Happy reading♡
° ° ° ° °
Argi mengotak-atik telepon genggamnya.
"Airin yang mana, sih?" Gumamnya.
Bagaimana tidak, dia benar-benar bingung, karena di hari yang sama, waktu yang sama dan tanggal yang sama, dua orang yang bernama Airin itu mengirim pesan kepadanya. Bedanya, yang satu mengungkapkan perasaannya, yang satunya lagi hanya sekedar meminta save. Belum lagi mereka tidak menyebutkan kelasnya.
"Tanya Ajeng, deh."
Ajeng
Woi
Apa?
Airin OSIS ada brp, sih? 2 bkn sih?
Iya, knp emngny?
Ok thanks. Gpp
(Read)
"Apa mungkin, Airin yang tadi itu, cuman yang minta save?" gumamnya.
"Bodoh banget gue, kenapa waktu itu gak langsung di save, aja coba," sesalnya.
"Ya udahlah, gak usah di save, aja."
Argi menutup gawainya. Lalu menaruhnya di nakas.
"Tidur, ah." Mata cokelat itu perlahan terpejam dengan rasa kantuk yang dengan cepat membawanya ke alam mimpi.
'Airin?'
Ah, bahkan di saat ngantuk menyerang dan hampir tidur. Argi masih memikirkan Airin mana yang di maksud.
***
Sinar matahari mulai menerangi dunia. Posisinya tepat berada di atas kepala yang artinya hari sudah siang. Akan tetapi, seorang gadis yang masih di dalam selimut itu, belum juga membuka matanya. Untungnya hari ini adalah hari minggu.
"Hoam..." Mata gadis itu perlahan terbuka. Dia meregangkan otot-otot tubuhnya.
"Jam berapa, ya?"
Matanya kemudian terfokus pada jam dinding yang menunjukkan pukul 11.26.
"Astagfirullah ... mama, kok, gak bangunin, sih." Gadis itu turun dari ranjangnya, lalu pergi ke ruang keluarga.
"Eh, tuan putri, udah bangun. Gimana tuan putri, tidurnya nyenyak?" tanya sang ibu.
"Ny-"
"Wajar, sih, nyenyak. Orang bangunnya jam setengah 12." Wanita itu memotong ucapan sang anak dengan sedikit sindiran.
"Hehehe~"
"Nyengir, kamu!" omel wanita itu.
"Mama, kenapa gak bangunin?" tanya gadis itu.
"Sengaja, mama mau liat jam berapa kamu bangun di hari minggu ini ," ucap wanita itu.
"Tapikan, Airin ada pertemuan OSIS, ma," jawab gadis itu. Benar dia adalah Airin.
"Jam berapa?"
"1 siang."
"Masih ada waktu, sayang," sahut Renal.
"Nah, benar tuh, dek." Reza menyahuti.
"Gih, mandi kamu," suruh Maharini.
"Wokey."
***
"Bik, mama sama papa, udah pergikan?" tanya Argi.
"Iya, den."
"Bagus deh."
Argi lalu memasukan kembali makanan yang tersisa sedikit.
Mata itu menatap ke arah depan, seolah menerawang. Otaknya terus berpikir dan bertanya-tanya. 'Airin yang kemarin itu, yang confess atau yang hanya sekedar minta save.' pertanyaan itulah yang selalu berputar di otaknya.
Astaga. Rasanya, otaknya ingin pecah memikirkan hal tersebut. Lalu satu kalimat memutar di otak. 'kenapa dia harus tahu Airin yang mana? itu juga bukan hal yang penting bukan?'
'Baiklah, setidaknya aku tahu salah satu dari nama Airin menyukaiku,' batinnya.
Karena otak yang terus memikirkan Airin, Argi jadi tidak sadar, makanannya sudah habis tak tersisa.
Argi mengelap bibirnya dengan tisue, "bik, saya udah selesai. Beresin aja."
Argi melangkahkan kakinya keluar dari rumah tersebut. Tujuannya sekarang adalah sekolah. Sebenarnya malas, tetapi itu sudah kewajibannya sebagai anggota OSIS.
***
Brak
Tubuh kecil itu tidak sengaja menabrak seseorang yang memiliki dada yang bidang.
"Ah, maaf ya."
"Gapapa. Lain kali, hati-hati."
"Ah, iya. Sekali lagi maaf ya, bang-"
"Ardi."
"Eum, baik, bang Ardi."
"Lo, sendiri?"
"Gue Airin."
"Airin, aja? yang lengkap, dek. Di OSIS kan ada dua yang nama, Airin," sebut Ardi.
"Airin-"
° ° ° ° °
Wiuhh, Airin mana tuch🤔
Tebak prenn
Airin si pemeran utama?
Atau
Airin si pemeran figuran?
Kiww
KAMU SEDANG MEMBACA
Airin dan Kisahnya
Fiksi Remaja[FOLLOW DULU SEBELUM MEMBACA.] [UNTUK DIBACA, BUKAN DIPLAGIAT.] [HASIL IMAJINASI SENDIRI.] Warning⚠️: terdapat kata-kata kasar yang tidak untuk ditiru. HAPPY READING♡ Airin menyukai salah satu anggota OSIS. Argi namanya. Argi ganteng, baik dan ramah...
