PART 20: KE MANA DIA?

43 4 0
                                        

Happy reading♡

° ° ° ° °


"Di mana, Airin?"

"Udah gue bilang gue enggak tau, bang." Rana jengah. Sedari tadi, Argi terus menanyakan pertanyaan yang sama.

"Enggak mungkin lo gak tau. Dia aja nginep di rumah lo," jawab Argi.

Argi panik. Sejak pagi hingga siang lelaki itu tidak melihat Airin di setiap sudut sekolah. Lelaki itu benar-benar yakin bahwa Airin pergi dan entah ke mana.

"Okey fine. Gue tau dia di mana," pasrah Rana.

"Di mana?" tanya Argi cepat.

"Gue gak bisa ngasih tau," jawab Rana.

"Ran, cepetan. Di mana, Airin?!" desak Argi.

"Dia pergi jauh."

Raut wajah Argi langsung memucat. Apakah Airin pergi karena kemarin lelaki itu membahas gadis yang dia sukai? apakah Airin cemburu hingga memutuskan pergi? apakah Airin cemburu dengan dirinya sendiri?

Oh tidak. Argi tidak dapat memikirkan kemungkinan yang akan terjadi jika Airin tidak kembali. Otak lelaki itu ngeblang. Dia bingung harus melakukan apa. Dia takut Airin tidak kembali. Dia takut Airin menyukai orang lain selain dirinya. Dia takut saat Airin kembali, gadis itu malah datang bersama lelaki yang mungkin bisa menjadi kekasih gadis itu. Dan banyak lagi ketakutan yang ada di hati lelaki itu.

"Thanks infonya." Argi lalu berbalik dan berjalan seperti orang linglung.

Menatap punggung tegak lelaki yang mulai menjauh itu, tak lama setelahnya Rana tersenyum.

"Rin?! kayaknya Argi udah suka sama lo, deh," gumam Rana.

***

Argi berbaring lesu di kamarnya dengan Rizki yang bermain game dismartphonenya.

"Lesu amat, Gi," ujar Rizki tetap terus fokus pada game yang dimainkannya.

"Lemes bestie. Ayangku pergi," kata Argi.

Rizki terbahak mendengarnya. "Jiahk! ayang gak, tuh."

"Belum ayang, sih. Tapi otw jadi ayang," jawab Argi.

Tiba-tiba pintu kamar terbuka dan terlihat Ardi masuk dengan membawa cemilan yang sempat di ambilnya dari kulkas rumah Argi.

"Bahas apa, nih?" tanya Ardi dengan mendudukkan dirinya di sofa sebelah Rizki.

"Itu, si Argi lemes ditinggal sama ayangnya," jawab Rizki.

"Siapa?"

"Si Airin, lah," jawab Rizki.

Menatap ke arah Argi, Ardi lalu bertanya, "serius?"

Raut wajah Argi berubah. Lelaki itu lalu berdehem. "Enggak tau."

"Lo suka dia?"

Argi melototkan matanya. "Kata siapa, hah?"

"Oh, gak suka? ya udah, berarti gue bisa deketin dia," kata Ardi.

"Heh! enak aja. Punya gue, tuh!" ngegas Argi.

"Jiakk! belum juga dipacarin, udah ngomong 'punya gue'," ejek Rizki.

"Tai, lo!"

"Jadi gimana? untuk gue aja lah, ya," kata Ardi.

"Sialan, lo! cari yang lain dong," ujar Argi.

"Iya-iya. Gitu doang marah."

"Marah, lah."

"By the way Airin ke mana sampe lo uring-uringan gak jelas?" tanya Ardi.

Argi menghela napas lalu menghembuskannya. "Gue enggak tau."

"Gak nanya temannya?" tanya Ardi.

"Udah. Tapi gak dikasih tau," jawab Argi.

"Lo pernah ngomong yang bikin dia sakit hati gak?" tanya Ardi.

"Kayaknya iya."

"Hayo lo. Dia ninggalin." Rizki yang sedari tadi menyimak langsung semangat untuk mengejek Argi.

"Nah, makanya. Gue takutnya dia ninggalin gue," kata Argi.

"Gapapa, Gi. Cewek masih banyak." Seseorang tiba-tiba menyeletuk.

Ketiga lelaki itu tampak kaget melihat seseorang itu.

"Kaget gue, anjing," ujar Rizki.

"Nama gue Alan bukan anjing," jawab lelaki itu.

Alan Subakti. Abang sepupu dari Argi. Lelaki yang cukup tampan untuk dipamerkan kepada orang-orang.

"Cewek mungkin banyak, bang. Tapi cuman sama dia aja gue nyaman," ujar Argi.

"Bisa bucin juga, lo. Dulu aja, katanya gak mau jadi cowok bucin," kata Alan.

"Ya gimana ya? habisnya gue nyaman," jawab Argi.

"Hadeuh. Emang lain kau."

"Emang lain bapakmu," sambung Rizki.

"Emang lain kau sekeluarga," lanjut Ardi.

Airin dan KisahnyaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang