Rain memacu mobilnya menuju rumah Erika, bagaimana pun caranya Erika tidak boleh bekerja di rumah Ardan sebagai perawatnya.
Erika membuka pintu rumahnya dengan senyum merekah karena sosok di depan pintu adalah kekasih yang di tunggunya. Erika langsung menghamburkan pelukannya pada Rain.
"Ayo masuk"
"Tidak Erika aku takut mengganggu ibu jika kita bicara di dalam"
"Tidak akan, ayo" Erika dengan ceria menarik tangan Rain.
"Bagaimana keadaan ibu?" Tanya Rain setelah mendudukkan dirinya di sofa rumah Erika.
"Ibu baik"
Rain mengangguk-angguk "Ekhem... soal kamu yang bekerja di rumah Ardan?"
"Iya Rain, ibu juga sangat senang ketika aku mengatakan bekerja di sana" Ucapnya semangat.
"Erika, sebenarnya apa kau bisa menolak tawaran itu?"
"Maksud kamu apa, bukankah tadi di telepon juga bilang senang?" Erika mengernyit.
"Ardan adalah ayahnya Nara, Erika"
Erika sempat bergeming namun dengan cepat mengembalikan raut wajahnya dan tersenyum miring pada Rain "Memangnya kenapa? Kau takut hubungan kita diketahui Nara?"
"Iya" Jawab Rain datar setelah sempat lama terdiam.
"Kenapa? Kau takut dia pergi setelah mengetahuinya?" Erika menyorot tajam.
"Aku hanya belum siap"
"Rain! Coba kau hitung sudah berapa lama kita bersama, dan kini kau masih saja belum siap untuk mempublis hubungan kita? Kau pikir aku tidak tersiksa dengan hubungan kita?" Sentak Erika "Dan sekarang kau malah memikirkan perempuan itu dibanding aku! Bangsat!" Umpat Erika seraya beranjak meninggalkan Rain dengan mata berapi-api.
Rain segera menyusul Erika yang pergi ke luar rumahnya, menarik tangan Erika dan membawa wanita itu ke dalam pelukannya "I'm sorry heart, kau sangat berarti, aku juga memikirkanmu, di dunia ini aku hanya mencintai satu wanita setelah ibuku tidak ada, aku tidak akan mungkin meninggalkanmu jika aku saja tidak sanggup kehilanganmu" Rain mengusap air mata Erika dengan lembut.
"Aku mencintaimu Rain" Lirih Erika menatap dalam mata Rain.
Rain menangkup kedua pipi Erika "I know heart, love more" Rain menyatukan bibir mereka dengan penuh perasaan.
Rain tidak menyangka reaksi Erika akan semarah itu dan justru malah mengungkit hubungan mereka. Rain sangat mencintai Erika mungkin ini memang saatnya hubungannya bersama Erika diketahui Nara. Rain sangat mencintai Erika, ia tidak ingin kehilangan perempuan itu.
Rain memilih untuk tetap di rumah Erika menemaniku perempuan itu hingga dia tertidur. Tadi Erika memintanya untuk tetap menemaninya dan jangan pulang sebelum dia tidur. Dan akhirnya di sini lah Rain, di samping tempat tidur Erika, duduk memandangi wajah pulas wanitanya dengan tangan yang menggenggam tangan wanita itu.
🍁🍁🍁
Di rumahnya Nara masih setia duduk di kursi meja makan dengan macam-macam hidangan yang dia buat, meski di bantu Yuni. Tadi sebelum pergi Rain bilang kan kalau dia menginginkan makanan yang di masak Nara lagi? Dia bilang nanti akan makan bersama Nara kan? Jadi karena itulah Nara di sini untuk menunggu Rain.
"Nona, apa sebaiknya anda tidur saja? Ini sudah larut, makanannya pun sudah dingin" Tutur Yuni hati-hati.
"Kau dengar tadi kan Yun, Rain ingin makan ikan itu lagi, dan dia juga bilang ingin makan dengan tanganku, bagaimana kalau saat dia pulang nanti dia kelaparan? Jadi aku akan tetap menunggunya disini!" Kekeh Nara. Ini sudah hampir jam 11 rasanya memang tidak mungkin Rain pulang dengan kelaparan, bisa saja dia makan di luar, tapi Nara akan tetap menunggunya dan dia tidak akan makan sebelum Rain datang.
KAMU SEDANG MEMBACA
AFFAIR (Completed)
General Fiction[21+] Naradira, dia sangatlah ingin membunuh laki-laki di hadapannya, yang tidak lain adalah suaminya sendiri. Kecewa? Sudah pasti. Marah? Tentu saja. Nara sama sekali tidak mentolerir pengkhianatan. Lulus SMA Nara diharuskan menikah dengan Ilham Ra...
