup nya jauh dari sederhana dan dia sudah terbiasa hidup sendiri, karena Utahime di besarkan di panti asuhan jauh sekali dengan kelas kasta setinggi keluarga Gojo.

"Nak Utahime, kemari sayang" sambutan hangat dari seseorang wanita anggun dan cantik ini membuat Utahime semakin tidak percaya ini nyata atau alam mimpi.

"Duduk nak" Utahime mengangguk mengerti pada beliau, menjaga imej nya jangan sampai mempermalukan diri sendiri.

"Lihat sayang, tambah cantik saja bukan anak sahabat mama. Malah sekarang semakin mirip Hana"

Utahime tertekun mendengar beliau menyebut nama ibundanya 'darimana beliau tahu nama ibu saya?' Dia menatap bergantian wajah mereka memasang ekspresi bingung.

"Maaf nak, pasti Utahime terkejut. Hana sahabat istri saya, dan ayahmu Sasaki rekan kerja saya. Perusahaan ayahmu bekerja sama dengan perusahaan kami, dan kami dengar hak warisnya di ambil paksa adik Sasaki, apa itu benar?"

Utahime mencerna perkataan beliau, dulu dia tidak mengerti bisnis dan apalah itu tentang perusahaan. Tapi pemilik panti asuhan pernah memberitahu nya kalau dirinya di buang dan keluarga Iori tidak membutuhkan Utahime lagi--mungkin lebih tepatnya harta keluarga Utahime benar-benar sudah menjadi milik adik ayahnya, dia bahkan tidak mengenal orang tuanya siapa. Melihat sekali pun tidak pernah, Utahime benci jika seseorang menggungkit masa lalu lagi.

"Iya, benar... seseorang memberitahu pada saya, itu juga terlambat... orang itu memberitahunya ketika saya selesai wisuda seminggu yang lalu" kata Utahime mengingat pria yang mau memberitahu hak miliknya.

"Kami sudah mengurus pamanmu, dan dia sudah kami bawa ke persidangan untuk di tindak-lanjutkan ke ahli hukum. Karena sudah memakan harta anak yatim piatu, saya sudah menyiapkan pengacara hebat yang siap membantu di persidangan nanti" kata beliau.

Pelayan mendatangi meja mereka menyimpan hidangan di atas meja dengan menuangkan anggur di cangkir mereka, pelayan itu menunduk lekas pergi mendorong kereta dorong tadi.

"Nah, Utahime. Makan sayang, kami mengundangmu kesini untuk makan malam"

Utahime tersipu malu melihat perlakuan beliau yang begitu baik dan lembut padanya, Utahime bertanya-tanya siapa mereka? Apa mereka kerabat jauh Satoru atau...

"Maaf tante, boleh saya bertanya"

Beliau tersenyum lembut pada Utahime mengangguk, "silahkan".

"Be-begini... kalian keluarganya Satoru?" Beliau tersedak terbatuk-batuk karena minumannya, Utahime yang memelas karena panik berdiri memberikan sapu tangan padanya. "Oh darling, kenapa kamu malah tersedak. Padahal Uta cuman bertanya, biarkan Uta dia baik-baik saja... kamu kenal Satoru"

Utahime yang mendengar namanya berubah malu menundukkan wajahnya untuk menyembunyikan merah cerah di kedua pipi dan telinga nya yang tidak bisa dia sembunyikan.

"Hahaha, manis sekali. Satoru anak kami berdua, anak bungsu kami"

Makin memerah wajahnya seakan Utahime ingin sekali tengelam jauh di palung mariana. Untuk menyembunyikan wajah meronanya.

"Sebenarnya tujuan kami mengundangmu, bukan hanya makan malam nak." Ibu Satoru memanggil seseorang memakai jas hitam begitu rapi yang setia berdiri di dekat pintu keluar.

Dia mengeluarkan sesuatu di sakunya, secarik kertas rapi tergulung. Memberikan pada ibu Satoru dan dia berpamit memberi izin pergi.

"Jadi Utahime, wasiat terakhir Hana tertulis. Dia setuju dengan sepakat suaminya atau bisa di bilang ayahmu, dia bilang siap menjodohkan putri satu-satunya pada putra kami Satoru"

Matanya membola mendengar beliau memberitahunya, dia mengoper kertas itu untuk di bacakan Utahime.
'Ini tulisan ibu, ini seriusan aku di jodohin sama Satoru. Ini anugerah atau malapetaka tuhan'

Utahime di antar pulang sampai apartemennya oleh seseorang supir suruhan ibunya Satoru, dia juga di beri sesuatu oleh ibunya Satoru. Bungkusan utuh yang kini dia jinjing sendiri masuk ke dalam apartemennya.

Terkejut apa yang dia lihat baju rancangan yang dia lihat di estalase toko busana ternama di sapporo, busana dengan cap perusahaan keluarga Gojo. Design dan warnanya begitu elegan dan mewah menurut Utahime, baru kali ini dia mendapatkan barang mewah.

-BERSAMBUNG-

Maaf kalau gaje, ini tuh nyempetin bikin au Gojohime. Udah sekian lama gw mikir, repost jangan repost jangan- yah kesampean jadi repost. Lumayan udah jadi draft berdebu di note hp bikin menuhin memori 😂😂
Btw karena akhir-akhir ini banyak tekanan dari atasan, pikiran sering kacau ngga bisa lanjut ini cerita di draft 🙂.

Duh gw malah curhat.
Maaf jika ada salah kata, atau terlalu boring, happy reading.

Look at me (HIATUS) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang