Happy reading♡
° ° ° ° °
Matahari berada di atas kepala. Hari sudang siang, dan menunjukkan pukul 11.00.
Di tengah keramaian siswa-siswi yang menonton sepak bola, Airin duduk di samping Ajeng yang menjadi komentator pertandingan. Tugas-tugas sudah berganti, dari yang menjadi pemungut sampah lalu menjadi anak gawang. Dan karena Airin bingung harus melakukan apa, jadilah gadis itu berada di samping Ajeng.
Mata gadis itu terfokus menatap pertandingan yang berlangsung. Sambil melirik-lirik ke arah gawang sebelah kanan, tepatnya tempat Argi berada.
Menatap ke arah Argi, Airin tersenyum saat melihat Argi yang seperti tengah mencari seseorang. Perasaan pe-de seketika meningkat.
Saat mata tajam lelaki bernama Argi itu menatap ke arahnya, Airin langsung tersenyum. 5 detik mereka bertatap, setelahnya Argi membuang mukanya.
"Airin?" panggil Ajeng.
Airin menoleh, "kenapa kak?"
"Tolong panggil Argi ya?"
"Untuk apa kak?"
"Panggil dulu aja."
Airin tampak ragu, lalu lalu menjawab, "eum ... oke deh," ragunya.
"Cepetan ya."
Airin mengangguk. Gadis itu mulai melangkahkan kakinya menuju tempat Argi berada. Saat langkahnya semangkin dekat, jantung Airin berdetak lebih kencang.
'jangan salting, please,' batinnya.
"Bang?"
Argi tersenyum, lalu berkata, "kenapa?"
"Di panggil kak Ajeng," ujar Airin.
"Oh oke. Ayo."
Argi dan Airin berjalan beriringan menuju Ajeng berada.
"Kenapa, Jeng?"
"Lo sama Airin tolong keliling kelas dong. Periksa siswa-siswi yang siapa tahu ada di kelas," perintah Ajeng.
"Kenapa gue?"
"Gue liat dari tadi, lo gak ada kerjaan. Makanya gue nyuruh lo," jelas Ajeng.
"Oke deh. Ayo Rin."
Argi dan Airin meninggalkan Ajeng. Ajeng tersenyum melihat punggung keduanya perlahan menjauh. Ah, sepertinya Ajeng akan mengganti profesi, dari ketua OSIS menjadi Mak comblang.
Mereka berdua berjalan beriringan mengelilingi koridor sekolah. Mengecek setiap kelas dan pasti ada satu dua orang yang berada di kelas.
"Bang?" Dengan terus beriringan Airin memanggil Argi.
Argi menoleh sekilas lalu melanjutkan jalannya. "Ya?"
"Gue tebak, beberapa bulan lalu pasti ada yang confess sama abang?"
Argi menghentikan langkahnya membuat Airin ikut berhenti. Muka lelaki itu menoleh ke Airin dan terlihat kaget, "kok tau, lo cenayang?"
"Tau dong. Dan kalo gue bilang yang confess itu gue, gimana?" tanya Airin.
"Gak percaya gue."
"Kenapa enggak percaya? kan namanya Airin." ujar Airin.
Argi dengan muka shock berkata, "karena gelagat lo enggak memperlihatkan seperti orang suka."
"Ya karena gue malu, dodol," greget Airin.
Sekarang saja dia masih malu untuk jujur. Tetapi apa boleh buat, dari pada Argi mengira yang menyukainya adalah Ririn, bukan? tetapi, sepertinya Argi memang sudah mengira seperti itu.
"Gue masih enggak percaya. By the way yang sopan sama kakel," ujar Argi.
Airin tercengang, "masa enggak percaya juga, sih? Gue udah berani-in diri buat bilang, loh," ujar Airin. "Dan sopan? udah sopan kok," sambungnya.
"Seriusan, nih, lo suka gue?" tanya Argi.
Airin merunduk malu, "hmm."
"Oh ... makasih udah suka sama gue," ujar Argi.
Airin mengangkat wajahnya ke atas untuk menatap Argi. Tinggi Argi yang sekitar 180 cm itu membuat Airin terlihat kecil jika beriringan seperti ini.
"Cuman gitu responnya?" tanya Airin.
Argi melanjutkan langkahnya membuat Airin ikut berjalan juga. Dia lalu berkata, "lo mau respon gue gimana?"
"Enggak ada sesi nembak-nembakan gitu?"
"Pake pistol?"
"Bukan ih, jadi pacar gitu?"
Argi menghentikan langkahnya, kemudian menoleh ke arah Airin yang ada di sampingnya, "mau jadi pacar gue?" tanyanya.
Airin mengangguk cepat, "mau."
"Berjuang ya?"
"Siap laksanakan."
° ° ° ° °
KAMU SEDANG MEMBACA
Airin dan Kisahnya
Novela Juvenil[FOLLOW DULU SEBELUM MEMBACA.] [UNTUK DIBACA, BUKAN DIPLAGIAT.] [HASIL IMAJINASI SENDIRI.] Warning⚠️: terdapat kata-kata kasar yang tidak untuk ditiru. HAPPY READING♡ Airin menyukai salah satu anggota OSIS. Argi namanya. Argi ganteng, baik dan ramah...
