PART 16: KANTIN

50 6 0
                                        

Happy reading♡

° ° ° ° °


Pertandingan putri kelas Airin sudah selesai beberapa menit lalu. Kelasnya kalah. Tetapi itu wajar, karena lawan kelasnya adalah kakak kelas yang memiliki tubuh yang besar-besar. Kakak kelasnya juga rata-rata mengikuti ekstrakurikuler bola, sedangkan kelas Airin banyak yang mengikuti seni tari.

Maka, di sinilah Airin berada. Di tepi lapangan bola dengan menatap penuh binar ke arah Argi yang sedang bertanding bola melawan kelas sebelah.

"Ayo-ayo, semangat!" seru Airin tanpa menghiraukan penonton yang melihat ke arahnya.

Tugas OSIS? untuk yang mengikuti pertandingan, mereka di suruh istirahat dulu. Kasihan juga jika harus langsung disuruh bertugas. Makanya, sekarang Airin memilih untuk menonton pertandingan Argi saja.

Argi melihat ke arah gadis yang memberi semangat itu. Saat tahu gadis itu adalah Airin, dia langsung mengeluarkan skill-nya dalam bermain bola.

Saat bola di oper ke arahnya, dengan segera lelaki itu menendang bola ke arah gawang.

"Gol." Penonton bersorak gembira, terlebih Airin dan siswi kelas kelas 11 MIPA 1.

Points pertama didapatkan oleh kelas XI MIPA 1. Dan skorsnya adalah 1-0.

***

"Gue gak nyangka, bang Argi sehebat itu main bola." Dengan memberikan Argi minum, Airin berujar dengan gembira.

Benar apa yang diduga oleh Airin, kelas Argi adalah pemenang dari pertandingan sepak bola tadi. Kelasnya mendapat skors 4 sedangkan tim lawan hanya mendapat skors 1.

Dan sekarang, Airin dan Argi berada di kantin sekolah. Tidak ada teman-teman Argi, karena mereka memutuskan untuk ke kelas.

Meneguk air yang di berikan Airin, setelahnya Argi berkata, "Thanks."

"Sama-sama."

"Bang, mau pesan apa?" tanya Airin.

"Mau traktir gue makan?" tanya Argi.

"Iya. Sebagai ucapan selamat," jawab Airin.

"Gak perlu, Rin. Gue bisa beli sendiri." Argi menolah sungkan.

"Gapapa, loh, bang," kata Airin.

"Simpan aja duit lo. Biar gue aja yang traktir," ucap Argi.

"Tapi-" Belum selesai Airin berujar, Argi sudah memotong terlebih dahulu.

"Gue gak suka ditolak."

"Ya udah, deh, kalo Abang sendiri maksa." Airin tersenyum malu.

"Oke. Mau beli apa?" tanya Argi.

"Mie ayam, aja," jawab Airin dengan malu-malu.

"Kalo gitu, gue pesan dulu. Lo duduk di sini aja gak usah ikut," kata Argi.

"Oke."

***

"Rin, lo makannya lama banget." Argi terus memperhatikan Airin yang makannya sangat lambat.

Bagaimana tidak di bilang lambat, 5 menit lalu Argi sudah selesai makannya, sedangkan punya Airin masih tersisa banyak di mangkuk.

"Namanya juga cewek, bang," jawab Airin. Lalu melanjutkan makannya.

"Ya udah, deh. Gue duluan ya. Takut di cari anak kelas." Argi berdiri lalu berlalu dari sana.

"Tunggu dulu." Suara Airin menghentikan langkah Argi.

Menoleh ke belakang tepatnya Airin duduk. "Kenapa?"

Tersenyum malu, Airin berkata, "mie ayamnya udah di bayar, kan?"

Argi terkekeh. "Udah kok, tenang aja."

"Hmm. Oke."

Argi lalu melanjutkan langkahnya. Setelah punggung lelaki itu sudah tidak terlihat, barulah Airin makan dengan lahap. Jangan tanya kenapa tiba-tiba berubah menjadi lahap, itu karena tadi sewaktu masih ada Argi, gadis itu sedang melakukan pencitraan agar Argi tidak menganggapnya jorok.

Ahh

Tak butuh waktu 10 menit, mie ayam itu sudah ludes tak tersisa. Astaga, Airin benar-benar kenyang sekarang. Ditambah lagi setelah meminum air putih. Perutnya tambah kenyang.

"Kenyang banget. Kalo tiap hari begini, gue bisa gemuk," gumam Airin.

Airin bangkit dari duduknya, gadis itu lalu keluar dari kantin menuju kelasnya.

Saat di koridor sekolah, seseorang memanggil gadis tersebut.

"AIRIN?!" pekik Rana dari belakang.

Membalikkan badannya menatap Rana yang ngos-ngosan karena mengejarnya.

"Kenapa?"

"Itu-huh mereka." Rana berbicara dengan napas yang tersengal-sengal.

"Tenangin diri lo dulu, Ran," ujar Airin.

Rana menarik napas panjang lalu mengembuskannya pelan-pelan. Setalah gadis itu tampak lebih tenang, Airin baru bertanya sekali lagi.

"Kenapa, Ran?"

"Argi sama salah satu siswa kelas 11 MIPA 2 berantem!" ujar Rana.

"Apa?!" kaget Airin.

"Kenapa bisa?" tanya Airin.

"Kelas 11 MIPA 2 gak nerima kekalahan mereka," jelas Rana.

"Seriously?"

"Iya."

"Mereka gak sportif banget," komen Airin.

Rana mengangguk setuju.

"Sekarang gimana?"

"Mereka masuk ruang bimbingan konseling," jawab Rana.

"Apa? tapi OSIS pantang masuk BK," ujar Airin.

"Nah itu," kata Rana.

"Ya udah, deh. Kita ngintip yuk, Ran," ajak Airin.

"Kuylah."

Mereka lalu sama-sama berjalan ke arah ruang BK.

° ° ° ° °

Airin dan KisahnyaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang