Mereka tiba di rumah 20 menit kemudian. Rain menarik tangan Nara namun dia merasakab telapak tangannya basah, saat Rain melihatnya di telapak tangannya terdapat bercak darah. "Kamu terluka?" Tanyanya.
"Hanya luka kecil" Jawab Nara.
"Kamu selalu menganggap semua luka kecil, ayo kita obati luka kamu" Ucapnya segera membawa Nara memasuki rumah.
Nara duduk di sofa ruang tamu, sementara Rain berjalan menuju nakas untuk mengambil kotak P3K di laci nakas itu lalu kembali menghampiri Nara. Menuangkan cairan alkohol pada kapas dan mengoleskan kapas itu pada lengan kanan Nara, dia sedikit meringis, setelah itu lukanya dibalut dengan kasa.
"Saat di depan rumah kamu tampak menikmati saat dia menciumu, kenapa tadi kamu justru berontak dan menangis?" Tanya Rain sembari membereskan alat-alat P3K itu tanpa menoleh pada Nara
Nara menunduk menautkan jari-jarinya "Saat itu dia menciumku dengan perasaannya tapi tadi dia berniat memperkosaku" Cicit Nara.
"Bukankah kau mencintainya?" Ucap Rain sembari berjalan ke arah nakas untuk menyimpan kembali kotak P3K itu.
"Tapi aku hanya akan menyerahkan kehormatanku pada suamiku" Cicit Nara lagi.
Rain menghentikan langkah lalu berbalik "Suamimu? Berarti aku dong?" Ucapannya tersenyum miring dengan mengangkat alisnya sebelah.
Nara menoleh cepat "Maksudnya suami yang aku cintai, kau kan tidak kucintai" Dengusnya.
Rain terkekeh lalu menyimpan kotak P3K pada laci di sana, kemudian menghampiri Nara lagi dan duduk di sebelahnya dan tanpa permisi dia merebahkan kepalanya di paha Nara.
"Hey apa yang kau lakukan!" Decak Nara.
"Biarkan seperti ini sebentar saja, aku belum sempat istirahat setelah pulang kerja dan harus menolongmu dari kekasihmu sendiri" Ucapnya mulai memejamkan mata.
"Kalau begitu kenapa kau menolongku?" Jawab Nara mengalihkan pandangan pada arah lain dengan angkuh.
"Aku juga tidak tahu, seperti ada magnet yang membawaku ke arahmu" Ucapnya lagi masih dengan mata terpejam. "Dan ada perasaan tak rela melihatmu dengan laki-laki itu" Itu hanya diucapkan Rain dalam hati.
Dan entah karena apa tangan Nara terulur begitu saja dan membelai rambut Rain dengan telapak tangannya yang lembut. Perlahan Rain membuka matanya menatap Nara dengan lekat.
"Apa kau benar-benar mencintai laki-laki itu?"
Nara sedikit mengerjapkan matanya mendengar pertanyaan Rain namun dia segera menormalkan ekspresinya lagi "Aku sudah dua tahun menjalani hubungan dengannya, dia yang mengisi hari-hariku saat aku merasa kesepian karena kepergian mamah dan papah yang sibuk bekerja, Revan yang membuat aku tidak merasa sendirian lagi sebelum aku kenal dengan sahabat-sahabatku sekarang" Tutur Nara panjang, entah kenapa dia mau menceritakan itu pada Rain.
"Aku sangat mencintainya hingga selalu memimpikan menikah dengannya bahkan kami sempat merencanakan menikah saat kami lulus kuliah nanti" Nara tersenyum menerawang "Tapi yang dilakukannya padaku tadi membuat aku ragu apakah aku akan tetap memimpikan pernikahan dengannya" Nara tersenyum miris.
"Lalu bagaimana denganku?" Tanya Rain lagi masih dengan menatap Nara.
"Maksudmu?" Tanya Nara kurang mengerti.
"Bagaimana perasaanmu padaku?" Tidak tahu apa dan kenapa pertanyaan itu muncul begitu saja di kepala Rain dan refleks melontarkannya pada Nara.
Sebentar, Nara terlihat berpikir "Awalnya aku membencimu, tapi ternyata kau lumayan baik, jadi aku tidak membencimu lagi" Ucap Nara apa adanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
AFFAIR (Completed)
General Fiction[21+] Naradira, dia sangatlah ingin membunuh laki-laki di hadapannya, yang tidak lain adalah suaminya sendiri. Kecewa? Sudah pasti. Marah? Tentu saja. Nara sama sekali tidak mentolerir pengkhianatan. Lulus SMA Nara diharuskan menikah dengan Ilham Ra...
