Chapter 5 | Aku Ingin Seperti Mereka

4.3K 184 1
                                        

Gadis itu menuruni tangga dengan cepat dan kaki di hentak keras, menghampiri Rain yang tengah menyesap kopinya sembari mengamati dokumen-dokumen pekerjaannya. Nara menghampirinya dengan wajah tak bersahabat.

"Kau!" Ucapnya menjeda kalimatnya. Rain menoleh setelah menyesap lagi satu tegukan kopinya. "KENAPA KAU TAK BILANG KALAU DISINI SUSAH SINYAL!" Teriak Nara kesal.

"Kau tidak bertanya" Jawab Rain dengan santainya dengan kembali membuka dokumennya lagi.

"Kau yang membawaku kesini seharusnya kau bilang!" Nara kembali menyentak tapi lawan bicaranya malah tidak menghiraukannya.

Nara mendengus kesal kemudian beranjak keluar rumah sembari mengacungkan handphonenya berharap satu sinyal saja menghinggapi hpnya tapi hasilnya ya gitu, nihil. Kemudian mata Nara menangkap sebuah pohon yang cukup banyak dahan pohonnya, Nara berjalan ke pohon itu mengamati pohon itu dari bawah sembari menimang-nimang.

"Kayaknya gak sulit deh" Pikirnya sembari mencoba menaiki pohon itu. "Kenapa ini susah sekali" Gerutunya sembari terus mencoba naik dan "Yes, Alhamdulillah berhasil" Ucapnya padahal itu baru di dahan paling bawah. Nara kembali mencoba naik tapi saat menaikkan kaki kirinya kakinya malah terpleset pada lumut di dahan pohon itu hingga "Akhh" Teriak Nara saat bokongnya mencium tanah.

Teriakan Nara terdengar hingga ke dalam rumah, Rain segera keluar saat mendengar Nara teriak. "Astaga" Sampai di teras rumah Rain menyugar rambutnya saat melihat Nara meringis di bawah pohon, Rain dapat menebak hal apa yang baru saja dilakukan gadis itu hingga dia duduk meringis seperti itu.

Rain berlari menghampiri Nara dan membantu Nara berdiri "Kau tidak papa?"

Nara mendongak menatap Rain dengan mata berkaca-kaca "Bokongku" Adunya.

Rain mati-matian menahan bibirnya agar tidak tertawa "Lagian apa yang kau lakukan hingga jatuh seperti itu?"

"Nyari sinyal" Beonya dengan polos, astaga Nara.

Rain tidak tahan bibirnya sedikit berkedut menahan tawa "Ayo kembali ke dalam" Ajaknya.

"Kau tertawa?!" Ucap Nara memicingkan matanya karena tadi sempat melihat Rain seperti menahan tawa.

"Maaf" Ucap Rain kali ini dia benar-benar tertawa kecil.

"Sheriously? Jadi kau benar-benar menertawaiku? Oh god, brengsek" Ucapnya mengumpat. Berjalan meninggalkan Rain dengan langkah tertatih dan memegangi bokongnya.

Rain tersenyum geli melihat Nara seperti itu, tapi kocak juga. Kemudian beranjak menyusulnya ke dalam. Terlihat Nara tengah duduk di sofa tempat Rain duduk tadi saat mengerjakan pekerjaannya. Rain mendudukkan dirinya di samping Nara.

"Sepertinya aku harus ke rumah sakit" Rengeknya. Rain menoleh dan tersenyum miring.

"Seskalian saja pakai asuransi juga"

"Hey ini sakit sekali tahu tidak, rasakan sendiri coba dan kau akan tahu sakitnya gimana" Sentak Nara mendelik kesal

"Jadi beneran mau ke rumah sakit?"

"Enggak! Ya kali" Decaknya.

Rain kembali tersenyum "Pinjam handphone kamu" Ucapnya mengasongkan tangan.

"Buat apa?" Ucap Nara nyalang.

"Hanya mengetik kata sandi Wi-Fi"

Nara menegakkan badannya "Jadi disini ada Wi-Fi?" Ucap Nara, Rain mengangguk "Kenapa kau tidak bilang! Kan kalau tahu ada Wi-Fi aku tidak perlu manjat pohon dan jatuh seperti tadi!"

"Kau tidak bertanya"

"Hish" Nara berdecih sembari memberikan ponselnya.

°°°

AFFAIR (Completed)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang