“Jika bisa memilih, aku ingin sekali tidak terlahir ke dunia ini. Dunia terlalu kejam menurutku. Mereka memaksa kita untuk baik-baik saja setelah semua masalah yang kita alami. Namun sayangnya ini adalah takdir. Takdir yang harus kita jalani dengan sepenuh hati, kita tidak boleh memilih ataupun memaksa bagaimana alur kehidupan kita”
_Revanza's story
34- Get well soon, cantik!
Revan mengerjapkan matanya beberapa kali setelah cahaya matahari menerpa wajahnya dengan sinar jingganya. Ia mengedarkan pandangannya dan menatap ruangan ini dengan tatapan kosong.
Sebuah ruangan yang sangat berantakan dengan banyaknya debu yang menempel di seluruh benda-benda yang ada disini dapat dipastikan bahwa dirinya kini berada di gudang rumah Fero. Revan mendongak merasakan sakit yang luar biasa di badannya akibat pukulan tongkat baseball dari Papahnya tadi malam sepulang dari rumah sakit.
Revan mendapat pukulan itu setelah Nabilla mengadu kepada papahnya bahwa ia telah ditinggal sendirian di resto kemarin malam. Fero marah saat mengetahui itu, dia langsung bergegas menuju ke rumah sakit untuk menjemput Revan dan membawanya pulang.
Bukan hanya pukulan tongkat baseball yang dia dapatkan, Fero juga menyulut lengan Revan menggunakan rokok miliknya. Revan ditendang, dipukul menggunakan vas bunga, ditampar berkali-kali dan rambutnya ditarik dengan sangat kencang membuat kepalanya seakan hampir lepas.
Revan hanya terdiam saat Fero melakukan itu semua. Bukan karena takut, tapi dia tidak ingin melawan Fero bagaimanapun dia adalah orang tua kandungnya.
"S-sakit.... Sakit banget mahh" Revan meringis kesakitan. Luka bakar di lengannya juga sedikit parah membuat kulit Revan sedikit melepuh.
Revan memejamkan matanya ia kembali teringat dengan kejadian kemarin malam yang membuat Salsa harus dilarikan ke rumah sakit, pikirannya kalut sekarang. Dia harus ke Algrastian's hospital saat ini juga untuk mengetahui bagaimana kondisi Salsa.
Revan berjalan menuju pintu keluar dengan tertatih-tatih. Rasa sakit akibat pukulan tongkat baseball andalan papahnya itu sangatlah luar biasa apalagi di kepala serta kakinya.
Ceklek
Pintu gudang terbuka. Bukan, bukan Revan yang membukanya akan tetapi Fero yang membukanya dengan membawa satu ember penuh air ditangannya.
"Oh sudah bangun kamu? Baguslah jadi saya tidak perlu membasahi lantai gudang gara-gara mengguyur tubuh kamu" ucap Fero dengan bersedikap dada. Laki-laki paruh baya itu tersenyum miring ke arah Revan.
"Dasar lemah! Dipukul gitu aja nggak bisa jalan" Fero menatap sinis ke arah Revan.
"Lemah? Pukulan yang papah kasih itu keras banget badan Revan serasa remuk tau nggak sih?!" sergah Revan.
"Puas pah? Puas bikin badan Revan remuk kaya gini Setelah apa yang Revan lakuin buat papah?!" Revan menatapnya penuh kebencian.
"Sudah seharusnya kamu melakukan hal yang berguna buat saya! Ingat, biaya membesarkan kamu itu tidak murah Revanza!!! Selama ini kamu hanya bisa menghabiskan uang saya! Jadi tidak salah jika kamu melakukan hal itu untuk saya. Anggap saja itu untuk membalas Budi saya selama ini walaupun masih tidak sebanding dengan apa yang saya lakukan dulu" ucap Fero dengan entengnya. Di wajahnya tak ada raut merasa bersalah sedikitpun Setelah mengatakan itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
REVANZA (END)
Teen Fiction"Jangan membenci takdir karena kita hanya manusia yang tidak tau apa-apa tentang apa yang akan terjadi selanjutnya" -Revanza Ini cerita tentang Revan si anak broken home yang selalu disiksa ayahnya. Perjalanan hidupnya tak selalu mulus, dia harus ke...
