Chapter 33 | Aku Menginginkannya

9.1K 283 9
                                        

Rain kembali menyodorkan gelas tapi kembali Nara menepisnya. Ini sudah yang kelima kalinya Rain mengambilkan susu dan sudah lima kali pula gelas itu pecah di lantai.

"Aku ambilkan lagi" Masih dengan senyum Rain kembali ke dapur.

Rain kembali lagi namun bukan dengan sebuah gelas di tangannya, tapi mangkuk kecil. "Kali ini kau pasti mau, bukankah ini makanan kesukaanmu, aku perhatikan akhir-akhir ini kau menyukai makanan ini kan"

Sebuah smoothie kali ini yang Rain bawa. Nara menatap sebentar mangkuk itu, dan lagi-lagi menepisnya hingga kembali berserakan di lantai dan berceceran di selimut kasur.

Rain menghela napas berat "Kamu harus makan, kamu dan anak kita membutuhkan tenaga dan protein" Rain menatap teduh.

"Anak apaan, anak kamu sudah mati!" Sentak Nara.

"Nara! Berhenti mengucapkan kata itu, apa kamu benar-benar menginginkan anak kita tiada?" Ucap Rain penuh penekanan tapi masih dengan nada lembut.

Nara hanya menatapnya.

"Aku tahu anak kita masih berkembang sehat di rahimu, apakah kau tidak tahu betapa bahagianya aku? Aku sangat menginginkannya Nara, dan berhenti menyebutkan kata-kata buruk tentang anak kita, itu menyakitkan bagiku" Rain tersenyum sendu dengan pandangan menatap perut Nara.

"Jika kamu memang menginginkan anak ini, kenapa kamu bermain api dengan wanita lain? Apa aku saja tidak cukup!" Desis Nara.

"Dengar Nara, soal itu aku...."

"Tidak usah menyangkal jawab saja" Cela Nara cepat.

"Bisakah kita tidak membahas itu sekarang?"

"Huh" Nara berdecak tersenyum miring. "Sudah kuduga, kau tidak bisa menjawabnya kan?" Tajamnya.

"Akan aku jawab saat waktunya sudah tepat" Jawab Rain.

Nara menoleh "Tak ada waktu lain, setelah ini aku akan mengurus perceraian kita, agar kau bisa lebih bebas dengan wanita ular itu!" Sarkas Nara.

"Cerai?"

"Iya, kau juga senang kan? Akhirnya kau bisa terbebas dari ikatan palsu ini, dan aku bisa terlepas dari jeratan terkutuk ini!" Sarkas Nara lagi.

Rain terkekeh "Kamu pikir aku akan menceraikanmu? Kamu pikir akan semudah itu aku menalakmu? Dengar, sekalipun kamu menebus ratusan juta untuk sebuah surat perceraian, aku tidak akan mempermudah itu!" Balas Rain membalas tatapan Nara.

Deg kenapa Nara bisa lupa bahwa laki-laki di depannya ini adalah seseorang yang sangat dominan dan egois, apa pun akan dia lakukan untuk hal yang ingin dan tidak ia lakukan, lihatlah wajah laki-laki itu sekararang yang tampak menang. Tapi Nara tidak akan menyerah.

"Dan aku tidak akan menyerah, setidaknya setelah melahirkan akan kulakukan apa pun untuk berpisah denganmu dan selama itu jangan menampakan wajahmu, karena melihatmu aku kembali teringat dengan hal menjijikan yang kau lakukan!" Desis Nara tajam, sebelum tiba-tiba pintu kamar terbuka.

Rasti tergopoh-gopoh menghampirinya, beruntung wanita paruh baya itu mengenakan sendal jadi tidak terluka saat menginjak pecahan gelas.

"Nona tidak papa? Bibi sangat khawatir ya Allah" Rasti memeluk Nara erat dengan menangis khawatir.

"Aku tidak papa bi" Nara mengusap-usap punggung Rasti.

"Kenapa bibi bisa ada disini?" Tanya Nara setelah melerai pelukan keduanya.

"Ayahnya Dani, nona" Jawab Rasti mengusap air matanya.

Nara mengangguk "Lalu dimana Dani sekarang?"

"Dia bilang ada urusan yang harus diselesaikan"

AFFAIR (Completed)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang