PART 6: KELUARGA

87 11 1
                                        

Happy reading♡

° ° ° ° °

Tap

Tap

Tap

Langkah kaki seorang pria memasuki sebuah rumah terdengar. Dari lantai atas, tampak terdengar dua orang yang sedang adu mulut.

"ENGGAK USAH KAMU SALAHIN AKU SELINGKUH. JELAS-JELAS, KAMU DULU YANG SELINGKUH DARIKU."

Teriakan murka dari seorang lelaki di atas sana membuat lelaki yang baru saja memasuki rumah tersebut segera berlari menuju lantai atas rumah tersebut.

"JELAS-JELAS KAMU YANG DULUAN, YA, PA."

"APA-APAAN KAMU MENUDUHKU."

"KAMU-"

"CUKUP," teriak lelaki yang baru saja memasuki ruangan itu.

Pasangan baru baya itu menoleh ke arah sumber suara, dan betapa kagetnya mereka melihat lelaki tersebut adalah anaknya.

"ARGI CAPEK, MA, PA."

"Argi capek." Argi terduduk di lantai dengan menundukkan kepalanya. Dia benar-benar lelah mendengar perdebatan orang tuanya.

Sedangkan wanita paru baya tadi, berlari menuju Argi yang terduduk di lantai dengan kepala tertunduk.

Ikut berjongkok, wanita itu Memeluk Argi, sembari menggumamkan maaf.

"Maafin mama, sayang," gumam wanita itu.

"Maafin mama. Maafin mama, belum bisa jadi orang tua yang baik, buat kamu." Permintaan maaf itu di ucapkan dengan sangat tulus. Sedangkan lelaki paru baya tadi sudah pergi entah kemana.

Argi membalas pelukan ibunya, "kenapa harus, Argi, ma."

Argi mulai mengeluarkan air matanya. Tidak bohong, ini benar-benar menyakitkan walaupun ini bukan pertama kalinya orang tuanya bertengkar.

"Argi, gak kuat ... Hiks." Air mata Argi mengalir deras.

"Maafin mama, ya, sayang."

Pelukan tersebut mulai teruraikan, membuat wanita itu memegang kedua rahang anaknya.

Menghapus air mata yang masih tersisa, dia berkata, "mama tau, ini akan menyakiti untukmu ..."

"... tetapi, kamu harus menerimanya nak. mama dan papa memutuskan untuk berpisah. Tetapi, satu yang harus kamu ingat, bahwa mama dan papa sayang sekali kepadamu."

Mengecup puncak kepala anaknya, "gih, ke kamar, mama udah masak, loh," beritahu wanita itu.

Argi hanya diam, lalu tersenyum singkat. 'Pelan-pelan, aku akan menerima takdir ini,' batinnya.

"Iya."

***

Lain halnya dengan keluarga Argi, keluarga Airin nampak tengah menonton televisi bersama. Di sana, terlihat Renal-papa Airin, Maharini, Airin, dan Reza-abang Airin.

"Abang!"

"Apa?" Lelaki berusia 34 tahun itu menoleh kepada adiknya.

"Di SMA, abang ngajar ada cogan enggak?" tanya Airin.

"Ada dong."

"Bang, di SMA kamu ngajar ada enggak guru cewek yang masih mudanya?" tanya Maharini.

"Ada dong, ma," jawab Reza.

"Ya udah, deketin, dong," pungkas Airin.

Reza, meskipun sudah di kepala tiga, dia masih setia melajang sampai sekarang. Katanya sih, 'cewek itu ribet, jadi, gue enggak mau nikah dulu. Atau bahkan gue enggak bakalan nikah.'

"Males abang, dek. Mana dandanannya belang lagi," jawab Reza.

"Pftt." Airin, Maharini, dan Renal tidak dapat menahan tawa mereka mendengar hal tersebut.

"Astaga ... belang seperti zebrakah?" tanya Airin dengan tawanya yang belum berhenti.

"Tau, kamu bang. Papa jadi bayangin manusia zebra," sahut Renal.

"Abang serius, loh, pa," ujar Reza.

Renal menghentikan tawanya, "iya deh."

Renal menatap putrinya, "adek, papa dengar dari mama, kamu lagi suka cowok?" tanya Renal

"Eum ... "

Mata Airin memelas menatap mamanya. Sedangkan Maharini hanya menjulurkan lidahnya.

"Jawab, dek!" Reza menakut-nakuti Airin dengan suara tegasnya.

"Iya, pa." Airin menundukkan kepalanya. 'Duh, gawat ini,' batinnya.

"Ya udah, dek. Pepet terus, yak," ujar Renal memberi semangat.

"Tapi kamu harus ingat, harus menjaga batasan. Jangan sampai kamu di anggap cewek gak benar. Karena itu bisa buat, papa sedih," ujar Renal.

Airin menatap papanya yang tersenyum ke arahnya. Lalu secara tiba-tiba, dia menerjang tubuh Renal dengan pelukan. "Terima kasih, papa. Airin beruntung punya papa, seperti papa," ucap Airin.

° ° ° ° °

Airin dan KisahnyaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang