Happy reading♡
° ° ° ° °
Hari pertama class meeting sudah selesai. Jam menunjukkan pukul 5 sore. Sekarang Airin tengah berada di rumahnya. Duduk di kursi single di ruang tamu rumahnya dengan wajah cemberut. Perasaan dongkol timbul dari hatinya. Bagaimana tidak? sekarang semua orang di rumah sedang pergi ke rumah neneknya dari sebelah ibu di Kecamatan Tanjungpandan kabupaten Belitung provinsi Bangka Belitung.
"Assalamualaikum ... " seru Airin.
Pintu rumah itu tidak juga terbuka, padahal ini sudah ke 3 kalinya gadis itu berseru.
"Airin?!" panggil seorang tetangga samping rumah Airin.
Airin menoleh, "kenapa, buk?"
Wanita itu mendekat, lalu memberikan sebuah kunci. "Ini kunci rumahmu. Orang tuamu pergi ke rumah nenekmu sebelah ibu," ujar wanita itu.
Airin mengambil kunci tersebut, lalu berkata, "kenapa mereka enggak jemput aku aja, buk?"
"Mereka terburu-buru di karenakan nenekmu sedang sakit Airin," jawab ibu itu.
"Abang juga pergi, buk?"
"Semua pergi, Rin."
"Oh ... makasih ya buk."
"Iya Rin, sama-sama."
"Video call abang, ah." Airin lalu mengambil telepon genggamnya yang terletak di meja.
"Ya, assalamualaikum, Rin." Dari layar telepon genggam tersebut terlihat muka Reza dan terdengar suaranya.
Airin melotot garang yang malah membuat mukanya terlihat lucu. "Ke rumah nenek, kok, gak ngajak aku, sih?!" gerutunya.
"Kan kamu sekolah, dek," jelas Reza.
"Tapikan setidaknya ngomong dulu," seru Airin.
Reza terkekeh melihat tingkah Airin, lalu berkata, "udah ngomong sama tetangga, kok."
"Ihh, kan keluarganya aku! Kok ngomongnya sama tetangga, sih."
"Kamu kan tadi masih sekolah, adek." Reza jadi greget sendiri di buat Airin.
"Ihh, tau ah. Aku ngambek pokoknya." Airin membuang mukanya ke arah samping dengan bibir mengerucut seakan dia sedang ngambek.
"Dih, ngambek aja."
"Ahh~ abang mah gak asik," rengek Airin.
Dari layar headphone terlihat Reza menggigit bibir bawahnya menahan gemes. "Hmm ... pulang mau di bawain apa?"
Mata Airin berbinar. "Apa aja!" seru Airin.
"Sip nanti--"
"Itu siapa bang Eja?" Dari layar terdengar suara perempuan.
"Ihh, abang itu siapa?" tanya Airin cepat.
"Sini Wi." Muncul wajah perempuan dari layar headphone Airin. Dia Dewi, sepupu Airin.
"Dewi?" kaget Airin.
"Hai, Rin," sapa Dewi.
Airin melotot seraya berkata, "berani banget kamu manggil nama bang Eja pake nama 'Eja.' itu nama panggil spesial dari aku untuk abangku tau," ucap Airin.
Dewi menjulurkan lidahnya, "biarin, wle."
"Abang!!" rengek Airin.
Reza dan Dewi tertawa di sebrang sana. Lalu terdengar suara Reza mengusir Dewi membuat perempuan itu meninggalkan Reza.
"Cemburu, hmm?" tanya Reza.
"Bangett."
"Hahaha ... tenang aja, abang enggak bakalan dekat sama Dewi, kok," ujar Reza.
"Awas ya deket-deket, Dewi," ancam Airin.
"Kenapa emang kalo abang dekat, Dewi?" Goda Reza.
"Ihh, abang kan abang aku," rengek Airin.
"Iya-iya."
"Mama sama papa mana bang?" tanya Airin.
"Ada, mama lagi ngurus nenek, kalo papa lagi nonton televisi," jawab Reza.
"Eum ... oke deh. Sampaiin salam Airin sama mereka ya."
"Okee."
"Bye bang Eja jelek. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Panggilan video itu lalu terputus karena di matikan oleh Airin.
"Tidur ah. Dari pada enggak ngapa-ngapain." Airin melangkahkan kakinya menuju kamar. Sebelum itu, dia terlebih dahulu menutup pintu dan semua jendela yang ada.
***
Jam menunjukkan pukul setengah 1 malam. Airin terbangun dari tidurnya karena lapar. Dirinya merasa berdosa, sebab sudah melewatkan 2 waktu salat.
Berjalan menuju pintu keluar kamar, Airin terkaget saat keluar dari kamar. Rumahnya gelap gulita di karenakan dia tidak menghidupkan lampu. Bagaimana mau menghidupkan, orang dia tidur dari sore sampai jam setengah 1 malam.
Berjalan menuju saklar untuk menghidupkan lampu, Airin terkejut saat lampu tidak bisa menyala.
'Mati lampu atau habis pulsa listrik ya?' batin Airin.
Berjalan menuju kamar untuk mengambil telepon genggamnya, Airin kembali terkejut saat tiba-tiba genteng berbunyi seperti di lempari batu. Pelan-pelan melangkah ke asal suara genteng berbunyi yang ternyata berasal dari dapur. Secara tiba-tiba air galon di dapur terdengar berbunyi juga, bahkan bunyinya lebih besar dari biasanya membuat Airin menciut.
Bergegas menuju kamarnya kembali, Airin dikagetkan lagi saat melihat seorang wanita berbaju putih dengan wajah merah di ruang keluarga. Sesaat, Airin terdiam kaku saat melihat telapak kaki itu tak nampak, dan saat mata Airin bertatap dengan wanita, Airin shock melihat mata wanita itu berwarna merah pekat seperti darah atau memang darah.
Keringat bercucuran deras di dahi Airin. Bajunya basah oleh keringat dan muka Airin tampak pucat.
Menutup matanya seraya menggelengkan kepalanya kuat-kuat, Airin bergumam, "enggak ini enggak mungkin."
Sesaat kemudian saat Airin membuka matanya, pandangan gadis itu mulai kabur dan akhirnya gadis tersebut tak sadarkan diri setelah melihat penampakan hantu yang berada di rumahnya.
° ° ° ° °
KAMU SEDANG MEMBACA
Airin dan Kisahnya
Novela Juvenil[FOLLOW DULU SEBELUM MEMBACA.] [UNTUK DIBACA, BUKAN DIPLAGIAT.] [HASIL IMAJINASI SENDIRI.] Warning⚠️: terdapat kata-kata kasar yang tidak untuk ditiru. HAPPY READING♡ Airin menyukai salah satu anggota OSIS. Argi namanya. Argi ganteng, baik dan ramah...
