Baru saja sampai teras, dari kejauhan Rain sudah melihat dua orang sedang berjalan ke arah rumahnya yang salah satu dari dua orang itu adalah Nara. Namun siapa laki-laki itu?
Tatapan Rain tertuju pada Reyhan yang baru datang bersama Nara untuk mengantarnya. Jelas saja tatapan itu bukan tatapan yang bersahabat, tapi tatapan seorang laki-laki yang marah ketika wanitanya bersama orang lain.
"Dari mana?" Tanya Rain langsung setelah mengalihkan pandangannya pada Nara.
"Meregangkan kaki sebentar" Jawab Nara sembari sesekali melirik takut.
"Masuk!" Perintah Rain dengan dingin.
"Jangan marah pada Reyhan Rain, dia cuma mengantarku pulang karena aku tidak hapal jalan ke sini tadi" Pinta Nara menatap Rain.
"Masuk Nara!" Perintah Rain lagi tanpa menatapnya. Dengan sedikit khawatir Nara masuk ke dalam rumah. Ia takut Rain berfikir yang tidak-tidak tentang dirinya dan Reyhan, lebih tepatnya ia takut Rain memarahi Reyhan karena salah paham.
Setelah Nara masuk Reyhan menjelaskannya "Kau jangan salah paham, aku teman semasa SMP Nara dulu, dan tadi aku hanya ingin mengantar Nara pul-" Penjelasan Reyhan terpotong.
"Terimakasih, sekarang Nara sudah tiba di rumahnya, sekarang kau bisa pulang" Potong Rain dingin, secara tidak langsung telah mengusir Reyhan.
Reyhan hanya tersenyum tipis dan mengangguk.
"Lain kali, jangan membuat wanita sedih hingga di luar rumah lebih merasa nyaman" Sindir Reyhan seraya beranjak berlalu.
Sebenarnya Reyhan tadi sore sedang melihat-lihat kebun teh milik orang tuanya, seharusnya ayahnya yang pergi untuk mengecek kebun itu, namun karena ayahnya sedang ada kepentingan, jadi Reyhan yang mengambil alih. Kemudian Reyhan tidak sengaja melihat Nara menangis duduk di batu di antara kebun teh dan menenggelamkan kepalanya di kedua lututnya. Dia merasa prihatin dengan perempuan itu hinga Reyhan menghampirinya, apalagi ketika melihat perempuan itu tampak kebingungan memilih jalan di persimpangan.
🍁🍁🍁
Sementara Rain mengeratkan rahangnya mendengar ucapan Reyhan yang seolah sedang menyindirnya. Setelah pemuda itu pergi, Rain memasuki rumah dan langsung menuju kamarnya. Di sana Nara sudah duduk di atas kasur dan sudah mengganti bajunya dengan baju tidur.
Rain sempat melirik pada Nara saat memasuki kamar, kemudian berlalu ke kamar mandi.
15 menit kemudian Rain keluar dengan handuk yang melilit di pinggangnya juga butir-butir air yang masih menetes dari rambutnya, Nara terus memperhatikan gerak-geriknya namun kali ini tak sedikit pun Rain menoleh ke arahnya.
Hingga setelah mengganti pakaiannya dan berbaring di kasur Rain masih tidak menoleh ke arah Nara.
Nara tidak mengerti kenapa dengan Rain. Apa dia marah karena tadi Nara bersama Reyhan, tapi kan Nara juga tidak sengaja bertemu dengannya.
Lagian seharusnya kan Nara yang marah karena Rain tidak mengikuti keinginannya tadi pagi.
Nara merangsek duduk mendekati Rain yang tengah mengecek beberapa email di i-pad nya.
"Rain" Panggil Nara.
"Hm" Gumamnya tanpa menoleh.
"Apa kau marah padaku?"
"Tidak ada alasan untukku marah"
"Aku hanya takut kau salah paham dengan Reyhan, kau harus tahu dia teman SMP ku dulu, dan kami baru bertemu tadi" Terang Nara.
KAMU SEDANG MEMBACA
AFFAIR (Completed)
Ficción General[21+] Naradira, dia sangatlah ingin membunuh laki-laki di hadapannya, yang tidak lain adalah suaminya sendiri. Kecewa? Sudah pasti. Marah? Tentu saja. Nara sama sekali tidak mentolerir pengkhianatan. Lulus SMA Nara diharuskan menikah dengan Ilham Ra...
