Chapter sisi kehidupan Vana!!
Happy reading<3
Di perjalanan, ara yang sedang menyetir mobilnya sedang fokus menatap arah jalanan, tak lupa menanyakan kepada anak pertamanya."Gimana tadi di sekolah, na?" Tanya ara.
"Biasa aja, dad" jawab singkat dari vana.
Sosok anaknya yang dulu periang, tidak cengeng, kini berubah menjadi seseorang yang pendiam, cuek, dan ambisius. Matanya tak bisa berbohong, kejadian 5 tahun yang lalu tak bisa ia lupakan, dan kejadian itu sudah menjadi trauma bagi dirinya.
"Dad" Vana menatap ara, tatapan yang tajam seperti ibunda kandungnya, Chika.
"Yaa?"
Vana menunduk, "Vana kangen mommy Chikaa..", Dirinya menahan tangis.
"Sstt.." Ara berbisik, " pleasee, jangan sebut nama itu lagi. Daddy benci nama itu", Ara menahan emosinya saat putrinya menyembutkan nama dari seseorang yang telah melukai hatinya beberapa tahun yang lalu.
"Chikaa, andai aja kamu gak berbuat kek gitu" batinnya sambil menoleh ke arah Vana, "pasti yang disebelah aku ini kamu, bukan Vana".
Walaupun Ara membenci Chika. Percayalah, dirinya masih ada rasa sayang terhadap Chika..
°°°
Dirumah, Vana langsung melepas tas dan melempar ke sembarang arah, sungguh melelahkan baginya. Hoodie putih tetap dirinya pakai walaupun hari sedang panas. Ia menghela nafasnya sembari menahan rasa sakit.
Ia menyentuh pundaknya, air matanya mengalir.
Ara yang menatap anaknya duduk di tepi ranjangnya. Memegang pundaknya sembari menahan rasa sakit. Sedikit kebingungan, lalu dirinya mendatangi Vana dan duduk disebelah vana.
"Vana.." ia meletakkan tangannya di pundak kiri Vana.
"Awsss" ringis Vana ketika pundaknya dipegang Ara.
Ara kebingungan, "loh, nak?"
Vana menghela nafasnya, beranjak dari kasur untuk menutup pintu dan mengunci, dan kembali seperti semula.
Ia menghela nafasnya, "jadi gini, dad." Ujarnya. Vana melepaskan hoodie dan kemeja putihnya, dan tersisakan bra putih.
Ara terdiam, melihat pundak Vana luka pukulan dari gagang sapu. "Vanaa! Kok bisa luka?" pekik Ara.
Vana mulai terisak, "aku kena bully, dad" katanya. Membuat ara semakin emosi. "Mereka bully aku cuma karna aku adalah anak broken home.." lanjutnya dengan singkat.
Ara mengepalkan tangannya. "Kenapa kamu gak bilang aja sih! Daddy khawatir sama kamu, na"
Vana beranjak dari kasurnya. "Vana gak mau, dad! Kalau daddy harus berurusan sama kepala sekolah!"
"Ini justru yang terbaik buat kamu! Daddy gak mau, kalau mental kamu jatuh cuma karna seseorang aja" sambung ara.
Tokk...tokk...tokk
"Araa, Vanaa. Buka pintunyaa!"
Vana langsung membuka kunci dan membuka pintu, rupanya Fiony sedang menguping pembicaraan mereka didalam tadi.
"Mommy fiony?" Vana mengerutkan keningnya.
Fiony tersenyum tipis. "Tadi kata vana pundaknya kamu lagi luka, ya? Tenang, mommy udah siapin betadine sama kapas" ujarnya. Whatt?! Sepeka ituu!
Vana kebingungan, melihat betadine dan kapas di kedua tangan fiony.
Fiony langsung masuk kedalam kamar Vana, dan memerintahkan Vana duduk disamping Ara.
Dirinya mulai meneteskan betadine di kapas, "untung aja mommy peka, kalau harus di kasih betadine."
Kapas itu mulai di usapkan dipundak Vana yang luka. Vana pun meringis, "Awss"
"Berarti daddy, harus bilang semua ini ke kepala sekolah. Sebelum terlambat!" Ujar fiony, kapasnya masih mengusap di pundak Vana.
"Besok!" Seru Ara.
"Aduhh.." keluh Vana.
"Kenapa, nak?"
"Vana terpesonaa. Melihat kecantikan mommy fiony bagaikan bidadarii.."
Fiony memutar bola matanya seperti malas. "Mulaii yaa, didikan kamu nihh, ra!"
"Lahh, akuu?"
"Heem, kamu itu buaya darat! Sifat buaya darat mu nurun ke Vana." Seru Fiony menunjuk.
Mereka bertiga tertawa dengan seksama. Sungguh, authornya jadi iri dehh sama bertiga, keluarga yang bahagiaa yaa.
Tbc
Maaf ya, prend, tidak nyambung cerita nyaa. Klau ada typo di koreksi ya, prend 🤩💅

KAMU SEDANG MEMBACA
God, i love her 2 [ Completed ]
Fanfiction"Aku mencintai mu, Chika!" CERITA FIKSI!! WARNING : GXG SCENE ⚠️ ADEGAN KEKERASAN⚠️ ⚠️ SEBELUM MEMBACA. DISARANKAN UNTUK MEMBACA S1 NYA TERLEBIH DAHULU