feel weird

581 88 2
                                    

Typo bertebaran di mana-manaa

Authornya minta maaf kalau cerita ini slow up. Karena author lagi ngurusin cerita baru. Nanti bakal author infokan cerita barunya kalau cerita ini sudah end.

Happy reading<3

Ceklek!

Ara membukakkan pintu ruang rawat inap. Rupanya itu Adel. Nampak, hanya Adel yang mengantarkan Vanka. Tidak terlihat Ella dan Ashel.

"Ehh, Adel." Ara menoleh kiri dan kanan. "Mana Ashel sama Ella?"

"Ashel sama Ella mau nungguin di mobil aja. Jadi aku antarin mereka ke mobil aku dulu. Maaf ya, Kak, nunggu lama."

Ara tersenyum. "Gak papa, Dek. Gue gak ngerasa lama kok nungguinnya. Ehh iya, gue juga mau bilang makasih udah mau ngejaga Vanka, keponakan lu."

Adel mengangguk. "Yoii, Kak. Sama-samaa.." ujarnya. "Aku pulang dulu ya, Kak? Kasian kalau Ella sama Ashel nungguin aku lama di mobil."

"Iyaa.. hati-hati di jalan." Adel hanya mengangguk. Lalu ia pergi meninggalkan Ara. Ara membawa Vanka yang berada di kursi dorong ke dalam ruang rawat Vana.

"Dad, kak Vana masuk rumah sakit lagi yaa?" Vanka menoleh ke Ara.

"Iyaa, Kak Vana masuk rumah sakit lagi," sambung Ara seraya menutup pintu semula. "Tapi masih belum sadar. Jadi sabar aja yaa?" Vanka mengangguk.

"Haii, Sayang.." Chika tersenyum lebar menatap Vanka. Vanka membalas senyumannya kepada Chika.

"Hai juga, Mom," Vanka memeluk erat Chika. Chika membalas pelukannya, lalu mengusap lembut pucuk kepala Vanka.

"Aku kapan ya? Bisa balik ke rumah lagi?" Vanka melepas pelukannya. Ara pun duduk seperti semula di sebelah Chika.

"Kata dokter. Kamu udah mulai sembuh, jadi besok udah boleh pulang. Tapi pas pulang ke rumah masih harus minum obat. Makanannya juga di jagaa. Nanti kamu sakit lagi," jelas Ara.

"Iya, Dad. Vanka seneng banget bisa pulang ke rumah besok!" Vanka sangat gembira saat ia mendengar akan pulang ke rumah keesokan hari.

"Tapi ingat apa kata daddy yaa?" Chika mengelus rambut Vanka yang halus.

"Ingat dongg! Vanka kan mau sehat lagi. Biar bisa main-main sama kak Vana, trus Alan dan Alen.." Vanka menoleh ke arah Vana yang masih belum siuman. "Tapi kak Vana kapan sadarnya, mom, dad?"

Ara hanya mengedikkan bahunya, tak tau kapan putri sulungnya sadar. "Entah lah, Vanka. Daddy juga gak tauu."

"Vanka." Chika memanggil Vanka. Sontak, Vanka pun menoleh ke Chika. Menatap mommynya tajam. "Ya, Mom?"

"Kamu makin can—.." seketika Chika merasakan mual. Tangan kanannya menutup mulutnya. Lalu berlari ke arah wastafel yang ada di kamar ruangan itu.

"Huekk.. huekk.." tangan kanannya memegang perutnya. Sedangkan tangan kirinya memegang keran wastafel. Ara panik lalu mendatangi Chika.

Ara mengelus punggung Chika. Takut sesuatu terjadi pada istrinya. "Kamu gak papa, kan?, sayang?"

"Aku gak—.."

"Huekk huek.."

Ara berdecak dan menggeleng kepalanya. "Gak papa, gak papa. Kamu mual muntah gini kamu bilang gak papa?"

Chika masih merasakan mual dan muntah. Seusai mual dan muntah ia membasuh mulutnya. Chika menegakkan tubuhnya. "Aku beneran gak papa, sayang," sambungnya. Badannya sedikit terhuyung.

God, i love her 2 [ Completed ]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang