-Mengikuti garis takdir yang sudah di beri-
..
.
Fahri tengah asik bermain dengan pasirnya, dari membuat manusia pasir sampai istana pasir tapi hasilnya tetep aja jelek. Gak ada bakat buat rumah-rumahan fahri tuh.
Sementara revan tengah mengambil pasir dan air yang sudah di satukan,tujuannya untuk mengokoh kan fondasi rumah pasir itu.
Sebenernya sih di suruh fahri.
Karna revan bucin yowes dia turutin.
"Ah aku kesel" teriak fahri menyerah lalu melempar botol pelastik ke sembarang arah.
Revan menatap fahri lalu menggeleng kepalanya pelan "kesel hm?" lalu menaru ember berisi air di sebelah fahri.
"aku mending ngitung matematika deh, dari pada harus bangun rumah pasir"
"Aku mending bangun rumah pasir ri" kata revan lalu menarik fahri mendekat.
Fahri mendekar ke arah revan lalu mendonga "karna kamu males ngitung revano" jawab fahri, sementara revan hanya menyengir karna apa yang fahri bilang bener.
"Hehe salah satunya, tapi aku emang mau jadi arsitek ri"
Fahri menyerengit dahi bingung "Arsitek? Bukannya kamu bilang mau jadi pemain basket?"
"iya pemain basket dan arsitek ri"
Fahri menyenderkan kepalanya di dada revan, lalu mendonga menatap wajah revan yang tertunduk menatapnya. "kenapa kamu dadakan mau jadi arsitek?"
"karna aku mau bangun rumah ri, salah satu impian aku itu ngebangun rumah buat aku dan kamu huni nanti" revan bisa lihat mata fahri membulat terkejut karna jawabannya.
"Impian aku sederhana ri, ngebangun keluarga kecil yang kelak bikin aku dan kamu bahagia. Tinggal di rumah sederhana hasil kerja keras sendiri, dan semua itu akan terwujud bersama kamu" lanjut revan kepada fahri.
Revan bisa melihat wajah fahri yang memerah hingga keleher, di matanya ada perasaan haru yang tergambar jelas. Revan tersenyum lalu mendekatkan wajahnya kekening fahri.
Cup!.
Revan menyium kening fahri, lalu ia membalik badan fahri dan mengacak rambut fahri yang penuh dengan pasir.
"Aku udah pernah bilang kan? Aku bakal berjuang sama kamu" kata revan lalu menggengam kedua tangan fahri, lalu mencium punggung tangannya.
"Revano!" kata fahri dengan suara malu, wajah fahri makin memerah bahkan kupingnya udah kaya mau ngeluarin darah.
Fahri menundukan kepalanya, rona merah semakin menjadi di wajahnya sementara revan terus menyerangnya. Bagaimana mungkin revan bisa bilang hal hal gitu.
Revan udah mikirin ini semua dengan matang, yang artinya revan sangat serius, perasaan fahri sangat kacau bahkan hatinya sangat gemelitik seperti ada serangga di perutnya.
Revan ketawa ngeliat fahri malu-malu, mana gemesin kan jadi mau revan unyel-unyel. Mau cium juga karna gemes banget.
"Revan!" kata fahri kaget karna revan membawanya ke dalam pelukan.
"Hm? Apa kekasih hati revan"
Ciah kekasih hati ceunah.
"lepasin aku malu" kata fahri agak sedikit merengek.
Pokoknya fahri malu!
Revan ketawa mendengar perkataan fahri. "ngapain malu biasanya juga malu malu in" kata revan lalu mencolek dagu fahri.

KAMU SEDANG MEMBACA
Salam Dan Shalom [ TAMAT ]
General Fiction"Asalamuallaikum" "Shalom" "Hari ini minggu kamu gak berdoa? " "Udah masuk waktu isya, aku bantu kamu gelar sejadah dan kamu bisa ambil air wudhu" "Fahri! " "Revan! " sebuah kisah sederhana antara dua remaja yang terlibat rasa cinta dan sayang, memi...