Bagi Para dewa dewi akan selalu melakukan pekerjaannya masing-masing itu hal yang wajar,dan tidak pernah turun ke bumi melihat para manusia.
Hingga ada suatu saat ada seseorang dewi turun ke bumi tempat hidup manusia, sang dewi ingin menikmati kein...
Serangan Katana yang menuju titik leher [name] dengan kecepatan tidak normal, akan tetapi [name] tetap berhasil menghindari katana itu.
Serangan Katana pun mangkin tidak beraturan menujuh [name], dan [name] pun melakukan gerakan salto.
[Name] terus menghindari serangan Katana yang, memakai pernapasan berbeda - beda, menghindari dengan lincah bagaikan sudah terbiasa, rambut pirang keemasannya mengenai sinar matahari menambah kesana indah berkali-kali lipatnya.
Di saat seluruh Katana mengarah padanya tidak menyisakan tepat untuk kabur, dan [name] menarik pedangnya yang keemasannya.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
{Readers bisa pilih sendiri mau model pedang kayak apa dan bisa membayangkan nya.}
Menangkis seluruh Katana yang mengarah padanya, dengan kecepatan tidak dapat di lihat oleh mata manusia.
Dan pertandingan itu dimenangkan oleh [name] sebagai sang pemenangnya.
.
.
.
.
.
.
.
"Ara ara [name] chan sekarang semangkin kuat, aku jadi semangkin mengidolakan [name] chan." ujar kanae pada [name] yang bersebelahan dengannya di bawah pohon wisteria.
"Em!benar kata nee san, [name] nee memang hebat aku juga mengidolakan [name] nee." ujar Shinobu pada [name] di sebelah kiri [name].
"Kamu bisa aja Shinobu, [name] nee ingin menyambut kagaya dulu, entar [name] balik lagi kok." ujar [name] pada shinobu dengan lembut.
"Baiklah [name] nee jangan lama lama. " ujar shinobu sambil tersenyum bahagia dan [name] pun pergi menujuh kagaya.
"Ara ara Shinobu tadi senyuman mu sangat cantik, tapi nee san jadi keingat masa lalu." ujar kanae pada shinobu sambil memandang langit biru yang cerah.
"Iya nee san, aku jadi keingat waktu pertama kalinya kita bertemu dengan [name] nee." ujar shinobu ikut memandang langit mengigat masa lalunya.
"Hiks hiks hiks Nee san, a-aku san-sangat ta-takut bila oni itu tau posisi kita." ujar shinobu ketakutan, sambil memeluk kanae dengan erat seakan akan kanae akan mati bila terlepas dari pelukannya.
"Tenanglah shinobu , nee san yakin oni itu tidak mengetahui keberadaan kita." ujar kanae menenangkan shinobu walaupun ia ketakutan dan juga panik, akan tetapi dia harus kuat.
Tap.
Tap.
Tap.
Tap.
Krert.
Pintu lemari itu terbuka, menampilkan seorang gadis pirang keemasannya, dan tersenyum lembutnya pada mereka berdua.
"Tenang lah, aku bukan orang jahat ataupun oni yang menyamar, aku sudah membunuh oni itu bersama sahabat ku." ujar gadis pirang keemasannya pada kanae dan shinobu.
Karena shinobu dan kanae merasa kan hangat dan juga nyaman pada gadis asing itu, mereka pun memeluk nya dengan erat sambil menangis keras.
"[Name] san, oni nya sudah kubunuh." ujar gyomei dan menghampiri [name].
"Kamu semangkin hebat kuat, gyomei tapi tolong jangan formal sekali,tidak usah pakai suff san nya aku merasa kamu saja." ujar [name] sambil tersenyum pada gyomei.
"Ayo gadis kecil ini, kembali ke markas gyomei." ujar [name] sambil mengendong keduanya dengan hati hati yang masih menangis.
"Iya kita harus membawa mereka ke markas pemburu iblis." ujar gyomei pada [name].
Disitulah pertemuan pertama kanae dan shinobu mengenal [name] , sebagai orang yang sangat mereka idolakan.
Dan juga menjadikan keinginan mereka menjadi pemburu iblis, menjadi kuat seperti [name] walaupun dia bukan pemburu iblis, tapi tetap menjadi panutan kanae dan shinobu.
"[Name] yang juga menyelamatkan nee san untuk kedua kalinya." ujar shinobu melirik daun wisteria yang berterbangan.
"Ara ara, benar shinobu kata mu, bila tidak ada [name] chan menolong nee san dari iblis bulan atas kedua, mungkin nee san sudah tidak ada di sini lagi." ujar kanae memegang daun wisteria yang jatuh tepat di tangannya.
•Flashback•
•pov kanae•
"Ara ara apa ini akhir dari hidup ku?." Gumam ku memandang matahari yang belum di atas kepalanya.
Aku memejamkan mataku, menunggu kematian ku pasrah pada semuanya.
Hingga aku aku merasakan kehadiran seseorang, akan tetapi aku malah mendapatkan seuntai bulu putih yang besar dari atas.
"Kanae!!, bertahan lah aku akan mengobati luka mu." ujar [name] pada ku dengan pandangan khawatir nya.
Perlahan-lahan kedua tangannya [name], memegang kedua pipiku seketika [name] seperti mengumumkan suatu seperti mantra?.
Seketika aku melihat cahaya keemasan yang amat menyilaukan, dari kedua tangan [name], akan tetapi aku merasakan kehangatan, seperti kehangatan dari kedua mendiam Otousan dan juga Okaasan yang memelukku.
Dan aku merasakan keajaibannya [name] berikan pada ku.