Baru tiba di undakan tangga pertama tiba-tiba Dani mendengar teriakkan histeris dari seorang wanita, dan suara itu berasa dari lantai dua, ruangan Ardan tepatnya.
_________________________________________
Betapa terkejutnya Dani, dengan napas ngos-ngosan karena berlari menaiki tangga panjang itu, dan ketika sampai malah melihat pemandangan yang tidak menyenangkan. Di sana sudah ada Ranti, rupanya yang tadi teriak itu adalah Ranti, dan kini wanita itu tengah menangis.
"Tuan" Pekik Dani segera menghampiri Ardan.
Beruntung saat Dani datang Ardan masih tersadar namun keadaannya sudah sangat memilukan. Dengan lemah tangannya melambai-lambai ketika mengetahui orang di sampingnya adalah Dani. Lambaian tangan Ardan mengarah pada sesuatu seolah ingin menunjukkan sesuatu. Dia hanya bisa melambaikan karena sudah terlalu lemah.
Ketika Dani mengikuti arah tangan Ardan, ternyata tangannya menunjuk pada lemari buku di belakang kursi kerjanya, tapi Dani tidak mengerti karena yang dia lihat di lemari itu hanyalah buku-buku Ardan. Tapi ia akan mencari tahunya nanti, apa sebenarnya maksud Ardan menunjuk lemari buku itu.
Dengan susah payah Ardan berusaha mengeluarkan kata-katanya. Ardan menggenggam erat tangan Dani "J-j-ja-ga p-pu-tr-i ku" Setelah bicara seperti itu genggaman tangan mulai melemah.
Dengan segera Dani menggendong Ardan di punggungnya, diikuti Ranti dari belakang berjalan susah payah hingga mereka tiba di mobil. Penjaga yang berada di luar rumah segera membantunya.
Dani memanggilnya supir untuk melajukan mobilnya. Sementara dirinya di kursi belakang menahan tubuh Ardan, dan Ranti di sebelah supir.
Setibanya di rumah sakit, Dani memanggil beberapa perawat untuk membantunya, dan segera melakukan penanganan pada Ardan.
Namun sayang, saat dokter memeriksa Ardan sudah tiada. Ranti semakin menangis. Tak terasa satu tetes air juga jatuh dari pelupuk mata Dani, ia juga terpukul, Ardan sudah banyak membantu dia dan keluarganya, dan sekarang orang baik itu telah pergi.
Ranti menghapiri Dani "Dan nona Nara" Ucapan Ranti membuat Dani tersadar bahwa belum memberitahu Nara.
"Saya akan menjemputnya" Tungkas Dani seraya berlari keluar dari rumah sakit.
🍁🍁🍁
Dani terburu-buru mengetuk pintu rumah Nara setibanya di sana. Dan yang membuka pintu bukan Nara tapi asisten rumahnya. "Dimana nona Nara?" Tanya Dani cepat.
"
Ada di dalam, nona sedang membuat smoothie"
"Tolong cepat katakan saya ingin menemuinya"
"Baik, tunggu sebentar"
Tidak berapa lama Nara muncul menemui Dani dengan tersenyum.
Dani segera mendekat pada Nara "Nona harus ikut saya sekarang"
"Ada apa? Kenapa?" Nara dengan wajah kebingunganya.
"T-tuan nona" Dani dengan raut sendunya.
"Papah kenapa, papah baik-baik aja kan?" Nara mengguncang tangan Dani rakun akan sesuatu yang terjadi dengan ayahnya.
"Tuan masuk rumah sakit" Dani tidak mampu mengatakan sejelas-jelasnya, dia tidak tega pada Nara, biarlah nanti Nara tahu sendiri setelah di rumah sakit.
"Apa! Baiklah ayo kita ke sana sekarang juga" Nara bergegas, tanpa mempedulikan penampilannya yang hanya mengenakan daster.
Nara dan Dani bergegas menuju rumah sakit yang jaraknya tidaklah dekat itu. Sepanjang jalan Nara diliputi rasa khawatir. Dani juga sesekali melirik pada Nara yang terlihat sudah mengeluarkan air matanya dengan ekspresi tak tenang.
KAMU SEDANG MEMBACA
AFFAIR (Completed)
Ficción General[21+] Naradira, dia sangatlah ingin membunuh laki-laki di hadapannya, yang tidak lain adalah suaminya sendiri. Kecewa? Sudah pasti. Marah? Tentu saja. Nara sama sekali tidak mentolerir pengkhianatan. Lulus SMA Nara diharuskan menikah dengan Ilham Ra...
