“Perjuangkan dia orang yang kamu sayangi. Kejar dia dan bilang yang sebenarnya tentang bagaimana perasaan kamu kepadanya. Urusan diterima atau tidaknya itu hal belakangan. Jangan sampai kamu kehilangan dia sebelum menyatakan apa yang sebenarnya”
──Arbiansyah Reffendi Etmananda
52- Kenyataan yang menyakitkan
"Kenapa Lo nggak bilang mau main kesini sih? Kalau gue tau Lo mau kesini udah gue suruh para maid buat masak banyak" omel Revan kepada Arbi yang baru saja datang berkunjung ke rumahnya.
"Gue cuma mau main, nggak usah lebay deh Lo. Udah mulai ketularan virus lebay dari Gilang Lo?" Tanya Arbi sinis. Ayolah, dia hanya berkunjung sebentar bukan untuk numpang makan disini jadi tidak perlu mempersiapkan banyak makanan, bukan?
"Tapi gue bener-bener nggak ada makanan, Bi dirumah gue makanannya habis semua. Atau kalau perlu gue suruh maid buat masak aja ya?"
"Ck! Gue mau main bukan numpang makan" Arbi berdecak kesal. Revan tertawa saat mendengar nada bicara Arbi yang terdengar kesal.
"Gilang nggak ikut?" Tanya Revan sembari berjalan menuju ruang santai yang selalu digunakan untuk berkumpul bersama teman-temannya. Biasanya anak itu sangat semangat saat akan ke rumahnya tapi ini? Dia sama sekali tidak menampakkan batang hidungnya.
Arbi mengedikkan bahunya. "Tadi udah gue ajak tapi katanya nggak bisa, dia harus anterin adeknya ke pesta ulang tahun teman sekelasnya. Lo tau? Muka dia ngenes banget pas mohon-mohon sama ibunya biar nggak jadi anterin adeknya demi bisa main sama kita haha." Arbi tertawa puas saat membayangkan ekspresi wajah Gilang tadi.
"Ralat, demi makanan mungkin" ucap Revan. Kemudian mereka tertawa bersama.
Arbi dan Revan duduk di sofa besar yang ada disana. Tak lama kemudian datang seorang maid dengan membawa kopi hitam dan camilan-camilan untuk menjamu Arbi. "Silahkan den Revan, den Arbi" ucap maid tersebut.
"Terimakasih" balas mereka bersama-sama. Maid itu tersenyum kemudian pergi melangkah meninggalkan mereka berdua.
"Diminum, Bi." Arbi mengangguk dan mulai menyeruput kopinya.
"Pas banget Lo dateng, gue mau tanya sesuatu sama Lo. Dari tadi kepikiran terus gue" ucap Revan. "Jadi, apalagi yang Lo tau tentang Salsa selama dia di London, Bi? Masih ada sangkut pautnya nggak sama rencana Om Tama?" Tanya Revan mulai mengintrogasi.
Arbi yang semula sedang menyeruput kopinya kini berhenti. Ia menatap Revan sesaat kemudian menaruh gelasnya di meja. "Kenapa Lo pengen banget tau tentang Salsa?" Kini Arbi balik bertanya.
"Gue cuma penasaran aja, apa masih ada kelanjutannya akibat dari perbuatan papah yang udah nabrak Salsa. Udah gitu aja" alibi Revan.
Arbi menelisik wajah Revan. Ia terdiam sejenak kemudian tertawa ringan. "Gue tau bukan itu. Lo suka 'kan sama dia?"
Ah shit! Tebakkan Arbi kali ini sungguh tepat sasaran. Bagaimana bisa dia mengetahui ini? Apakah selama ini dia selalu bersikap seolah-olah dia menyukai Salsa? Ya walaupun memang kenyataannya seperti itu.
"Nggak, gue cuma penasaran aja" sahut Revan mencoba untuk menormalkan ekspresi nya.
"Nggak ada orang penasaran sampai nangis-nangis pas ada kabar dia meninggal. Nggak ada orang penasaran yang mau ngelindungi dia dari incaran bokap lo sama anak buahnya dengan menuruti kemauan bokap Lo buat berpacaran sama Nabilla. Nggak ada orang penasaran yang ngorbanin kebahagiannya demi dia supaya bisa hidup aman. Nggak ada orang penasaran yang—" belum sempat Arbi melanjutkan perkataannya, Revan lebih dulu menyela.
KAMU SEDANG MEMBACA
REVANZA (END)
Novela Juvenil"Jangan membenci takdir karena kita hanya manusia yang tidak tau apa-apa tentang apa yang akan terjadi selanjutnya" -Revanza Ini cerita tentang Revan si anak broken home yang selalu disiksa ayahnya. Perjalanan hidupnya tak selalu mulus, dia harus ke...
