Chapter 26 | Lindungi Aku

3.6K 184 12
                                        

Setelah beberapa hari sempat istirahat karena kejadian yang saat itu membuat kepalanya sangat sakit, dan hari ini keadaan Ardan masih belum membaik. Ardan menyuruh Dani untuk mengambil beberapa berkas di kantornya.

Sementara Ardan yang kini tengah duduk di ruang kerjanya, sembari menatap foto-foto yang tempo hari di berikan Dani.

Ardan meyuruh salah satu maid di rumahnya untuk memanggil perawatnya datang ke ruangannya, pun maid itu segera menghampiri Erika yang saat itu tengah menyiapkan makan dan obat untuk Ardan.

Erika bergegas untuk segera ke ruangan Ardan setelah maid itu mengatakan Ardan memanggilnya.

Erika mengetuk pintu "Masuk" hanya itu jawaban dari sang tuan rumah begitu dingin dan menusuk. Bahkan melihat tatapannya saja membuat suasana di ruangan itu sangat tidak nyaman bagi Erika.

"Makanan dan obatnya, tuan" Erika membawa nampan di tangnnya.

"Apa hubunganmu dengan suami dari putriku?" Todong Ardan langsung tanpa basa-basi terlebih dahulu.

Mata Erika mengerjap ia terkejut tiba-tiba Ardan bertanya seperti itu, dengan gelagapan dia menjawab "M-maksud anda apa, tuan?"

Ardan tidak menjawab tapi dia melempar foto-foto itu hingga berserakan di mejanya.

Mata Erika melotot tatkala melihat beberapa gambar dirinya bersama Rain, dia sangat kesulitan bernapas karena jantungnya yang berpacu cepat.

"Berani-beraninya kau melakukan hal menjijikan dengan menantuku?!" Geram Ardan tertahan.

Muka Erika yang awalnya terkejut kini merubah mimik wajahnya, tersenyum miring dan menatap berani pria paruh baya di depannya. Mengelak pun sudah tak berguna, bukti foto itu memperjelas akan hubungannya bersama Rain, Erika juga sudah bosan terus sembunyi-sembunyi seperti ini.

"Iya, aku adalah kekasih Rain Brawijaya jauh sebelum putrimu yang pelakor itu" Sinis Erika.

Rahang Ardan mengeras "BERANINYA KAU!"

"Kenapa tuan Ardan yang terhormat? Bukankah benar, putrimu yang merebut Rain dariku? Apa putrimu tidak laku hingga kau memaksa menikahkannya pada kekasihku?!" Desis Erika.

"Aku akan membuatmu menyesal karena telah menghina putriku!" Geraman Ardan tertahan menahan marah, tangannya mengepal hingga buku-buku jarinya memutih.

Ardan memegangi kepalanya lagi kali ini jauh lebih sakit dari yang waktu itu, napasnya juga sangat sesak. Tangan Ardan terulur seakan meminta obat yang ada di nampan yang masih di tangan Etika. Erika gelagapan, dia panik melihat keadaan Ardan, tubuhnya bergetar dan menjatuhkan nampan itu hingga obat juga air di nampan itu berderak di lantai.

Bruk

Ardan terjatuh dari kursi kerjanya dengan masih memegang kepalanya, dengan tergeletak di lantai tangannya masih melambai-lambai meraih obat di lantai itu namun terlalu lemah.

Erika yang melihat itu memundurkan langkahnya beberapa langkah ke belakang, ia memegang bibirnya yang bergetar karena panik. Erika segera meraih ponselnya untuk menghubungi seseorang.

"A-a-aku mohon cepatlah datang, aku takut" Pinta Erika.

"Kamu kenapa?" Tanya seseorang di sebrang telepon.

"Aku takut"

"Kau dimana, aku akan segera ke sana"

"Rumah Ardan, aku mohon cepatlah" Erika bicara dengan suara bergetar.

🍁🍁🍁

Setelah mengecup kening Nara Rain pergi dari rumah menuju kantor, namun sebelum berangkat ke sana, dia pergi ke rumah orangtuanya dulu untuk membicarakan sesuatu hal, Rain menghubungi Farhan untuk menghandle beberapa pekerjaan di kantornya sebelum dia datang.

AFFAIR (Completed)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang