Sudah seminggu sejak pertengkaran di meja makan waktu itu. Perang dingin yang sempat terjadi juga sekarang mulai mencair meski tak menghangat.
Nara dan Rain sudah kembali bertegur sapa meski tak sesering sebelumnya, lebih tepatnya Nara, dia terkesan acuh sementara Rain berusaha untuk membujuknya. Seperti sekarang, jika biasanya setiap pagi Nara selalu mengecup pipi Rain saat laki-laki itu bangun pagi hari. Sekarang tidak lagi, Nara hanya bersikap seperlunya saja.
Rain mengucek kedua matanya sambil sesekali mengerjap karena baru bangun, tapi dia melihat Nara sudah siap dengan pakaian rapih.
"Kopi dan sarapannya sudah di atas meja, baju untuk ke kantor juga sudah ku siapkan" Ucap Nara datar.
"Kamu mau kemana?" Tanya Rain dengan suara serak khas bangun tidur.
"Aku mau ke rumah papah dan mungkin akan menginap di sana" Jawab Nara masih dengan raut datar.
"Aku antar" Rain dengan cepat beranjak dari tempat tidur.
"Berhenti, aku bisa ke sana sendiri" Tegasnya.
"Tidak, aku tidak akan membiarkanmu berdesakan dengan orang di mobil umum" Rain kembali beranjak.
"Huh, kau lupa kalau dunia sudah canggih? Aku bisa memesan taksi online" Tungkasnya seraya berjalan ke arah pintu.
Rain segera mencegatnya "Nara, sudah kubilang aku akan mengantarmu"
"Gak usah sok perhatian" Nara menekan kata-katanya.
"Nara, kita sudahi ya perang dingin ini" Ucap Rain lesu.
Nara menyentak tangannya kasar melepas dari genggaman Rain "Kau yang memulainya" Setelah itu Nara melenggang pergi.
Dan Rain hanya menghela nafas berat. Dia benar-benar tidak nyaman dengan keadaan seperti sekarang. Sekarang Rain tidak lagi melihat senyum hangat Nara, tidak lagi melihat sikap cerianya, atau Nara yang cerewet, yang ada sekarang hanya tatapan datar perempuan itu. Rain tidak suka Nara yang sekarang. Dia pikir Nara tidak akan serius menyikapi permasalahan waktu itu. Tapi ternyata Nara sangat marah. Bahkan sudah seminggu ini Nara bersikap seperti itu.
Rasanya sungguh tidak nyaman, sangat. Rain merindukan Nara yang dulu. Naranya yang cerewet, Naranya yang periang, sekarang baru Rain sadari bahwa kehadiran Nara ternyata sangat berpengaruh dalam hidupnya. Nara masih ada disisinya hanya sikapnya saja yang berubah tapi Rain sudah merasa kehilangan, apalagi jika nanti Nara benar-benar pergi dari hidupnya.
🍁🍁🍁
Nara berlari menaiki tangga setelah bertanya pada pelayan dimana keberadaan ayahnya, dan pelayannya bilang Ardan di kamarnya bersama perawatnya.
Saat Nara membuka pintu rupanya ayahnya baru saja selesai minum obatnya. Nara langsung menghampiri mereka.
"Nara" Gumam Ardan.
"Papah, gimana keadaan papah?"
Ardan tersenyum "Sudah lebih baik, perawat baru papah merawat papah dengan baik"
Nara menaikan pandangannya pada Erika yang tengah tersenyum tipis, pun Nara membalas senyumannya dengan tipis juga "Terimakasih, Erika" Ucap Nara tulus. Erika hanya mengangguk lalu beranjak pergi meninggalkan Nara bersama Ardan.
Nara baru menuruni tangga setelah Ardan tertidur, di lantai bawah Nara melihat Erika tampak bercengkrama dengan para pelayan lain, dia tampak ramah sekali kepada mereka. Nara menghampirinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
AFFAIR (Completed)
General Fiction[21+] Naradira, dia sangatlah ingin membunuh laki-laki di hadapannya, yang tidak lain adalah suaminya sendiri. Kecewa? Sudah pasti. Marah? Tentu saja. Nara sama sekali tidak mentolerir pengkhianatan. Lulus SMA Nara diharuskan menikah dengan Ilham Ra...
