21+ dikit
Cahaya mentari yang mengintip dari celah gorden kamar menyilaukan matanya membuat Nara mengerjapkan mata dan seketika matanya langsung mendapati wajah Rain yang masih terlelap tepat di depan wajahnya.
Tampan sekali
Dua kata itu yang muncul di benaknya ketika menatap Rain.
Perlahan Nara mengulurkan tangannya meraba wajah Rain perlahan. Mulai dari alis tebal Rain, pipi yang di tumbuhi sedikit bulu-bulu kasar, rahang tegasnya, bibir merah alaminya, dan terakhir Nara menekan-nekan hidung Rain dengan telunjuknya sembari sesekali tertawa pelan.
Tiba-tiba perlahan Rain membuka matanya, sontak Nara melotot dan menjauhkan tangan dari wajah Rain.
"Kok kamu bangun sih?" Ucapnya sedikit gugup.
"Bagaimana aku tidak bangun kalau kamu terus mengusik tidurku" Jawabnya tersenyum dengan suara seraknya khas bangun tidur.
"A-aku aku akan mandi sekarang" Ucap Nara tergagap dan hendak beranjak namun Rain mencekal tangannya.
"Biarkan seperti sebentar saja, aku ingin melihat wajahmu dari dekat juga" Ucapnya, dan Nara hanya mengikuti saja.
Jika saja dia lebih dulu bertemu Nara sebelum Erika, mungkin sekarang dia akan menatap gadis di depannya dengan tatapan memuja.
"Jangan jatuh cinta padaku Nara, itu akan menyakitimu, dan aku tidak mau melihatmu terluka karenaku" Batin Rain seraya menatap mata Nara dengan dalam.
🍁🍁🍁
Rain dan Nara terburu-buru pergi, mereka baru ingat kalau hari ini mereka harus ke kantor ayahnya Nara. Mereka sudah janji kemarin.
Untung saja Rain meninggalkan beberapa pakaian di rumah neneknya dan untungnya Gita punya baju bagus yang cocok dipakai Nara untuk acara formal. Jadi mereka bisa langsung ke kantor dari rumah neneknya langsung.
"Apa kita akan telat?" Tanya Nara.
"Mudah-mudahan saja tidak, ini juga baru jam 7" Jawab Rain.
Selang beberapa menit mereka tiba di kantor dengan tulisan besar di depan gedung itu 'NACA'.
Dengan langkah tergesa keduanya Memasuki kantor itu. Tepat di depan pintu ruang rapat mereka menghentikan langkahnya.
Mereka sama-sama menghela napas "Aku deg-degan Rain" Cicit Nara. Ini pertama kalinya dirinya datang ke acara rapat ayahnya yang pasti banyak kolega-kolega besar di dalam sana.
"Genggam tanganku, Nara" Ucapanya, mereka sempat bersitatap beberapa saat. Kemudian mengetuk pintu itu dan memasukinya.
Semua orang yang ada di rapat itu menoleh pada mereka. Ardan langsung menyambut keduanya.
"Ah akhirnya kalian datang juga" Sambut Ardan.
"Maaf kami telat, ada sedikit masalah kecil tadi" Rain merasa bersalah.
"Tak apa, kemarilah nak" Pinta Ardan pada mereka.
"Baik, semua mohon perhatiannya, jadi maksud dari dikumpulkannya dalam rapat ini, saya ingin mengenalkan putri serta menantu saya mungkin beberapa dari kalian juga sudah mengetahuinya" Ucap Ardan menerangkan. "Namun selain itu, disini juga sekalian pengangkatan Ilham Rain Brawijaya sebagai CEO baru di perusahaan NACA GROUP karena saya juga sudah berumur dan sering sakit jadi saya berpikir untuk selanjutnya menyerahkan tanggung jawab perusahaan ini kepada menantu saya" Sambung Ardan.
KAMU SEDANG MEMBACA
AFFAIR (Completed)
General Fiction[21+] Naradira, dia sangatlah ingin membunuh laki-laki di hadapannya, yang tidak lain adalah suaminya sendiri. Kecewa? Sudah pasti. Marah? Tentu saja. Nara sama sekali tidak mentolerir pengkhianatan. Lulus SMA Nara diharuskan menikah dengan Ilham Ra...
