now, we have to part..

553 83 3
                                    


5 hari kemudian.

Ceklek

"Sayangg.." Ara baru saja tiba dari kantornya. Hari sudah pun sudah malam. "Aku mau ngomong.."

"Yaa?" Fiony sedari-tadi rebahan di kasur langsung mengubah posisinya menjadi duduk.

Ara duduk tepat di sebelah Fiony. Sebelum berucap dirinya menepikan rambut Fiony. "Maaf, yaa, kita besokk" Ara menatap Fiony, "..udah harus pisah"

"Aku tau, kamu pasti udah ngelamar Chika, kan?. Trus, kamu mau rujuk?"

"Iyaa, maaf, yaa.."

Fiony tersenyum tipis. "Aku maafin, orang tua aku juga gak ngerestuin hubungan kita lagi. Aku mau dijodohin sama seseorang, ra"

"Pas aku bilang kita mau cerai ke papa. Papa aku kayak seneng.. banget" sambung Fiony.

Ara mengusap punggung telapak tangan Fiony. "Kita udah punya jalan masing-masing. Aku mau rujuk, sedangkan kamu dijodohkan" timpal Ara

"Cerita cinta kita mungkin akan berakhir besok. Kita gak bisa bersama lagi, raa.." ujar Fiony, "aku mohon banget. Perlakukanlah Chika seperti kamu memperlakukanku. Jangan sia-siakan dia. Aku tau, pasti Chika pernah melakukan kesalahan. Mungkin sekarang dia udah berubah"

"Jika anak-anak kita tanya mengapa kita pisah, berilah alasan yang simple tapi mudah dimengerti. Kan Vana udah remaja, pasti dia bakal bisa nerima. Pemikirannya mulai berkembang. Aku yakin!"

"Sebelum kita berpisah. Bolehkah berikan satu kenangan yang tak dapat aku lupakan, Fio??"

"Boleh. Tetapi kenangan itu harus disimpan baik-baik. Suatu hari nanti, kita kembali bertemu dengan pasangan kita masing-masing.."

Ara menepikan rambut Fiony. Mereka berdua saling bertatapan.
Ara mendekatkan kepalanya, Fiony lebih dahulu memejamkan matanya.



Cup



Satu ciuman mendarat. Mereka membuat sebuah kenangan tak dapat dilupakan. Mereka melakukan making love sebelum keesokan harinya mereka harus berpisah. Dan melakukan making love hingga pukul 03:44.



°°°



Pukul 09:21.

Fiony terbangun tanpa mengenakan pakaian sehelai benang satupun. Cahaya matahari dari kaca jendela menusuk matanya.  Tangan kanannya meraba di sebelahnya. Tak terdapat Ara di kamar itu.

"Hmm.. Ara mana, yaa?" Fiony pun duduk, mengusap kedua matanya pelan.

Ia pun menoleh ke arah kiri. Di bangku sudah ada handuk kimono. Dengan perlahan Fiony beranjak dari kasurnya, mengambil handuk kimononya lalu mengenakan.

"Ini siapa, yaa, yang nyiapin?" Fiony menatap ke sekililing kamar. "Ara mana?"

Fiony berjalan ke arah pintu kamarnya, dan membuka pintu. Nampak suasana rumahnya sepi.

Di depan kamarnya, sudah ada bi Siti yang sedang menyapu lantai. Fiony bertanya kepada bi Siti.

"Bibi, Ara mana?"

"Lagi ngurusin surat perceraian nyonya dan tuan.."

Fiony mengangguk, "baiklah, bi. Terima kasih"

"Sama-sama, nyonya"

Fiony kembali masuk ke kamar. Lalu ia berkaca di cermin, menatap banyak sekali kissmark yang ditinggalkan Ara. Apalagi di bagian dadanya, lebih banyak dari daerah pundak, leher dan collar bone.

"Aku harus nyiapin baju yang harus aku pakai.. dann, menaruh baju-baju di koper"

Fiony pun bergegas membersihkan tubuhnya.




Beberapa menit kemudian. Fiony sudah selesai membersihkan tubuhnya, kini ia sedang memperhatikan pakaiannya di cermin.

 Fiony sudah selesai membersihkan tubuhnya, kini ia sedang memperhatikan pakaiannya di cermin

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Outfit yang dipakai Fiony.

Ceklek

"Fiony.." Ara sudah tiba. Di tangan kanannya sudah ada surat perceraian. Dirinya terhenti melihat Fiony yang sedang menghadap kaca cermin, disebelahnya juga ada sebuah koper yang tak terlalu besar.

"Aku udah ada suratnya. Tolong di tanda tangani, yaa?"

"Iya" Fiony mengambil surat itu, tangannya bergetar saat men-tanda tangani suratnya.

"Makasih.. kini, kita sudah bukan sepasang suami istri. Aku mau minta maaf lagi, aku egois. Aku lebih mementingkan diriku sendiri"

"Gak pa-pa, ra. Bisa antar kan aku kerumah orang tuaku?" Ara mengangguk.

°°°



Diperjalanan, mobil Ara sudah hampir sampai di depan rumah orang tua Fiony.

"Dahh, sampai" sebelum berpisah, Ara mencium kening Fiony singkat. "Datangi orang tua mu. Mungkin orang yang dijodohkan dari orang tuamu sudah menunggu.."

Fiony beranjak dari mobil Ara. Dan mengambil koper yang berada di bagasi.

"Raa.."

Ara tersenyum. "Makasih, yaa, udah mau jadi istri yang bisa menggantikan Chika. Makasih juga, udah menjadi peran pengganti dari ibu kandung dari anak-anakku.."

Ara menghela nafas. "Aku pamit dulu, yaa.." Fiony mengangguk.















































Tbc

Gimana nihh chapter kali ini?

God, i love her 2 [ Completed ]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang