Happy reading♡
° ° ° ° °
"Rin, bangun, Rin." Terlihat seorang gadis membangunkan temannya yang tertidur atau lebih tepatnya tak sadarkan diri di lantai rumah.
"Ngeuh ... " Mata cokelat dari gadis bernama Airin terbuka. Mukanya langsung pucat.
Saat menatap seorang gadis yang membangunkannya tersebut, Airin berteriak, "AKHH."
Gadis bernama Rana memasang wajah datar. "Lo kenapa teriak, njir?"
Airin dengan muka pucatnya menjawab, "gue kira lo setan yang kemarin gue liat."
Rana mengernyitkan dahi, "aneh lo. Mana ada setan di sini," jawabnya.
"Gue serius, njir," jawab Airin.
"Really?"
"Iya. Mana mukanya berdarah-darah gitu. Gue juga udah pastiin dia nampakin kakinya di lantai apa enggak. Dan lebih mencengangkan lagi, dia enggak nampakin kakinya di lantai," jelas Airin. Mengingat kisah semalam, Airin semangkin bertambah takut.
"Halu lo, anjir," pungkas Rana.
"Enggak woi ... ini bukan halu," bantah Airin.
"Lebih baik Lo mandi, deh, Rin. Siapa tau halunya berkurangkan?" ujar Rana.
"Gue enggak nyuruh lo percaya, sih. Yang pasti gue udah cerita," kata Airin.
"Ngomong-ngomong lo, kok, ada di sini?" tanya Airin.
"Nyokap lo nyuruh gue jemput lo," jawab Rana.
"Jam berapa sekarang?" tanya Airin.
"06.00."
"Gue mandi dulu. Lo tungguin di depan pintu kamar mandinya, ya?" mohon Airin.
Rana berdecak, "iya-iya."
"Oke."
***
"Hallo, bang Argi!" sapa Airin.
Airin mendudukkan dirinya di samping Argi duduk. Mereka menjadi anak gawang bersama. Sebenarnya tugas Argi adalah memunguti sampah, tetapi dia ingin bertukar tugas menjadi anak gawang. Entah alasan apa yang membuatnya bertukar tugas.
Argi menoleh ke arah Airin yang sudah duduk di rumput samping Argi duduk. "Ya, hallo."
"Kelas abang kapan tandingnya?" tanya Airin.
"Besok. Kalau kelas lo?"
"Kelas gue besok juga," jawab Airin.
"Abang, besok setelah tanding, mau makan bareng?" tawar Airin.
"Boleh." Argi kembali fokus pada pertandingan yang tengah berlangsung.
"Udah suka gue belum, bang?" Tiba-tiba Airin menanyakan pertanyaan yang membuat Argi bingung.
Argi tersenyum tak enak, lalu menjawab, "suka sebagai teman, sih, pasti suka. Tapi kalo lebih, kayanya belum."
Airin tersenyum, "ya udah, gapapa. Berarti masih ada kemungkinan kita pacaran, kan?"
"Kayanya, sih, ada. Tapi belum pasti," jawab Argi.
"Iya, gapapa ... by the way gue belum tahu nama panjang lo, bang."
"Nama panjang gue Argi Mahardika," jawab Argi.
Airin teringat nama ibunya mendengar nama tersebut. "Oh, sekilas mirip nama mama gue."
Argi tersenyum menanggapi. "Nama mama lo siapa emangnya?"
"Maharini."
"Iya, mirip dikit," komen Argi.
"Nah, kan-kan. Apa kata gue."
"Iya-iya."
Hening sesaat, sebelum Airin akhirnya memanggil Argi lagi.
"Bang?"
Argi berdehem tanpa menoleh.
"Kalo kita pacaran pasti jadi lebih indah ya dunia ini?" ujar Airin.
Argi menoleh, tampaknya lelaki itu sedikit risih mendengar ucapan Airin. "Terdengar seperti halu, tapi gapapa lanjutin aja, Rin," jawab Argi.
Airin tersenyum kecut, lalu tersenyum kembali.
"Gue kemarin ngeliat setan." Airin membuka percakapan setelah terjadi keheningan mendengar jawab Argi tadi.
Terkekeh pelan, Argi lalu menjawab, "lawak."
"Serius tauk," protes Airin.
"Kayanya tingkat halusinasi lo udah stadium akhir," jawab Argi.
"Gue serius, bang." Airin tetap teguh pada apa yang dia ucapkan.
"Gue jadi tambah yakin kalo lo itu udah gila gara-gara suka sama gue," ujar Argi.
Bibir Airin memaju sedikit. Gadis itu tampak kesal karena Argi tidak mempercayainya. "Yaudah kalo gak percaya."
° ° ° ° °
Di sini Argi sudah mulai merasa risih gess. Tapi tenang aja, di part selanjutnya pasti lebih risih.
KAMU SEDANG MEMBACA
Airin dan Kisahnya
Teen Fiction[FOLLOW DULU SEBELUM MEMBACA.] [UNTUK DIBACA, BUKAN DIPLAGIAT.] [HASIL IMAJINASI SENDIRI.] Warning⚠️: terdapat kata-kata kasar yang tidak untuk ditiru. HAPPY READING♡ Airin menyukai salah satu anggota OSIS. Argi namanya. Argi ganteng, baik dan ramah...
