"Maaf pak, pak Rain sudah di depan" Seorang sekertaris memberitahu pada Dion bahwa anaknya itu sudah ada di depan ruangannya.
"Suruh dia masuk" Pintanya.
Rain memasuki ruangan ayahnya dan mengambil duduk di sofa ruangan itu.
"Ilham" Panggil ayahnya. Mata Rain menyorot tajam saat ayahnya memanggilnya dengan nama itu. Rain tidak suka jika Dion memangilnya dengan nama 'Ilham' karena itu mengingatkannya pada hal yang dilakukan Dion pada ibunya dulu.
"Aku tidak suka ayah memanggilku dengan nama itu" Tegasnya.
"Jadi kamu masih berhubungan dengan wanita itu?" Todong Dion tak menggubris protes Rain sebelumnya
"Wanita itu punya nama" Sahut Rain tanpa menoleh pada ayahnya.
"Ck, namanya terlalu bagus untuknya" Cela Dion.
"Memangnya kenapa kalo aku masih memiliki hubungan dengan Erika?" Tanya Rain datar tanpa menoleh pada ayahnya.
"Aku tahu kau tidak akan menurut padaku, walaupun aku sudah menyuruhmu menjauhi wanita itu" Gumam Dion.
"Baguslah kalo ayah tahu" Jawab Rain enteng.
"Aku tidak peduli jika kau masih lajang seperti dulu. Tapi sekarang, kau sudah menikah, setidaknya hargailah Nara, istrimu!" Dion menekan kata-katanya.
"Ayah yang menginginkanku menikahi Nara, bukan aku" Tegas Rain.
"Tapi dia tetap istrimu, Rain!" Bentak Dion.
Rain tersenyum miring "Bukankah dulu ayah juga seperti itu? Mencintai Umma Syakia saat dia bahkan masih punya suami? Jadi sekarang apa salahnya jika aku mencintai Erika saat sudah punya istri?"
"Itu berbeda sialan, aku tidak punya istri saat itu, dan yang aku lakukan hanya menyekapnya bukan bercumbu seperti yang kau lakukan dengan anak pelayan itu!" Sarkas Dion dengan penuh amarah. "Nara gadis baik-baik, jangan lukai perasaannya" Suara Dion memelan.
"Kalo ayah tidak mau dia terluka, kenapa ayah menikahkan gadis itu denganku, padahal ayah sudah tahu jika denganku dia pasti akan terluka" Sinis Rain sembari beranjak, membuat Dion kehilangan kata-kata.
"Apa kau buta? Nara lebih baik daripada anak pelayan itu!" Sentak Rain.
"JANGAN MENGHINA ERIKA! DAN JANGAN BANDINGKAN DIA DENGAN SIAPA PUN!" Bentak Rain, menghentikan langkahnya. "Karena aku tidak akan pernah jatuh cinta dengan Nara, aku hanya mencintai Erika" Rain kembali berbalik dan meninggalkan ruangan Dion.
"Kita lihat, apakah kata-katamu benar, apakah kamu sanggup menolak gadis secantik dan sebaik Nara" Gumam Dion setelah Rain pergi.
🍁
Beberapa kaleng minuman soda, air mineral, snack, kacang, dan macam-macam cemilan lainnya berserakan di atas meja dan di atas karpet. Mereka tertawa lepas menonton acara komedi yang tayang di salah satu channel televisi.
Saat ini di rumah Nara yang sepi itu ramai dengan tawa teman-temannya. Tadi Nara mengundang Sarah, Maudi, dan Via. Nara sengaja mengundang mereka karena suasana hatinya sedang badmood semenjak kejadian kemarin-kemarin.
Semenjak dia menikah dengan Rain rasanya selalu ada saja yang membuat Nara sial. Pertama tentang kue pengantin itu, lalu dia jatuh karena ulat itu, dan tadi malam laki-laki itu kembali membuatnya kesal dengan tidak mempedulikannya.
Jadi ya setidaknya kehadiran sahabat-sahabatnya ini bisa sedikit mengembalikan mood Nara.
"Ra gila si, rumah lo bagus banget, terus pemandangan di luar rumah parah keren abis" Beo Maudi yang baru kembali setelah jalan-jalan sebentar di sekeliling rumah Rain.
KAMU SEDANG MEMBACA
AFFAIR (Completed)
Ficción General[21+] Naradira, dia sangatlah ingin membunuh laki-laki di hadapannya, yang tidak lain adalah suaminya sendiri. Kecewa? Sudah pasti. Marah? Tentu saja. Nara sama sekali tidak mentolerir pengkhianatan. Lulus SMA Nara diharuskan menikah dengan Ilham Ra...
