revenge (2)

605 90 3
                                    


CTAK!!

Lampu di basement menyala. Ara dan bodyguardnya berjalan menuruni tangga.

Pak Ridwan dan mas John terikat di bangku dengan matanya tertutup sebuah kain putih.

Ara bertepuk tangan, "bagus, baguss, Steven and Andrea! Good boy!" Ara tersenyum.

Ara menoleh ke belakang, "mulai hari ini. Gajih kalian naik 3 kali lipat" bisik Ara.

"Terima kasih, tuan Ara" Steven dan Andrea membow badannya menghadap Ara.

"Sekarang. Buka kain yang menutup mata mereka berdua" titah Ara datar berdiam di tangga.

Steven dan Andrea menuruni tangga, dan melepaskan kain yang menutupi mata pak Ridwan dan mas John.

"Halo, pak Ridwan dan mas John" gumam Ara tersenyum miring.

"Ara! Saya bisa jelaskan, mohon lepaskan saya!" Ridwan memberontak, satu tendangan dari Steven pun mendarat di bagian kaki Ridwan.

"Ssttt.. s-sakitt" Ridwan mendongakkan kepalanya, menahan rasa sakit yang amat luar biasa.

Ara menuruni anak tangga, tak ada rasa kasihan dari Ara. Emosinya sangat memanas.

"Bapak ada masalah apa sama saya? Punya dendam sampai melampiaskan dendam ini sama anak sulung saya?"

"Padahal kalian berdua manager saya loh, pak, mas" Ara menoleh ke arah Ridwan dan John

Ridwan masih terdiam, pandangannya kosong dirinya hanya bisa meneguk salivanya.

Ara memeras kuat dan menarik kerah baju Ridwan. "JAWABB, BAPAK?!!" Ujar Ara dengan berteriak.

"ASAL BAPAK TAU. BAPAK DAN MAS JOHN SUDAH MELECEHKAN PEREMPUAN. VANA MASIH MINOR?! DIA SUDAH MENDAPATKAN TRAUMA DI USIANYA YANG MUDA?!"

Ara menghela nafasnya, "kalau bapak tidak jujur.." Ara mengeluarkan pisau lipat yang berada di kantong celananya, dan mengusap lembut ujung pisau di pipi Ridwan. "Saya gak akan segan untuk menghilangkan nyawa bapak"

Ara menoleh ke arah John yang sangat ketakutan, "termasuk mas John" Ara terkekeh.

°°°

Di sisi lain tepatnya di kamar Vana, Fiony sedang duduk di tepi kasur dan bersebelahan dengan Vana.

"Masih sakit, sayang?" Tanya Fiony khawatir melihat tubuh Vana dipenuhi lebam.

Vana mengangguk pelan. "Masih, mom"

Tibalah Vanka yang membawa kapas beserta betadine dan ia letakkan di nakas.

"Makasih ya, nak" ujar Fiony membuat Vanka tersenyum.

Fiony mengambil kapas lalu menetaskan betadine lalu mengusapkan terlebih dahulu di collar bone Vana.

"Kakak Vana kenapa bisa jadi kayak gini?" Tanya Vanka membuat Fiony berhenti sejenak.

"Kak Vana kena pukulan, tapi sekarang kakak udah gak pa-pa, kok" ujar Vana.

Vanka hanya mengangguk.

Tak lama Fiony mengusap kapas berbalut betadine di collar bone Vana. Fiony, Vana dan Vanka mendengar suara teriakan sangat keras dari dalam basement.

"APAA?!?!" Suara teriakan dari Ara mampu terdengar sampai kamar Vana.

"Ara.." Fiony beranjak dari duduknya.

"Daddy.." Vana mengerutkan keningnya.

Fiony mulai mendekati pintu kamar dan ingin beranjak dari kamar Vana.

God, i love her 2 [ Completed ]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang