Regret

754 120 5
                                    

Music : Olivia rodrigo - traitor


°°°


Di sore hari.
Seperti biasa, chika dan ara sedang pergi keluar berdua. Agar hubungan mereka makin terikat.
Tak terasa, ara bersaing sehat dengan badrun sudah berjalan hampir sebulan. Beruntungnya, ara tau cara membuat seseorang itu nyaman dengan dirinya

Ara sedang fokus menyetir mobilnya. Terkadang, chika dan ara lebih sering menghabiskan waktunya berduaan di mobil. "Chik, kalau capek atau ngantuk senderan aja di bahu aku" gumam ara. Dan pas sekali, chika sedang merasa bosan. Lalu menyenderkan kepalanya.

Saat chika menyenderkan kepalanya di bahu ara. Yang ara rasakan sekarang adalah nyaman, bayangkan saja orang yang kita cintai makin membuat kita nyaman. Wkwkk..

"Ra, aku kenapa hari-hari ini lagi curiga sama mas badrun yaa?"

Ara mengerutkan keningnya. "Curiga kenapa?"

"Yaa curiga. Curiga pas ditelpon sama seseorang, dia malah nyuruh aku jauh dari dia"

Ara yang mendengarkannya langsung meremas kuat setiran mobil, dugaannya memang benar. "Kamu jangan mudah percaya apa yang keluar dari mulut pacar mu itu"

"T-tapi, ra.."

Jari manis lentik ara menyentuh bibir chika, "ssttt.. percaya sama aku. Aku, udah pernah jadi teman hidupmu selama 8 tahun" kalimat yang keluar dari mulut ara menampakkan nada yang lembut. "Jadii, jangan mudah terpengaruh dengan omongan badrun, chik" chika pun mengangguk.

Ara ingin sekali mengecup kening chika, tetapi niat itu langsung ia kurungi. Baru sadar jika wanita yang dirinya cintai untuk kesekian kalinya adalah mantan istrinya.

"Ra.." tangan chika menyentuh pergelangan tangan ara. "Mampir ke angkringan yang itu sebentar. Aku mau beli minum" titah chika seraya menunjuk ke arah tempat angkringan yang cukup ramai.

Ara pun memakirkan mobilnya di tepi jalan. "Tunggu sebentar gak papa, ra?" Tanya chika yang diangguki ara.

Chika pun beranjak dari mobil ara, berjalan cepat untuk memesan minuman yang ada di menu.

"Hmm.. mas, minuman red velved nya ada?"

Mas-mas itupun mengangguk. "Ada, kak. Mau pesan berapa?"

"Dua aja deh" ujar chika. Ia sengaja memesan dua minuman untuk dirinya dan ara.

"Okee, kak"

Tak butuh waktu lama, minuman yang ia pesan sudah tiba dengan dibungkus kantong kresek berwarna bening.

Saat chika berjalan hendak kembali ke mobil ara, ia melihat sosok badrun sedang bermesraan dengan perempuan lain yang ia tidak ketahui.

"Lohh, itukan mas badrun? Kok sama cewe lain?" batin chika mengerutkan keningnya.

Chika pun menghampiri badrun yang masih bermesraan dengan perempuan lain. Dasar playboy! Emosi chika bercampur aduk, mau marah iya, bingung iya, nangis juga iya.

"Mass.." gumam chika berdiri tepat dihadapan badrun.

Badrun langsung menatap chika dan beranjak dari kursinya. "Sayang, aku bisa jelasin" ujar badrun seraya memegang kedua tangan chika.

"Apaan sih!" Chika melepaskan tangannya yang dipegang badrun. "Butuh penjelasan apa lagii? Buktinya udah ada didepan mata aku. Masih mau nyangkal kamu?"

Emosi chika makin memanas, kedua tangannya ia sudah kepalkan, rasanya ingin sekali memukul badrun. "Kamu itu udah punya anak! Mendiang anak kamu udah liat semua kelakuan kamu!" Seru chika

Sosok perempuan berambut pendek sebahu, terkejut dan langsung beranjak dari kursinya. "Mas, apa tadi? Anak? Kamu punya anak?!" Ujar perempuan itu.

"Say-.."

Plak

Chika langsung menampar pipi badrun dengan kuat, menahan tangisannya seraya menggigit bibir bawahnya.
Dirinya sudah menyesal lebih memilih badrun, dan melanjutkan hubungannya dengan badrun.

"Kamu yaa.. dasar biadab!!" Seru chika meninggikan nada bicaranya.

Ara sedari-tadi melihat pertengkaran ini dari mobilnya, merasa cemas lalu ara pun beranjak keluar dari mobil, berniat untuk memberhentikan pertengkaran itu.

Ara langsung menahan tangan chika dan mengelus pundak chika. Ia mengerutkan keningnya. "Chik, sabar, sabarrr.."

"Gimana aku mau sabar! Diaa.." chika menunjuk ke arah badrun. "Udah tega nyelingkuhin aku, mana kagak tau diri lagi!"

Ara pun menatap badrun tajam. Langsung menghampiri badrun, "badrun, persaingan kita udah berakhir disini. Lu udah ketangkap basah.. jadi lu gak bakal ada jalan keluar lagi untuk dapatin chika"

Dirinya menatap chika, "udah, chik. Kita pulang aja, biarin dia sengsara dengan sendirinya" ara menarik tangan chika untuk pergi ke mobil dan meninggalkan tempat itu.

°°°

Di rumah chika.
Ara dan chika sedang berada di kursinya masing-masing dengan berdekatan.

Chika, masih terisak dengan kejadian di angkringan tadi. Badannya pun dipeluk ara, pelukan dari ara sangat hangat.

Ara memeluk badan chika seraya mengusap pucuk kepala perempuan itu "Udahh, chik, lepasin aja. Dia pasti bakal sengsara"

"Hikss.. araaa.."

"Duhh! Dia kalo nangis jadi bocil bangett.." batin ara

Ara masih mengusap pucuk kepala chika. "Cup, cup, cupp.. jangan nangis lagi yaa?" Chika mengangguk.

Angin yang sejuk menyelimuti mereka berdua yang sedang berpelukan. Alam dan langit saja sudah merestui mereka, apalagi para readerss.. hahaha anjay slebeww..










Tbc

Kalo ad typo mohon di koreksii yaa

God, i love her 2 [ Completed ]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang