Happy reading♡
° ° ° ° °
Airin dan Argi telah sampai di rumah Airin. Setelah melewati rasa salting yang panjang dan juga menahan kentut sepanjang jalan, akhirnya Airin bisa bernapas lega.
Argi menatap rumah minimalis bergaya modern itu. Rumah itu tidak terlalu besar dan juga tidak begitu kecil. Sangat sederhana dengan cat tembok berwarna putih.
"Sana masuk."
"Anu..."
"Perasaan dari tadi, lo, ngomong 'anu-anu' terus, deh," komentar Argi.
"Eum..."
"Gak ada kata lain?"
"Abang, jangan potong ucapan gue dulu," kesal Airin. Dalam hati dia menggerutu. Kesal sekali rasanya.
"Iya-iya."
"Makasih ya, bang," tulus Airin.
"Iya, masama, deh."
Airin tersenyum malu, "jangan lupa di cek. Gue ngechat lo apa enggak." Airin menundukkan kepalanya menahan malu.
Argi terkekeh, 'ada-ada saja, adik kelasnya ini.'
"Astaga ... lo, malu-malu begini, cuman gara-gara ini?" tanya Argi.
"Iya ... Mwehehe~"
"Ya udah. Nanti gue, cek. Gih, masuk!" ujar Argi.
"Gak mau mampir, bang?"
"Enggak. Gue laper, mau pulang," jawab Argi.
"Oke deh."
Argi lalu berlalu dari rumah Airin.
Saat Airin berbalik dan hendak masuk. Seorang wanita paru baya berlari ke arahnya.
"Siapa, tuh?" goda wanita itu.
"Udah move on kamu, dari Argi abang kelas SMP mu itu?" tanya wanita itu.
"Mama, apa-apaan, sih," kesal Airin.
"Aish, mama kan cuman pengen tahu," jawab wanita itu.
Maharini, Ibu dari Airin itu memasang wajah sedih.
"Tahu apa, sih, ma?"
"Kamu benar-benar tega."
"Tega apa lagi coba." Airin benar-benar prustasi menghadapi tingkah mamanya yang selalu dramatis.
"Mama, kutuk kamu jadi orang kaya." Maharini mengacungkan jari telunjuknya ke arah Airin.
"Astaga, Aamiin, deh." Meski begitu, Airin tetap meng-Aamiinkan ucapan mamanya.
"Jadi..."
"Apa," ngegas Airin.
"Cowok tadi siapa?"
"Kasih tau gak, ya?"
"Kasih tau, dong."
"Kepo banget, nih."
"Astaga, kamu banyak drama banget, sih, Rin," gerutu Maharini.
"Kan mama yang ngajarin," jawab Airin.
"Iya, sih ... Mwehehe~"
"Nyengir mama."
"Terserah, dong. Resek banget, sih, kamu ini," kesal Maharini.
"Mama tuh, kepoan jadi orang," jawab Airin.
"Loh, wajar dong. Apa salahnya coba nanya anak sendiri?"
Maharini tidak terima di katai kepo oleh anaknya sendiri. Enak saja, dia kan orang tua yang baik, jadi memang sepatutnya menanyai anaknya. Walaupun memang ada jiwa keponya sedikit. Ingat ya, SEDIKIT.
"Jadi, siapa cowok tadi, Rin?"
"Argi, mwehehe~"
"HAH?! KOK BISA, SIH?" Maharini tentu kaget. Bagaimana tidak? anaknya kan naksir berat dengan Argi. Kok tidak salting? Pikirnya.
"Bisa, ma," jawab Airin. "Dan lebih parahnya lagi ..." Airin menggantung ucapannya, membuat maharini gregetan.
"Apa? cepat kasih tahu."
"Argi, itu ..."
"Apa, Airin? jangan buat mama gak ngasih kamu makan, ya!"
"Dia anggota OSIS juga, ma," ujar Airin dengan cekikikan.
"Wah, takdir yang tidak di sangka." Maharini menggelengkan kepalanya takjub.
"Pepet gak, nih?"
"Pepet, dong ... yakali kagak." Maharini mengangkat tangan kanannya lalu membuat seakan meninju angin.
"Bukannya, mama dulu larang aku deketin, Argi, ya?"
Airin jelas keheranan. Bukan tanpa sebab, itu karena dulu mamanya sangat melarang dia mendekati lelaki.
"Dulu, kamu masih kecil. Sekarang, sih, gapapa. Pokoknya kamu harus bisa dapetin, Argi." Dengan semangat berkobar, dia memberi semangat kepada anaknya.
"By the way, ganteng gak, ma?" tanya Airin.
"Gb, gb, gb. Ganteng banget ... gbl, gbl, gbl. Ganteng banget, loh," jawab Maharini dengan menirukan tren tiktok yang sedang viral.
Airin tertawa, lalu memeluk wanita yang melahirkannya itu dengan tulus. Tidak ada kata yang dapat mengungkapkan seberuntung apa Airin memiliki mama seperti Maharini. Bahkan jika pun ada, itu pasti tidak akan cukup untuk mendeskripsikannya.
° ° ° ° °
KAMU SEDANG MEMBACA
Airin dan Kisahnya
Teen Fiction[FOLLOW DULU SEBELUM MEMBACA.] [UNTUK DIBACA, BUKAN DIPLAGIAT.] [HASIL IMAJINASI SENDIRI.] Warning⚠️: terdapat kata-kata kasar yang tidak untuk ditiru. HAPPY READING♡ Airin menyukai salah satu anggota OSIS. Argi namanya. Argi ganteng, baik dan ramah...
