Happy reading
° ° ° ° °
"Lo pintar juga, Rin."
Pembagian rapor sudah selesai. Airin mendapatkan juara satu di kelasnya dan Argi mendapatkan juara kedua di kelasnya. Airin pun tadi sempat tak menyangka dia akan menjadi juara satu.
Saat ini, kedua sejoli ini tengah berada di taman sekolah. Duduk bersebelahan seraya menatap fokus ke arah depan memperhatikan taman yang begitu indah dan asri ini.
Airin menoleh ke samping, lalu tersenyum. "Makasih, Lo juga pintar kali, Bang," ujar Airin lalu kembali menatap fokus ke arah depan.
"Thanks."
"Ya."
Hening sesaat. Tak lama Argi lalu membuka suaranya lagi.
"Kemaren, gue liat lo kafe Persinggahan. Sama cowok, itu siapa lo?" tanya Argi dengan menatap Airin yang ada di sampingnya.
Bukannya menjawab, Airin malah bertanya balik. "Lo kemaren ada di sana juga?"
"Iya."
"Em ...."
"Jadi, siapa, Rin?" tanya Argi lagi.
Airin menoleh dan pandangan mata gadis itu terlihat ragu untuk menjawab. "Gue dijodohin dan itu cowoknya," jawab Airin
Wajah Argi berubah menjadi tak suka. "What the hell?!"
"Sorry, Bang. Tapi gue gak bisa nolak," jawab Airin.
Menghela nafas, Argi lalu berkata, "Kenapa?"
"Emang kenapa gue harus nolak?" Airin bertanya balik.
"Karena gue suka sama lo, Rin," ujar Argi.
Ekspresi Airin terlihat kaget tak lama gadis itu menormalkannya kembali. "Lo gak suka gue," kata Airin.
"Tapi kenyataannya, gue suka sama lo, Rin," tekan Argi.
"Enggak. Lo gak suka gue," jawab Airin.
"Siapa yang bilang?"
"Lo. Waktu di taman lo bilang begitu," jawab Airin.
"Yang gue maksud di taman itu ya diri lo sendiri, Rin. Gue suka sama lo," ungkap Argi.
"Really?"
"Ya."
"Jadi, kenapa Lo gak nolak dan kemana aja lo satu Minggu ini?" tanya Argi.
"Satu Minggu ini, gue ke rumah nenek. Waktu gue buru-buru mau pulang itu karena gue mau berangkat ke sana soalnya nenek gue meninggal ... " jawab Airin.
"... dan gue gak nolak karena itu permintaan terakhir nenek gue. Jadi, maaf Bang," sambung Airin.
Argi tersenyum tipis. "Iya, gapapa."
Suasana kembali hening. Tak ada yang mau membuka pembicaraan, hingga tiba-tiba terdengar tawa dari mulut Airin.
"HAHAHA ... BERCANDA BANG." Tangan kiri Airin menepak bahu Argi dengan kencang.
Wajah Argi menjadi linglung. "Ha?"
Menghentikan tawanya, Airin lalu terkekeh kecil. "Iya, gue cuma bercanda. Tenang aja, gue gak dijodohin, kok," jawab Airin.
Mimik wajah Argi yang semula linglung menjadi terlihat kesal. "Gak lucu banget, sumpah. Gue udah bingung mau ngelakuin apa," kesal Argi.
Tersenyum tipis, Airin lalu berkata, "Maaf ya. Tadi mau ngetes aja. Siapa tau lo suka gue, cuman pura-pura gak suka aja."
"Dimaafin, tapi ada syaratnya," ujar Argi.
Airin menaikan alisnya bingung. "Apa syaratnya?"
"Jadi pacar gue!" jawab Argi.
Airin bersedekap lalu tersenyum tipis dengan mengangkat alisnya. Sikap gadis ini terlihat seperti menantang Argi. "Harus banget, ya?"
"Ya memang harus."
"Ini keliatan terlalu maksa. Gimana kalo ganti kalimat nembaknya?" ujar Airin.
Menghela nafas, Argi lalu berkata, "Lo maunya gimana?"
"Gue maunya lo bilang 'mau jadi pacarku' biar keliatan so sweet," jawab Airin.
Argi memutar bola matanya malas. "Yaelah. Intinya kan sama aja."
"Beda. Yang Lo bilang tadi itu terlalu maksa," kata Airin.
"Kan itu syarat biar lo gue maafin," jawab Argi.
"Tapi kan itu syarat biar gue jadi pacar lo dan berarti harus nembak dengan benar," ujar Airin.
"Oke. Mau jadi pacarku?!" Suara lelaki itu tampak bergetar saat mengucapkannya.
Airin tersenyum lebar. "Mau dong." Setelahnya gadis itu langsung memeluk Argi yang tentu saja langsung dibalas dengan dekapan hangat milik Argi.
°SELESAI°
BOONG GES. YAKALI SEMUDAH ITU HAHAHA
KAMU SEDANG MEMBACA
Airin dan Kisahnya
Teen Fiction[FOLLOW DULU SEBELUM MEMBACA.] [UNTUK DIBACA, BUKAN DIPLAGIAT.] [HASIL IMAJINASI SENDIRI.] Warning⚠️: terdapat kata-kata kasar yang tidak untuk ditiru. HAPPY READING♡ Airin menyukai salah satu anggota OSIS. Argi namanya. Argi ganteng, baik dan ramah...
