Mata Jemiel sejak tadi tidak berhenti melirik sang Mama yang sudah kembali menyetir di sebelahnya. Jemarinya yang menggenggam sabuk pengaman terasa dingin, entah karena suhu AC atau perasaan tidak nyaman yang perlahan menjalar.
Jika ketika berangkat tadi wajah Kristal terlihat datar saja seperti biasa, berbeda dengan sekarang yang menunjukkan raut tidak nyaman. Ada sesuatu yang berbeda, sesuat yang membuat Jemiel merasa asing meskipun ia sudah terbiasa dengan sikap dingin Mamanya.
Pertanyaan demi pertanyaan bermunculan tanpa dapat ia bendung, seperti sejak kapan Mamanya mengenal Om Gabriel? Mengapa pria itu menyapa Mamanya dengan senyum lebar seolah keduanya sudah mengenal sejak lama, sementara Mamanya justru sebaliknya, terlihat kaku, tidak menampilkan raut bersahabat, bahkan tidak nyaman?
Tanpa banyak kata Mamanya langsung menariknya untuk pergi. Mereka tidak sempat menyantap makanan penutup yang bahkan belum sempat disajikan. Jemiel juga merasa sangat tidak enak kepada Om Gabriel karena ia tidak sempat menyapa pria tersebut karena terlalu terkejut ditarik tiba-tiba oleh Mamanya.
Jemiel menghela nafas, mencoba menenangkan pikirannya sendiri. Tapi semakin ia diam, kepalanya semakin penuh dengan berbagai pertanyaan dan asumsi.Akhirnya ia coba untuk memberanikan diri bertanya.
"Mama ternyata kenal Om Gabriel juga ya?"
Kristal membeku sesaat ketika sang putra menyebut nama tersebut, tidak menyangka Jemiel mengetahui siapa sosok pria yang memanggilnya tadi.
"Abang kenal sama Om Gabriel gak sengaja waktu itu Ma, dia juga pernah nolongin Abang waktu kejebak hujan. Cafe tadi itu juga punya istrinya Om Gabriel Ma, namanya Tante Celine."
Kristal menginjak rem secara mendadak, Jemiel tersentak kaget—untung ia menggunakan sabuk pengaman dan mereka sudah berada di dalam komplek rumah, jalanan relatif sepi.
Beberapa detik terasa begitu sunyi.
"Abang terlalu banyak bicara, Mama jadi gak fokus," ujar Kristal membuat Jemiel langsung menundukkan kepalanya.
"Maaf, Ma..."
"Mama juga gak terlalu suka Abang deket sama stranger." lanjut Kristal tanpa menoleh. "Jangan dibiasain terlalu welcome sama orang yang gak dikenal."
Jemiel hanya terdiam, tidak menanggapi omongan sang Mama. Jemarinya saling menggenggam di pangkuan, menahan sesuatu yang ia sendiri tidak tahu bentuknya apa.
"Abang ngerti yang dibilang Mama?"
"Iya Ma, Abang ngerti." lirih Jemiel. Ia masih kaget setiap kali Mamanya menunjukkan kemarahannya.
Selanjutnya Kristal kembali mengendarai mobil sampai ke depan rumah, hanya untuk menurunkan Jemiel lalu kembali pergi entah kemana. Meninggalkan sang putra yang penuh dengan kebingungan dan juga keresahan.
Sudah hampir sebulan Kristal seakan memberi jarak dari putranya sendiri. Hampir sebulan sejak hari itu, Kristal seperti menciptakan jarak yang tak kasat mata di antara mereka. Tidak ada sarapan bersama, tidak ada pertemuan singkat di malam hari ketika sang Mama pulang bekerja. Bahkan sapaan sederhana pun menghilang. Rumah yang hening itu bertambah semakin sunyi tiap harinya.
Jemiel sering kali duduk sendirian di meja makan, menatap kursi kosong di seberangnya. Kadang ia sengaja memperlambat makannya, berharap Mamanya akan datang seperti sedia kala.
Namun, hal itu tidak pernah terjadi.
Dan setiap kali harapan itu kembali gagal, ada sesuatu di dalam dirinya yang ikut runtuh.
