Happy reading (◍•ᴗ•◍)
° ° ° ° °
"Argi?"
"Hmm."
"Kantin bareng, yukk."
Argi mengangkat kepalanya dari meja untuk melihat siapa yang mengajaknya.
Saat melihat orang yang mengajaknya adalah Lin, Argi lalu berkata, "gak minat."
"Loh kenapa?"
"Teman makannya lo soalnya," jawab Argi.
"Ih. Emang aku kenapa? aku kan cantik," ujar Lin.
"Percaya diri emang boleh. Tapi jangan terlalu kepedean," cibir Argi.
Lin memonyongkan bibirnya. "Aku sakit hati, loh, dengernya."
"Bagus dong." Argi lalu bangkit dari duduknya dan keluar dari kelas.
***
"RANA?!"
Rana melihat ke arah orang yang memanggil. Saat tahu itu Argi ekspresi Rana berubah menjadi senyuman.
"Eh, bang Argi. Cari Airin, ya, bang?" tanya Rana.
"Iya. Di mana Airin, kok belum balik?" tanya Argi.
"Belum pulang. Dia sakit hati banget karena ucapan lo," jawab Rana.
"Serius?!"
"Iya. Nomor lo diblokir dia kan?" tanya Rana.
"Iya, nomor gue diblokir dia," jawab Argi.
"Nah, itu. Dia mau move on dari Lo," kata Rana.
Argi menggeleng. "Enggak mungkin."
"Kenapa gak mungkin?"
"Dia itu udah bucin banget sama gue."
"Percaya diri itu bagus. Tapi jangan terlalu PD ya," ujar Rana lalu berlalu dengan senyum misterius.
Argi mengusap wajahnya frustasi. "Airin, ke mana sih lo?!" gumam Argi.
***
Pembagian rapor tinggal satu hari lagi. Akan tetapi Argi belum juga melihat Airin di sekolah. Sering kali setiap pulang sekolah lelaki itu singgah ke rumah Airin. Tetapi, dia harus menelan rasa pahit karena Airin tidak ada di rumahnya. Bahkan seluruh keluarganya juga tidak ada.
"Ran, ayo dong," paksa Argi. Saat ini lelaki itu sedang berada di depan kelas Airin dan terus memaksa Rana untuk memberi tahu di mana Airin berada.
Raut muka Rana terlihat lelah menghadapi lelaki di depannya itu.
"Besok gue kasih tau," jawab Rana.
Argi menghela napas lelah. "Ayolah, Ran. Please."
"Gue enggak bisa ngasih tau sekarang, Bang," kata Rana.
"Okey, gue tunggu besok." Argi lalu pergi dari meninggalkan Rana.
"Hurf! syukur deh dia pergi."
***
"Diem-diem bae lo, Ar," celetuk Rizki.
"Serah gue dong," jawab Argi.
Rizki memandang Argi tak suka. "Dih, ngegas si monyet."
Saat ini Argi dan Rizki tengah berada di sebuah cafe yang lumayan terkenal di Jakarta. Sebenarnya tadi Argi hanya ingin pergi sendiri, tetapi sebagai teman yang baik Rizki pergi juga untuk menemani Argi yang sedang galau.
Argi menyesap kopinya. "Gue bingung, nyet."
Rizki yang semula bermain game online di handphonenya sontak saja langsung menatap ke arah Argi.
"Bingung kenapa, tuh?" tanya Rizki.
"Ayangku pergi entah kemana," jawab Argi.
"Dih, emang punya ayang, bestie?" tanya Rizki.
"Punya dong, bestie," jawab Argi.
"Halah, sok-sokan ayang-ayangan. Jadian aja kagak lo anjir," sindir Rizki.
"Gapapa kan? gak ada larangan juga," sahut Argi.
"Dasar friendzone," hina Rizki.
"Gapapa friendzone, dari pada lo, udah confess eh ternyata dia punya cowok yang belum di publish," jawab Argi.
"Anjeng."
Kedua lelaki tampan itu lalu terbahak mendengar percakapan mereka yang sangat freak.
Rizki tiba-tiba menghentikan tawanya. "Eh, kaya kenal anjir," ujar Rizki.
"Hah? maksud lo?" bingung Argi.
Rizki menunjuk ke arah seorang gadis dan lelaki yang tengah duduk membelakangi mereka. Tampaknya kedua orang itu tengah tertawa. "Itu noh."
Argi melihat ke arah seorang yang di tunjuk oleh Rizki. Argi seperti mengenalinya, tetapi lelaki itu tampak asing dengan lelaki di dekat gadis tersebut.
"Airin bukan, sih?" tanya Rizki.
Argi mengangguk ragu. "Iya kayanya."
"Hayo lo. Ayangnya direbut," canda Rizki.
"Tai lo."
° ° ° ° °
KAMU SEDANG MEMBACA
Airin dan Kisahnya
Novela Juvenil[FOLLOW DULU SEBELUM MEMBACA.] [UNTUK DIBACA, BUKAN DIPLAGIAT.] [HASIL IMAJINASI SENDIRI.] Warning⚠️: terdapat kata-kata kasar yang tidak untuk ditiru. HAPPY READING♡ Airin menyukai salah satu anggota OSIS. Argi namanya. Argi ganteng, baik dan ramah...
