PART 26: SAMA-SAMA TERLUKA

52 4 0
                                        

Happy reading 💗

note: Huruf Italic/miring itu sebagai kilas balik yaa.

÷÷÷÷÷

"Karena kenyataannya kita adalah dua insan yang sama-sama terluka." --Argi Mahardika.

÷÷÷÷÷

Airin termenung di tempat duduk meja belajar. Kepala gadis itu dijatuhkan ke atas meja dengan tangan sebagai bantalan. Mata gadis itu terpejam. Ingatannya memutar mengingat pada kejadian di pantai yang dia kunjungi tadi sore.

Sehabis makan, Airin dan Argi tak memutuskan untuk pulang. Mereka memilih menghabiskan waktunya untuk saling bertukar cerita, pikiran, dan perasaan.

"Bang, kamu kenapa bisa mau sama aku?" tanya Airin.

Argi tersenyum mendengarnya. Ditatapnya wajah gadis di hadapannya itu. "Kamu tau? kamu itu spesial, Airin. Kamu, cewek satu-satunya yang berhasil bikin aku luluh cuman karena liat perjuangan kamu saat mau ngedapatin aku," jelas Argi.

Argi menatap dalam mata Airin. "Jadi, jangan pernah tinggalin aku, ya!" ungkap Argi.

Airin tersenyum lebar seraya memegang erat tangan Argi yang ada di atas meja. "Aku janji, aku janji gak bakalan ninggalin kamu," tutur Airin.

Argi mengangguk. "Aku percaya."

Mata Airin terbuka. Air matanya tiba-tiba saja mengalir deras turun dari mata hingga melewati pipinya yang putih.

"Maaf bang. Maaf aku gak bisa tepatin janjiku," lirih Airin.

Mata Airin kembali terpejam. Gadis itu mengingat jelas apa yang dijelaskan oleh Ayahnya juga Tante Raya. Mereka bilang, 18 tahun lalu saat Renal sedang menghadiri acara ulang tahun perusahaan temannya lelaki itu tidak sengaja meminum alkohol. Karena itulah dia yang tidak sengaja melihat Raya langsung menyeretnya menuju kamar hotel. Lalu saat dia bangun, dia dan Raya ternyata sudah melakukan hal yang membawa dampak negatif terhadap keluarga dan itu malah menghasilkan anak yang sekarang sudah berusia 17 tahun yaitu Argi. Lalu setelah kejadian itu mereka berpisah hingga pada 5 tahun lalu kembali bertemu dan menjalin hubungan terlarang hingga sekarang.

Airin menghela napas panjang. Gadis itu sangat-sangat kecewa dengan ayahnya. Padahal selama ini gadis itu selalu membanggakan ayahnya yang bisa menghargai perasaan perempuan terutama Mamanya.

Airin bangkit dari tempat duduknya. Gadis itu lalu mengambil secarik kertas dan kembali duduk. Tangan indahnya lalu mulai menulis di atas kertas itu.

"Selesai!" ujar Airin.

*****

Argi duduk di rumput tepi danau dengan menekuk lututnya. Pandangan matanya fokus mengarah ke depan. Ia seolah menerawang suatu kejadian.

Angin malam yang begitu dingin tak membuatnya meninggalkan tempat itu, tetapi dia malah ingin terus berada di sana dengan angin kencang itu. Kencangnya angin malam membuat beberapa dedaunan jatuh ke kepala Argi.

Mata laki-laki itu terpejam. Ingatannya kembali kepada hari dimana dia mulai berpacaran dengan Airin. Hari-hari yang dilewatinya begitu indah sejak Ia berpacaran dengan gadis gadis itu. Akan tetapi, belum sampai sebulan hubungan mereka, dia dan Airin seperti terpaksa berpisah hanya karena kesalahan orang tua. Ini benar-benar miris.

"Rin, apa kita bisa sama-sama terus?" Tak ada yang menjawab karena memang tak ada orang selain dirinya di situ.

Argi membuka matanya. Lelaki itu mengambil napas panjang lalu menghembuskannya secara perlahan. Dia lalu berdiri dan meninggalkan danau tersebut.

Setelah memasang helm, laki-laki itu lalu menaiki motornya dan melesatkan motornya dengan kecepatan tinggi tanpa memikirkan keadaannya nanti.

÷÷÷÷÷

"Apa itu, Ayah?" Tenggorokan Argi terasa tercekat saat memanggil 'Ayah' kepada Renal.

"Surat ... dari putriku," jawab Renal.

Argi mengangguk kecil. Tangannya lalu mengambil surat yang disodorkan oleh Renal. "Terima kasih."

Renal mengangguk sebagai jawaban. Pria itu lalu pamit berlalu dari rumah anaknya, Argi.

Argi menutup pintu setelah melihat Renal meninggalkan pekarangan rumahnya. Laki-laki itu perlahan berjalan menaiki tangga menuju kamarnya.

Membuka pintu kamar, Ia lalu masuk dengan menutup pintu kembali.

Argi mendudukkan diri di atas tempat tidurnya. Tangannya perlahan membuka surat yang diberikan oleh kekasihnya melalui perantara ayah mereka.

Hai abang kelas favoritku.

Banyak hal yang ingin aku sampaikan langsung kepada kamu, tetapi sepertinya tidak bisa. Jadi, aku memutuskan untuk menuliskan surat saja, ya!

Bang, dulu saat kita masih SMP, aku selalu merasa bahwa kita hanya akan bisa menjadi dua orang asing. Bukan karena apa, tetapi karena saat kamu lulus SMP aku benar-benar putus asa karena tak tahu kamu akan melanjutkan perjalananmu ke mana. Tapi saat aku memasuki masa menengah atas aku benar-benar tak menyangka bahwa kita akan satu sekolah lagi.

Bang, kamu tau? saat aku melihatmu di depan pintu aula waktu itu, aku benar-benar sudah bertekad untuk dekat denganmu, dan ternyata aku berhasil hehe...

Bang, Aku bener-benar beruntung bisa mengenal abang, Aku beruntung bisa dekat dengan Abang, dan aku jauh lebih beruntung karena sejauh ini aku sudah memiliki hati Abang.

Bang, maaf ya, karena kesalahan papaku aku dan kamu tidak akan bisa menjadi kata kita. Karena pada kenyataannya kita adalah saudara sedarah yang tidak akan bisa bersama.

Hubungan kita sampai di sini saja, ya? aku pamit dari kehidupan Abang. Semoga Abang mendapatkan seseorang yang lebih lebih lebih dariku yang bisa Abang bawa ke atas pelaminan nanti.

See you and love you...

Salam hangat

Airin Anaya

Mata Argi berkaca-kaca, laki-laki itu benar-benar tertampan dengan kalimat yang menyatakan bahwasanya mereka adalah sedarah.

Argi mendongak menatap atap kamarnya. Laki-laki sadar bahwa mereka berdua adalah insan yang sama-sama terluka atas kekacauan yang dibuat kedua orangtuanya.

"Karena pada kenyataannya kita adalah dua insan yang sama-sama terluka ... see you," gumam Argi lalu menyimpan surat itu dengan penuh hati-hati.

÷÷÷÷÷

Airin dan KisahnyaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang