Chapter 4 | Resort

4.2K 215 3
                                        

Nara berjalan membuntuti Rain, saat ini mereka tengah menuruni tangga untuk menuju meja makan. Tampak di sana Dion dan Amira sudah terduduk manis dengan berbagai menu makanan tertata rapi di meja.

Nara duduk di samping Rain, tentu saja. Dan jangan berharap Nara akan melakukan hal yang biasa dilakukan seorang istri pada suaminya saat di meja makan. Seperti, mengambilkannya nasi, menawarkannya 'mau pake lauk apa?' atau sekedar menuangkan air minum. Karena itu sama sekali tidak dilakukan Nara bahkan saat sedang di hadapan mertuanya.

"Kalian benar akan tinggal di resort itu?" Tanya Dion.

"Iya" Jawab Rain..

"Kalian yakin? Bukannya di sana itu-"

Rain sedikit terkejut dan segera memotong ucapan ayahnya "Bukankah di sana sssangat indah" Ucap Rain menekan kata-katanya dan menatap tajam pada Dion. Jangan sampai ayahnya itu keceplosan dan semakin membuat Nara enggan pergi ke sana.

Dion yang paham apa yang di maksud putranya segera mengiyakan "I-iya di sana memang sangat indah, udaranya juga benar-benar segar, beda dengan di sini yang penuh dengan polusi ini" Ucap Dion sedikit gagap, karena saat ini Nara sedang menatap mereka bergantian dengan tatapan bertanya-tanya. Dan Nara sendiri hanya bingung apa yang dimaksud pembicaraan mereka itu.

°°°

Mereka berdua membereskan barang-barang mereka masing-masing. Setelah kejadian kemarin Nara tidak lagi membiarkan Rain membantunya membereskan bajunya lagi.

Rain beralih meraih Hoodie hitamnya dan mengenakannya setelah selesai membereskan baju-bajunya di koper.

Tok tok tok

"Masuk pak" Ucap Rain. Itu pak Budi supir pribadi Rain. Tadi sebelumnya Rain meminta pak Budi untuk mengambil kopernya. Kemudian untuk dua koper yang yang lain Rain sendiri yang membawanya.

"Aku tunggu di bawah" Ucapnya menoleh pada Nara yang masih siap-siap. Nara hanya mengangguk sedikit.

Setelah selesai dengan siap-siapnya Nara menyusul Rain yang sudah menunggunya di bawah, tepatnya di teras rumah membantu pak Budi mengangkat koper ke bagasi mobil, pak Budi berangkat lebih dulu.
Nara menghampirinya dengan dress code celana jins dan blouse tipis tanpa lengan

"Aku sudah siap" Ucapnya dengan malas.

Rain menoleh kemudian memperhatikan Nara dari bawah hingga atas, memang cantik tapi....

"Kamu yakin mau pakai pakaian itu?" Tanya Rain.

"Maksudmu apa? Kau tidak suka? Terserah, aku tidak mempedulikan penilaianmu!" Cerocos Nara melipat tangannya di depan dada.

"Bukan begitu, tapi apakah kamu gak bakal masuk angin dengan pakaian seperti itu?" Rain menaikkan sebelah alisnya.

"Kalo ngomong jangan bikin pusing orang, langsung saja ke intinya" Decak Nara kesal.

"Kita ke sana naik motor" Ucap Rain.

"Apa?!" Nala sedikit tersentak. "Tidak, aku tidak mau naik motor bisa-bisa debu-debu jalanan menyentuh kulitku" Deliknya. "Aku ke sana sama pak Budi aja" Ucapnya.

"Pak Budi sudah berangkat"

"Apa?!"Pekiknya lagi. "Apa mobilmu hanya satu? Apa kau sudah jatuh miskin?"

AFFAIR (Completed)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang